blank

Puasa berasal dari bahasa Sanksekerta upavasa. Kata upa berarti dekat dan vas berarti hidup. Menurut kalangan spiritualis, kata upavasa berarti hidup yang terbiasa dekat dengan Sang Pencipta melalui doa. Aktivitas yang menyenangkan jasmani seperti makan dan minum sangat bersifat duniawi, sehingga dipercaya cenderung menjauhkan atau melupakan kehadiran Sang Pencipta. Adapun istilah yang berasal dari Al Quran adalah shiyam dan shoum, keduanya dari segi bahasa bermakna menahan. Shiyam adalah menahan diri dari makan, minum, dan berbagai macam hawa nafsu karena Allah sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Sedangkan shoum berarti menahan diri untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya berhak dilakukan.

Selama sebulan berpuasa, para ulama mengelompokkan puasa ke dalam tiga bagian. Masing-masing berlangsung selama periode 10 hari yang memiliki fokus dan pencapaian berbeda. Pada 10 hari pertama, kita berada dalam tahap adaptasi fisik, di mana puasa mengajarkan kedisiplinan pada tubuh. Selama 10 hari berikutnya, kita memasuki tahap puasa yang lebih dalam secara psikologis, di mana kita melatih keteguhan mental dan kejiwaan. Sedangkan pada 10 hari terakhir, kita berharap dapat mencapai puncak spiritualitas, dengan upaya sungguh-sungguh untuk meraih pencapaian rohani, seperti yang dilambangkan oleh Laylat al-Qadr. Ini adalah fase di mana kita berusaha meraih prestasi spiritual melalui ketekunan dan dedikasi yang mendalam.

Media-media saat ini mempengaruhi manusia untuk menjadi konsumtif. Tanpa disadari, pola pikir masyarakat cenderung mengikuti keinginan daripada kebutuhan. Sebagaimana disampaikan dalam banyak ajaran, kerusakan berasal dari hawa nafsu. Saat seseorang terjebak dalam siklus kerakusan, mereka kehilangan kendali atas diri sendiri. Mereka mungkin terjerumus dalam perilaku merugikan diri sendiri dan orang lain, karena keinginan yang tidak terpenuhi bisa mempengaruhi penilaian mereka. Sayangnya, berkenaan dengan hal ini, mayoritas muslim di Indonesia sering menghabiskan uang untuk makanan berlebihan, bahkan di luar bulan puasa.

Sebenarnya, puasa mengajarkan manusia untuk menemukan keseimbangan dan kontrol dalam kehidupan. Dengan menahan dari keinginan sesaat, kita dapat melatih diri untuk menjadi lebih sabar, lebih disiplin, dan lebih sadar akan kebutuhan yang sesungguhnya. Hal ini membantu kita untuk tidak terjebak dalam konsumerisme berlebihan dan pencarian kesenangan instan yang sering kali hanya membawa penderitaan jangka panjang.

Mbah Nun pernah menggambarkan dengan ilustrasi betapa uniknya ibadah puasa ini dibandingkan dengan model-model ibadah lainnya dalam hubungannya dengan dunia. Dalam sholat, kita melakukan interupsi sejenak terhadap dunia, saat takbiratul ihram kita menghentikan sementara hubungan sosial untuk berkonsentrasi mendengarkan Sang Pencipta. Interupsi ini berakhir saat kita mengucapkan salam, menandakan kesiapan kita untuk membawa pesan damai kepada lingkungan sekitar. Dalam zakat, sebaliknya kita mencari dunia untuk sebagian harta kita, agar nantinya dapat didistribusikan kepada saudara-saudara yang berhak menerimanya. Ketika berhaji, kita benar-benar memutuskan hubungan dengan dunia. Kita meninggalkan kampung halaman dan keluarga, dengan mengenakan kain putih sederhana kita menjawab panggilan ilahi untuk pergi ke tanah suci tanpa membawa atribut dunia. Namun ketika berpuasa, dunia tetap ada di depan mata kita, tetapi kita dilarang untuk menyentuhnya.

Pesan moralnya adalah bahwa saat dunia datang dengan segala kemewahan dan godaannya yang menggoyahkan prinsip-prinsip hidup dan idealisme kita, puasa telah menanamkan pada diri kita ketangguhan mental untuk mengendalikan diri terhadap godaan-godaan tersebut. Pandangan bahwa hidup harus bergerak cepat, tetapi tidak boleh mengabaikan kebijaksanaan untuk berhenti, merupakan paradigma yang penting. Dalam falsafah Jawa, terdapat konsep laku sak madya atau bertindak dengan secukupnya, tidak berlebihan atau kurang, sehingga dengan memahami batasan dan proporsinya, kita dapat menempatkan hal-hal dengan tepat pada tempatnya.

Tema Kasatmata Puasa yang akan diangkat dalam Majelis Ilmu Gambang Syafaat Maret 2024 menunjukkan paradoks bulan Ramadhan di mana seharusnya kebutuhan beras dan barang-barang dapur akan berkurang dibandingkan bulan di luar bulan Ramadhan karena sebagian besar muslimin akan berpuasa di siang hari. Namun, mengapa ketersediaan dan harga bahan pokok di bulan Ramadhan ini justru mengkhawatirkan? Apakah konsumsi kita menjadi berlipatganda selama bulan Ramadhan? Lalu, apa fungsi puasa jika pada akhirnya tidak ada keinginan yang mampu ditahan? Pun jika ada lapar, haus, dan hawa nafsu yang ditahan, apakah agar semata kita terlihat berpuasa?