Pada sebuah forum bertema Pegelaran Budaya Islam di UGM, seorang mahasiswa bertanya. “Tahun 2008 terjadi resesi dunia. Yang sekarang diprediksi menjadi kekuatan dunia setelah Amerika Serikat itu adalah Brasil, Afrika Selatan, Cina, dan India. Kenapa dalam prediksi itu tidak ada Negara yang berlatar beakang Islam? Mengapa Islam tidak diprediksi kembali lagi menjadi peradaban yang gemilang?”

Mbah Nun merespon

Mbah Nun sebagaimana biasanya selalu banga dengan manusia Indonesia. Ia selalu membesarkan hati orang Indonesia. Mungkin memang kepercayaan diri adalah hal yang menjadi hal yang paling krusial pada diri bangsa kita. Karena tidak percaya diri maka potensi-potensi yang lain menjadi tidak muncul. Maka pada forum itu Mbah Nun menjawab.

“Saya kok tidak begitu tertarik dengan terminologi dan kategori seperti itu. Yang maju dan tidak maju itu kan menurut pikiran mereka. Saya punya teori sendiri. Kita disebut Negara berkembang, kita disebut negera terbelakang, lha kami tidak akan mengikuti kamu kok. Kita tidak ingin mengejar Amerika kok. Apanya yang ampuh dari Amerika? Wong mereka membedakan antara Indonesia dan Bali saja tidak bisa. Yang maju itu ya manusia Indonesia, kalau negaranya biar saja tidak maju. Manusia Indonesia tidak ada lawan. Hidup di dalam penderitaan bisa, hidup dalam kebodohan mampu. Orang Indonesia tidak bisa diapa-apain. Orang Indonesia itu untuk bahagia tidak tergantung duitnya. Di sini itu tidak dapat uang malah tertawa cekakakan.”

Begitu jawab Mbah Nun yang tentu saja disambut dengan gelak tawa hadirin. Yang perlu kita cermati adalah kata ‘panutan’ dan ‘mengikuti’. Amerika dan negara-negara maju itu menganggap bahwa diri mereka yang paling bagus dan pantas diikuti. Padahal kita punya panutan sendiri. Amerika yang megangungkan kebebasan itu bukan lah contoh yang baik. Ukuran etika yang mereka terapkan berbeda dengan etika yang kita junjung. Negara maju yang kita impikan adalah Negara yang adil dan beretika sesuai ukuran kita sendiri. Kalau sebagai Umat Muhamad, ya masyarakat Indonesia yang maju adalah yang mempraktikan Islam dengan benar dan sungguh-sungguh.

“Anda jangan percaya tentang kategori peradaban baru karena itu geng. Anda kira PBB itu serius? Itu cuma satu geng satu jaringan, hadiah nobel itu juga cuma jaringan, itu cuma kolusi internasional, hadiah oscar juga hanya jaringan. Orang Islam itu memang tidak boleh maju menurut mereka. Jadi kalau Islam maju mereka tidak senang. Menurut mereka Islam itu harus miskin, harus kumuh, harus bodoh, harus kampungan. Tidak apa-apa mereka menganggap kita begitu, kita diam-diam menikmati kekayaan kita.”

Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang.