Sembilan tahun lalu merupakan awal perjalananku untuk sementara tinggal di Jogja, pada waktu itu aku tinggal di daerah Nologaten (belakang amplaz) karena memang mencari tempat tinggal yang dekat dengan Kampus agar dapat ditempuh dengan jalan kaki (lompat pager lebih cepat dan memang belum punya kendaraan). Pada waktu itu penghuni kosan mayoritas adalah kakak tingkat di Kampus, sering kali ketika lagi nongkrong di pak Oke (Angkringan depan Kos kosan) mereka membicarakan tentang pengajian yang diisi oleh Cak Nun, waktu itu belum kenal Maiyah dan dalam hati aku berpikir mungkin semacam pengajian rutin malam jumatan di daerah ku.

Waktu pun berlalu, singkat cerita dua tahun kemudian aku memutuskan untuk cuti kuliah dahulu dikarenakan sudah keterima di sebuah perusahaan Kapal Pesiar. Seperti biasa di waktu senggang ketika sebelum tidur aku menonton video ataupun youtube yang ada di smarthphoneku, tiba-tiba terlintas kata Cak Nun dalam pikiran ku dan seketika itu pula aku browsing di youtube, awalnya hanya iseng-iseng meluangkan waktu untuk melihat dan menjadi teman hingga kuterlelap tertidur.

Hari-hariku masih melakukan aktifitas bekerja seperti biasa, namun mulai ada gejala-gejala aneh yang muncul dalam pikiranku, hingga suatu ketika datang seorang temanku dan berkata padaku “why are you laughing? are you crazy” dan ku balas hanya dengan senyuman. mungkin yang terbersit dalam pikiranya aku sudah mulai gila karena tujuh bulan kerja tanpa hari libur hingga aku tersenyum-senyum sendiri (sistem kerja di Kapal Pesiar tidak ada hari libur kecuali untuk yang sakit). Sejak saat itu tiada hari tanpa Maiyah walaupun hanya lewat smartphone dan sering tertidur ketika mendengarnya.

Liburan merupakan moment yang sangat ditunggu-tunggu oleh pelaut seperti kami, dikarenakan kami memiliki waktu dua bulan untuk melepaskan kepenatan dan kerinduan dengan keluarga setelah delapan bulan berkerja tanpa libur. Akan tetapi liburan saat ini terasa berbeda, seperti liburan yang ditunggu-tunggu, namun masih samar, masih tidak jelas apa yang membuat perasaan excited ini, seperti sudah saatnya melepaskan kerinduan yang lama terpendam. namun kerinduan terhadap apa atau siapa? hingga akhirnya waktu liburan pun tiba dan aku meyempatkan diri untuk datang ke Jogja untuk kumpul sinau bareng di Mocopat Syafaat, dan di situ baru mengerti ternyata banyak simpul-simpul maiyah yang lain salah satunya adalah Gambang Syafaat.

Tak terasa waktu liburan hampir berakhir, H-3 sebelum keberangkatanku kembali ke Negeri Paman Sam aku menghadiri Gambang Syafaat bertepatan dengan membawa tema “Berdaulat dengan diri sendiri”. Mungkin hal tersebut adalah sebuah kebetulan namun dari sudut pandangku seperti sebuah petunjuk yang nyata sehingga terdapat gejolak batin yang besar, seakan terombang-ambing oleh keraguan apa aku harus kembali lagi ke Negeri tersebut.

Hari keberangkatan pun tiba, akhirya aku kembali mengarungi samudra dengan kapal tanpa layar. Gejolak batin masih terus berlanjut hingga akhirnya aku memutuskan keberangkatan ini adalah yang terakhir, keputusan tersebut merupakan hal kecil yang kulakukan, meskipun banyak orang yang menentang dan berpikir keputusan yang tidak masuk akal. Jika dilihat dari segi materi memang tak sebanyak waktu dulu, dan mungkin orang-orang berpikir itu adalah sebuah penderitaan (akupun juga begitu, kadang terbersit “nopo ndadak kenal maiyah barang”). Namun tujuan yang sejati dalam hidup ini bukanlah materi sehingga tidak ada yang perlu disesalkan (kecuali nak pas kelingan). Semenjak saat itu banyak sekali keputusan-keputusan dalam hidup ini yang diambil berdasar kan nilai-nilai yang dapat diambil dari maiyah. Sekian. Terima kasih.

Jamaah Maiyah