blank

Pada suatu hari di tahun 2005, seorang remaja melihat kover majalah Hai di sebuah kios majalah langganan. Di kover majalah tersebut terdapat personel dua band yang seolah sedang berkelahi. Headline-nya tercetak besar dan cukup jelas—yang kurang lebih tertulis–, “Samsons vs Letto: Baru Muncul Langsung Disuka”. Headline yang mampu membuat remaja itu penasaran.
Bagi dia, Samsons bukanlah band yang asing. Sering sekali dia mendengarkan lagu-lagunya. Bahkan, ada beberapa lagu Samsons yang remaja itu telah hafal dan suka. Lalu bagaimana halnya dengan Letto!? Band apa lagi itu!? Yang mana lagunya!? Majalah Hai bukanlah majalah sembarangan pada zamannya. Kalau majalah tersebut sampai berani memversuskan Samsons dengan Letto, maka yang ada di benak remaja itu adalah setidaknya lagu-lagu Letto sama enaknya dengan lagu Samsons.
Hingga akhirnya pada suatu pagi sebelum berangkat sekolah, remaja itu untuk pertama kalinya tak sengaja mendengar lagu Letto yang berjudul Sampai Nanti, Sampai Mati yang diputar di televisi. Intro dari keyboard, alunan rythm di tengah lagu, dan mas-mas dengan rambut ikal sebahu dan berkupluk membuat remaja itu berhenti sejenak, khusyuk mendengarkan hingga tuntas lagu itu. Untuk pertama kali dalam hidupnya, remaja tersebut ngefan dengan sebuah grup band Indonesia.
Waktu terus berlalu. Lagu Letto semakin sering didengarnya. Sandaran Hati, Ruang Rindu, hingga yang berbahasa Inggris semisal Truth, Cry, and Lie. Remaja itu akhirnya tahu bahwa vokalis Letto bernama Noe dan beliau merupakan putra dari Emha Ainun Nadjib. Fakta yang kedua tak penting bagi remaja itu karena saat itu dia belum tahu siapa Emha Ainun Nadjib. Baginya yang terpenting adalah dia mulai menemukan kenikmatan dalam mendengarkan musik yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
Remaja itu perlahan menapak fase kehidupan yang baru. Nasib membawanya meninggalkan kampung halaman untuk beranjak ke Surabaya di tahun 2008. Banyak hal yang berubah, namun tidak dengan hobinya mendengarkan lagu Letto. Pada suatu sore, seorang teman yang mengetahui tentang hal itu mengajaknya untuk menonton konser Letto di Balai Pemuda. It’s a trap! Ternyata itu bukan konser Letto, namun BangbangWetan. Tak ada Letto di BangbangWetan malam itu. Namun, di momen itulah pemuda tersebut bertemu langsung dengan Emha Ainun Nadjib, ayah Noe Letto, di acara yang kini kita kenal dengan sebutan “Maiyahan”.
Wow… Dari yang awalnya merasa dijebak, menjadi merasa mendapat anugerah. Ya! Alur kehidupan manusia memang penuh misteri. Awal dari segala proses sinau bareng pemuda tersebut akhirnya dimulai. Maiyahan demi maiyahan. Sinau bareng dari Surabaya hingga ke pedalaman dusun terpencil. Hingga tak dinyana, pada tahun 2011 saat persiapan konser Hati Matahari di Surabaya, pemuda tersebut untuk pertama kalinya bertemu langsung dengan idolanya, Noe Letto. Bukan hanya bertemu, bahkan beliau duduk di sebelah pemuda tersebut dan mengajak untuk udud bareng. Peh… Tercenung pemuda tersebut setelah menyadari siapa sosok yang justru mengajaknya ngobrol duluan.
Sejak pertemuan pertama itu, terlalu panjang kalau harus menceritakan persentuhan-persentuhan berikutnya. Jalan hidup yang membuat pemuda tersebut aktif di BangbangWetan dan Buletin Maiyah Jawa Timur (BMJ), membuatnya sering bertemu, mewawancarai, sekadar ngobrol santai, hingga berdiskusi tentang suatu hal yang serius dengan idolanya itu. PS: sejak fase ini, pemuda itu mulai memanggil idolanya dengan panggilan Mas Sabrang, tak lagi Noe Letto. Hehe…
Ada dua momen yang paling diingat pemuda itu dengan Mas Sabrang hingga saat ini: Pertama. Pada 2016 saat Mas Sabrang membaca transkrip hasil wawancaranya yang kemudian dituliskan di BMJ edisi Mei 2016. Mas Sabrang memarahi pemuda itu karena menurutnya banyak hal yang sebenarnya inti, justru tak ditulis. Beliau akhirnya mengajarinya untuk menelaah tentang bagaimana memilah mana yang primer dan sekunder. Kedua. Pada 2017 saat pemuda itu bertemu dalam sebuah pertemuan di Bandung. Lagi-lagi Mas Sabrang memarahinya karena banyak hal yang perlu dibenahi dari manajemen simpul pemuda itu.
Terlepas dari dua hal di atas. Pasca marah, Mas Sabrang banyak memberikan banyak masukan yang sangat berharga bagi pemuda tersebut. Semua demi kebaikan bersama. Marahlah justru karena cinta agar kita maju bersama. Dan yang terpenting, Mas Sabrang merupakan pintu yang harus dilewati pemuda itu sebelum masuk ke luasnya semesta ilmu-ilmu Maiyah dan paseduluran tanpa tepi.
Sugeng ambal warsa yang ke-44 tahun, Mas. Kalau bukan karena Letto, mungkin hingga sekarang pemuda itu tak akan bertemu dengan ilmu Maiyah dan sedulur Jamaah Maiyah semuanya. Jangan bosan untuk memarahinya. Aku rapopo 😉