blank

Dalam Mocopat Syafaat Oktober 2022, Mbah Nun menafsirkan fis silmi kaffah sebagai cara berpikir dan melihat realitas secara utuh. Silmi bermakna segala sesuatu di alam dan kehidupan saling terkait (gathuk), sehingga tauhid berarti mengintegrasikan semua hal dalam satu pandangan utuh. Kaffah diartikan menyeluruh, bukan parsial atau terpecah-pecah. Inilah dinamika pandang yang dimaksud, di mana segala sisi tanpa batasan harus diingat dalam kondisi apa pun (thawaf/ melingkar).

Umat Islam baru saja merayakan Idul Fitri yang merupakan perjalanan rohani menuju kesucian diri melalui aktivitas puasa, tidak sekadar perayaan jasmaniah. Sebagai aspek spiritual layaknya software, Idul Fitri harus dibedakan dengan Hari Raya yang bersifat jasadiah atau hardware. Ketidakmampuan membedakan keduanya menjadi tanda kejumudan peradaban. Nilai sejati Idul Fitri terletak pada pembinaan mental, intelektual, dan spiritual guna mengakses moralitas pribadi maupun sosial, yang membutuhkan sikap saling menghormati, berempati, dan belajar dalam mencari fitrah serta menjadi manusia kaffah.

Intelektualitas, spiritualitas, mentalitas, dan moralitas yang dimiliki manusia seharusnya saling terkait erat. Peningkatan kapasitas intelektual dengan mengasah kecerdasan dan memperluas pengetahuan semestinya membawa dampak positif pada penguatan mental dan peningkatan moralitas. Namun, realitanya seringkali terjadi kesenjangan di mana kemajuan intelektual tidak diiringi kemurnian spiritual dan keteguhan mental, sehingga gagal mewujudkan moralitas sosial sesuai harapan, meski secara intelektual mumpuni.

Di kalangan muslim, fenomena kesenjangan ini kerap terjadi pada pribadi yang brilian secara intelektual tetapi tidak diimbangi kemurnian spiritual dan ketangguhan mental, sehingga gagal memperjuangkan nilai-nilai luhur. Sebaliknya, ada yang berani memperjuangkan kebaikan namun tanpa bekal wawasan intelektual memadai. Bahkan, banyak kerusakan moral dan dekadensi sejarah manusia bersumber dari kalangan terpelajar, menguatkan sikap pragmatis mengunggulkan “kebodohan baik” daripada “kepandaian jahat.”

Dalam konteks ini, puasa fisik hanyalah metode menuju kualitas kejiwaan tertentu yang disimbolkan Idul Fitri, yakni kembali pada kondisi fitrah. Puasa merupakan proses perjalanan mengubah diri yang relevan bagi pelakunya yang berhasil. Sebenarnya puasa berfungsi untuk meraih kemenangan personal dari disiplin dan menemukan kembali nilai-nilai fitri serta kaffah dalam diri. Sayangnya, kematangan pribadi saja tidak serta-merta menjamin keberhasilan menghadapi realitas struktural, sehingga selepas puasa seseorang mungkin merasa utuh secara internal, namun kalah berhadapan dengan sistem-sistem sosial yang bertentangan dengan nilai-nilainya. Kemenangan personal pada Idul Fitri justru menyadarkan kita akan kekalahan struktural manusia secara global di tengah situasi pada umumnya, terutama kalah menghadapi sistem-sistem destruktif ciptaan manusia sendiri.

Berdasarkan prioritas hidupnya, manusia terbagi menjadi manusia jisim (materi), manusia quwwah (penguasaan dunia), dan manusia nur (penyatuan Tuhan). Perbedaan skala prioritas ini mempengaruhi esensi halal bihalal yang biasa dilakukan saat Idul Fitri. Kata “bi” dalam halal bihalal menunjukkan praktiknya dalam konteks hubungan antarmanusia, bahkan dengan Allah dan makhluk lain. Halal bihalal secara horisontal menentukan halal bihalal secara vertikal, di mana seseorang tak memperoleh kehalalan dari Allah sebelum dimaafkan oleh orang yang bersalah kepadanya, karena dosa seseorang terkait “saham” dosa sistemik-struktural orang lain.

Inilah yang mendasari budaya Idul Fitri kaum muslim menggali cara menjangkau pembebasan dosa-dosa sistemik dan struktural, seperti saling meminta-memaafkan, mengirim permintaan maaf, serta mengadakan acara halal bihalal. Tercapainya taqwa menjadi kemenangan spiritual-vertikal karena tujuan manusia adalah menang atas diri sendiri secara vertikal, bukan menang secara horisontal atas orang lain. Dalam konteks Idul Fitri, dengan keridhaan sosial tersebut seseorang menjadi ‘aidun (kembali memiliki integritas halal) sekaligus faizun (menang melawan diri sendiri), memperoleh kemenangan dan keuntungan dalam kriteria Allah.

Puasa merupakan proses perjalanan untuk mengubah diri menuju kondisi fitrah atau kesucian, yang disimbolkan dengan Idul Fitri. Melalui disiplin puasa, seseorang dapat meraih kemenangan personal dengan menemukan kembali nilai-nilai fitri dan kaffah (utuh/ menyeluruh) dalam dirinya. Namun, kematangan pribadi semata tidak cukup untuk menghadapi realitas struktural dan sistem-sistem destruktif di sekitar yang seringkali bertentangan dengan nilai-nilai internal tersebut. Justru di sinilah pentingnya memahami makna kaffah secara lebih mendalam, bukan hanya sebagai kesempurnaan individual, tetapi juga sebagai cara pandang yang mengintegrasikan segala aspek kehidupan dalam satu kesatuan utuh yang saling terkait. Dengan menyatukan intelektualitas, spiritualitas, mentalitas, dan moralitas secara kaffah, manusia dapat mengatasi kesenjangan antara kemenangan personal dan kekalahan struktural, serta mewujudkan kemenangan spiritual-vertikal yakni menang atas diri sendiri sesuai kriteria Allah SWT.