blank

Seberapa pentingkah nasab mempengaruhi nasib? Dalam banyak kondisi dan perilaku masyarakat, nasab punya peran penting terhadap nasib seseorang. Kita bicara sederhana saja, anak petani tidak akan ndakik-ndakik menjadi presiden jika tanpa musabab yang mengantarnya ke singgasana negara. Anak tukang becak yang lulus S3 atau jadi pengusaha lebih sedikit dari anak konglo yang sejak lahir berlimpah harta dunia dan terarah untuk mengelola bisnis. Kasus kedua, kecuali sangat ambisius dan punya tekat sekuat baja mengubah nasib, kemudian membentuk nasab baru dari titik puncak.
Orang-orang yang lahir tanpa privilege cenderung terbatas dalam segala aspek. Baik akses pendidikan maupun ketika terjun ke dunia kerja dan sosial masyarakat. Privilege secara umum hanya dimiliki keturunan orang-orang darah biru dan kaum borju. Atau, mereka yang bertitel panjang di belakang namanya. Sementara menengah ke bawah dengan segala keterbatasan, mendaki perlahan, tertatih, penuh pengorbanan bahkan belum tentu sampai akhir hayat mencapai puncak kemakmuran. Perjalanan mendaki akan sampai pada tujuan atau berhenti di tengah jalan, tergantung tekat dan bagaimana ia mengundang keberuntungan. Faktanya, kerja keras saja tidak cukup. Keberuntungan masih menjadi faktor X dari segala daya upaya. Bisa saja, karena beruntung, karena tahu jalan mendatangkan kecukupan ia menjadi tapak pertama luri yang memudahkan kehidupan keturunannya. Kemudian hari, cerita perjalanan mendaki dari luri-nya menginspirasi kalangan akar rumput.
Orang-orang dengan nasab tinggi secara kebendaan, tidak akan paham perjalanan mendaki. Luri mereka tetap stabil sepanjang tahu cara mempertahankan kemasyhuran itu. Mendaki hanya dilakukan mereka yang punya mimpi besar kendati bermodal dengkul. Terlebih era akhir zaman yang menampakkan perilaku mata satu (materialistik). Mendaki dalam artian memperbaiki taraf hidup menjadi tujuan utama. Atas alasan apapun saja, kita bicara pahit tapi relatable, mereka yang makmur lebih dipandang daripada yang kurang atau tidak. Sementara nilai luhur imaterialis menjadi kenduri orang-orang berlaku jernih, sepi dari pengharapan duniawi. Ya, semoga saja, kita termasuk yang bisa adil dan arif menyikapi perkembangan modernitas dan budaya materialisme. Sekalipun memang, apapun butuh materi, butuh faktor pendukung dan penunjang. Selama akal waras, mendapatkan materi tanpa mengesampingkan norma dan susila, tetap ada jalan mendaki menuju yang ingin dicapai dengan sehat dan slamet.
Pada praktiknya, nasab menyuntikkan efek bagi nasib. Nasab baik dan inggil, unggul adab, jujur, berani dan bertanggung jawab akan menurunkan perilaku ksatria bagi keturunannya. Kalau salah, harus berani mengaku salah dengan menanggung konsekuensinya. Mengerti benar dan kebenaran, mampu menavigasi hidup dengan baik. Perilaku dipengaruhi bagaimana kita menginput data di luar diri dan mengimplementasikannya dalam kehidupan. Kualitas diri. Sebab itu, penting untuk terus belajar mengenali alun kehidupan berapapun angka usia, karena segala sesuatu memiliki pola dan dinamika seiring perkembangan zaman. Moyang kita pada zamannya jauh berbeda perihal konsep, pola dan tata kelola kehidupan dengan era modern. Begitupun tantangan dan ketahanan mentalnya. Dari luri leluhur kita peroleh wisdom, warisan budaya, cerita, pengalaman dan fatwa.
Mari bicara nasab atau luri dari perspektif lain. Kacang manut lanjaran. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Apakah alegori itu sepenuhnya mewakili kebenaran? Bisa ya, bisa tidak. Anak seorang berbakat, mungkin akan menuruni talenta orang tua atau leluhurnya. Anak orang alim akan dilabeli sama alim dengan orang tuanya. Anak orang berpangkat mendapat derajat yang sama di mata masyarakat dengan bapak ibunya. Anak cerdik cendikia menanggung harapan menjadi penerus generasi sebelumnya. Sementara anak atau cucu maling, yang ke mana pun pergi masih dicap sebagai anak maling. Padahal, ia manusia lain yang tidak melakukan pencurian, beda manner, beda karakter. Stigma mengerdilkan esensi “memanusiakan manusia”.
Pengaruh nasab kepada nasib dari kaca mata ekonomi adalah pekerjaan kita saat ini. Alasan paling signifikan apa yang membuat kita memutuskan melakoni pekerjaan ini. Tentu di luar passion dan minat lain. Untuk saya, faktornya masih sama dengan judul, mendaki dari luri. Tidak masalah saya tertatih saat ini, dengan harapan, ke depan anak saya bisa berjalan atau berlari. Mbah Nun pernah dawuh, yang menurut pemahaman saya begini: niatkan penderitaanmu hari ini untuk membayar kebahagiaan keturunanmu kelak. (Mohon maaf jika ternyata kutipan tidak seratus persen pas).
Pungkasan, apabila menginginkan keturunan baik, mulai dari diri sendiri. Karena kelak, generasi menanggung luri pendahulunya.

Sun Kwai Hing Gardens, 30 Oktober 2023