Sebenarnya teman-teman ini resah dengan dogmatisme-dogmatisme Islam yang begitu keras maka kita kumpul disini mencari bagaimana membuat dakwah Islam yang lunak dan tidak keras dan salah satunya menggunakan unsur seni? Kami mengundang Cak Nun dan Kyai Kanjeng karena sudah kentel unsur seninya dalam bedakwah.

Mbah Nun menjawab

Sampean tadi mengatakan kalimatnya kita gelisah dengan dogmatisme-dogmatisme Islam. Mari kita lihat hidup ini secara multi intelegen, multi warnes, multi analysis. Ketika sesuatu itu harus diterapkan secara dogmatis ya harus dengan dogmatis. Misalnya, Anda menjadi Anda itu dogmatis, Anda menjadi anaknya siapa, Ibu siapa itu dogmatis. Dogma itu penting pada tempatnya yang tepat. Anda laki-laki menjadi laki-laki itu dogmatis. Anda harus taat kepada grafitasi itu dogma. Dogma alam itu jelas, tidak ada pesawat kalau tidak meniru konsep Allah tentang burung. Tidak ada komputer kalau tidak meneruskan matematikanya Allah. 1.0.0.1. Orang hidup itu hanya meneruskan tradisinya Allah. Tidak ada getuk kalau Allah tidak membikin ubi. Kalau kamu beristri istrimu itu dogma. Jangan luwes, kadang istri kadang tidak.

Ketika datang Islam jumlah dogma atau disebut syariat, atau rukun Islam itu di dalam Al Quran jumlah ayatnya hanya tiga setengah persen: syahadat, salat, zakat, puasa, haji. Itu dogmatis. Yang dogmatis itu tidak usah dibantah dan ditawar-tawar lagi. Misal mempertanyakan, kok menyuruh aku salat lima kali? Aku ping pitu arep ngopo koe? Kalau Allah bilang lima kali ya lima kali. Itu namanya ibadah Mahdhoh sifatnya dogmatis dan kita terima atau tidak dengan resiko masing-masing dan tidak usah ditawar.

Rumus ibadah mahdhoh adalah jangan lakukan apapun selain yang aku perintahkan. Sisanya Sembilan puluh enam persen rumusnya adalah lakukan apa saja kecuali yang saya larang. Dogma hanya boleh di tiga setenah persen. Kalau di sembilan puluh enam persen demokrasi. Membuat partai tidak apa-apa, yang haram dibuat mencuri. Dangdutan boleh, yang tidak boleh untuk goyang aurot. Main musik boleh, yang tidak boleh main musik pas jumatan di depan masjid. Dogma itu penting tetapi wilayahnya hanya kecil tetapi itu tidak boleh kita tolak. Kalau istilah modern ada fundamentalisme, ada konservatisme, ada liberalisme, ada moderat, itu semua berlaku di dalam hidup kita. Ada hal-hal yang kita harus fundamental. Ketika kita harus fundamental jangan radikal, jangan moderat, jangan liberal. Seseorang menikah itu konsevatif dan dogmatif tidak liberal. Bidah letaknya di ibadah mahdoh, jika kita mengubah ibadah mahdoh itu namanya bidah.

(Sumber Caknun.com)

Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang.