blank

Alam semesta ini bukan hanya sekadar kumpulan benda mati yang diciptakan secara acak, melainkan hasil dari perencanaan dan desain yang cermat. Setiap unsur, bentuk, dan keindahan yang ada di alam semesta ini memiliki tempat dan peranannya masing-masing, yang menggambarkan kebijaksanaan dan keindahan penciptaan Allah. Narasumber pertama pada sesi kedua adalah Gus Aniq, yang membawa wawasan mendalam tentang perbedaan konsep khalaqa, bari’a, sawwara, dan ja’ala dalam konteks penciptaan. Gus Aniq menjelaskan bahwa khalaqa berarti menciptakan secara konsepsi atau rumusan, bari’a artinya menciptakan dalam bentuk tertentu, sawwara adalah menciptakan dalam bentuk yang unik dan indah, sementara ja’ala yaitu menciptakan dengan mengubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Penjelasan ini memberikan gambaran yang lebih kaya tentang kompleksitas proses penciptaan menurut perspektif keagamaan.
Gus Aniq juga menggali alasan di balik penciptaan makhluk oleh Allah. Menurutnya, Allah menciptakan karena keinginan-Nya untuk memiliki teman dan ingin dikenali. Dengan merujuk pada firman Allah yang menyatakan, “Aku adalah pembendaharaan yang samar, maka Aku cinta dikenal”, Gus Aniq menyoroti sifat Allah yang menginginkan hubungan yang erat dengan ciptaan-Nya. Namun, penekanan disampaikan bahwa keinginan ini bukan berarti Allah tidak mampu berdiri sendiri, melainkan sebagai ekspresi dari kasih-Nya yang agung. Dengan uraian yang mendalam dan penuh makna ini, Gus Aniq berhasil memberikan perspektif yang menggugah untuk lebih memahami rahasia di balik penciptaan dan hubungan antara Sang Pencipta dengan makhluk-Nya. Sesuai dengan semangat acara, pemahaman ini tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga membuka ruang untuk eksplorasi dan kontemplasi lebih lanjut tentang misteri kehidupan dan keberadaan.

Gus Aniq melanjutkan sesi dengan membahas peran empat malaikat utama, yaitu Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail dalam menciptakan manusia. Menurut pemahamannya, Allah memberikan tugas dan kesempatan kepada keempat malaikat ini untuk berpartisipasi dalam proses penciptaan makhluk yang unik bernama manusia. Namun, cerita tidak selalu berjalan mulus. Gus Aniq menyampaikan tentang Azazil, malaikat tertua yang merasa iri terhadap keistimewaan penciptaan manusia. Sikap irasional dan tidak logisnya menjadi cermin bagi manusia untuk menjauhi sifat iri dan bersyukur atas keberadaannya. Meskipun malaikat adalah makhluk yang sangat dekat dengan Allah, kelemahan ini mengingatkan kita bahwa setiap makhluk, termasuk malaikat, tidak luput dari ujian dan cobaan.
Pemahaman tentang langit yang memiliki 7 saf dalam bentuk 7 gelembung menjadi poin menarik dalam sesi ini. Gus Aniq memberikan gambaran bahwa manusia, sebagai pusat dan pengelola alam semesta memiliki kedudukan istimewa. Konsep langit dengan 7 lapisan yang saling berada di dalam satu sama lain, seperti gelembung alam semesta yang mengandung misteri dan keindahan, membawa kita pada refleksi akan kebesaran ciptaan Allah.
Pendapat Gus Aniq menyiratkan bahwa kehidupan manusia bukanlah kebetulan semata, melainkan bagian dari desain yang rumit dan penuh hikmah. Manusia diibaratkan sebagai makhluk yang mampu berjalan di permukaan bumi dengan segala keterbatasannya, namun memiliki kemampuan untuk memahami dan mengelola alam semesta dengan penuh kekuatan. Pesan ini mengajak kita untuk merenung tentang tanggung jawab dan peran unik manusia dalam menjaga harmoni alam semesta yang kompleks ini.
Gus Aniq mengajak para jamaah untuk lebih dalam memahami ilmu Allah dengan mengasah rasa kepekaan dan kemampuan membaca alam. Menurutnya, tugas utama manusia adalah terus melatih diri agar menjadi individu yang peka terhadap tanda-tanda kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya. Setiap manusia, kata Gus Aniq, memiliki potensi kerasulan yang bersumber dari jiwa masing-masing, sesuai dengan ayat yang menyatakan bahwa telah datang seorang rasul dari kalangan mereka sendiri: laqad jā’akum rasūlum min anfusikum ‘azīzun ‘alaihi mā ‘anittum ḥarīṣun ‘alaikum bil-mu’minīna ra’ūfur raḥīm(un)”.
blank
Salah satu cara untuk menyamakan frekuensi dengan Allah, kata Gus Aniq, adalah melalui syahadat. Syahadat bukan hanya rangkaian kata-kata, melainkan sebuah ikatan spiritual yang mendalam antara manusia dan Sang Pencipta. Namun, ia juga memberikan peringatan bahwa jika semua ilmu Allah telah terungkap sepenuhnya, maka akan terjadi kehancuran dunia. Hal ini mengisyaratkan bahwa sebagian besar misteri dan kebijaksanaan Allah tetap menjadi rahasia-Nya, dan manusia dihadapkan pada keterbatasan pengetahuan mereka.
Gus Aniq menyentuh aspek spiritual dan fisik manusia dengan menyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat gen/genom yang berisi memori/byte. Selain itu, diri juga memiliki medan magnet yang memainkan peran penting dalam pengaturan energi positif dan negatif. Pemahaman ini menyoroti pentingnya menjinakkan nafsu yang liar agar energi positif dapat mengatasi energi negatif. Gus Aniq menekankan bahwa diri manusia harus peduli terhadap orang lain dan makhluk lain, membangun keseimbangan antara kepedulian pada diri sendiri dan kepedulian terhadap sesama serta alam semesta secara keseluruhan.
Setelahnya, Pak Ilyas membuka sesinya dengan pertanyaan filosofis, “Lukisan mengenai kehidupan yang sedang kita jalani itu menurut siapa, kita sendiri atau orang lain?” Pertanyaan ini merangsang para jamaah untuk merenung tentang pengaruh dan pengendalian dalam membentuk lukisan kehidupan masing-masing. Dalam menjelaskan lukisan kehidupan, Pak Ilyas menyampaikan contoh sifat-sifat yang dimiliki oleh keempat khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali) yang menjadi panutan dalam sejarah Islam. Masing-masing khalifah memiliki keunikan dan kebijaksanaan dalam memimpin umat dan penggambaran ini dianggap sebagai bagian dari lukisan kehidupan umat Islam.
Pak Ilyas memperkenalkan dimensi baru dalam diskusi, mengaitkan lukisan kehidupan dengan karakter dan kepemimpinan keempat khalifah utama dalam sejarah Islam. Ini membawa konteks sejarah yang mendalam ke dalam pembahasan, menyoroti bagaimana sifat-sifat dan kebijaksanaan para khalifah ini dapat dianggap sebagai elemen kunci dalam lukisan kehidupan umat Islam. Pemilihan sifat-sifat ini oleh Pak Ilyas mengilustrasikan bagaimana karakteristik kepemimpinan yang diwariskan oleh para khalifah menjadi bagian dari pandangan hidup umat Islam. Dengan merenung pada kualitas ini, umat diharapkan dapat mengeksplorasi dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam konteks kehidupan sehari-hari mereka.
Pak Ilyas juga menyoroti pentingnya menjalani hidup dengan santai dan tanpa terlalu ngoyo. Pandangan ini menekankan bahwa kehidupan harus dijalani dengan sikap yang seimbang, tidak terlalu terbebani oleh urusan duniawi, dan mampu menikmati setiap momen. Terlalu fokus pada kesuksesan material dapat mengaburkan makna sejati kehidupan. Dengan membahas aspek filosofis dan praktis, Pak Ilyas memberikan pandangan yang menyeluruh tentang bagaimana kita sebagai individu dapat membentuk dan menghayati lukisan kehidupan kita sendiri, dengan inspirasi dari tokoh-tokoh sejarah dan sikap hidup yang santai.
Dengan penuh kebahagiaan, Majelis Masyarakat Maiyah Gambang Syafaat ditutup pada pukul 00.30 WIB dengan lantunan syair shohibu baiti yang merdu dan doa bersama. Walaupun waktu berjalan begitu cepat, semangat diskusi yang berlangsung hari ini akan terus berkobar dalam hati para jamaah. Harapan besar terpancar dari setiap kata yang diutarakan, semoga ilmu dan pengetahuan yang dipetik dari setiap diskusi dan cerita yang disampaikan akan menjadi bekal berharga dalam perjalanan hidup nantinya.
Materi kali ini mengajarkan bahwa Lukisan Asa tidak hanya menjadi kumpulan kata atau karya seni, tetapi juga pintu yang terbuka lebar untuk memahami lebih dalam perjalanan manusia dan memberikan harapan dalam setiap kata. Majelis Masyarakat Maiyah Gambang Syafaat telah menciptakan lukisan yang tak hanya visual, tetapi juga mendalam, merangkai harapan dan inspirasi untuk kita semua. Momen ini adalah lukisan hidup yang tak terlupakan, memperlihatkan bahwa dalam setiap kisah, ada Lukisan Asa yang menanti untuk diungkap.