blank

70 tahun silam di Jombang, Jawa Timur lahir anak ke-4 dari 15 bersaudara. Kelak dia akan menjadi orang besar, punya cara pandang, pola pikir dan gaya hidup egaliter, kebersamaan sebagai sesama umat manusia di bumi dan terbentuk suatu komunitas di masyarakat. Dan masyarakat populer menyebutnya dengan sebutan Maiyah.

Ya beliau adalah Emha Ainun Nadjib alias Cak Nun. Seiring bertambah usia, masyarakat kini menyebutnya Mbah Nun. Sosok yang dalam perjalanan hidupnya pernah menyandang gelar “Kiai Mbeling”, karena pernyataan / komentar / protesnya kadang nyeleneh atau beda dengan yang lain. Saya yakin pernyataan beliau tidak asbun, asal bunyi, karena setidaknya beliau pernah nyantri di Pondok Pesantren Modern Gontor, tiga tahun. Tentu ada ilmu dan pemahaman dasar yang didapat dari mondok. Kalau Mbah Nun ngomong “tempe” misalnya. Bisa jadi maknanya beda dengan tempe dalam artian umum, dalam artian saya dan dalam artian kita. Bisa bermakna majas, perumpamaan atau analogi. Jadi perlu ada rethink, berpikir ulang di memori otak kita setiap mendengar pernyataan beliau. Ada “terminal”, ada ruang di akal dan hati kita. Tidak masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Apalagi ada yang menyebut Mbah Nun sebagai “sufi” (baca tasawuf). Realitas di masyarakat kadang juga kita menemukan sosok sufi yang perilakunya berbeda dengan kebanyakan orang.

Selain mondok di Gontor, Mbah Nun pernah mengenyam pendidikan di SMA Muhammadiyah I Yogyakarta. Mampir di Fakultas Ekonomi UGM, walau satu semester. Pada 1970-1975 menggelandang, kuliah di Malioboro, Yogyakarta. Di situ belajar sastra pada sosok guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi. Nanti di sekitar tahun 2001-2002 an (awal-awal berdiri Maiyah Kenduri Cinta Jakarta) ada lelaki kurus bertanya pada Mbah Nun seputar apakah setiap orang bisa membuat puisi. Lalu dijawab beliau, bisa. Lelaki kurus itu adalah saya sendiri.

Dalam dunia pewayangan kita mengenal sosok Gatotkaca, Antareja dan Antasena. Spesifikasi Gatotkaca adalah bisa terbang ke langit, Antareja bisa menembus ke bumi dan Antasena bisa kedua-duanya. Bisa terbang dan bisa ngurek tanah. Reputasi, kiprah, jalan panjang, karier Mbah Nun sudah kita tahu. Dari lingkungan pejabat pemerintah, pengusaha, partai politik, kampus, sekolah, pesantren, LSM hingga dusun-dusun sunyi sudah Mbah Nun sambangi untuk melakukan pencerahan, dialog sosial, problem solving di tengah masyarakat. Dalam dunia ceramah dan pengajian umum ada istilah mubaligh kelas nasional / atas, menengah dan bawah / tingkat desa atau kecamatan. Mungkin karena kiprah Mbah Nun tidak atas tidak bawah, sehingga membawa Mbah Nun punya sebutan “Sang Antasena”. Artinya seluruh segmen masyarakat bisa beliau sentuh. Bisa melangit bisa membumi.

Pada era Reformasi 1998 ada istilah populer di masyarakat yaitu lengser keprabon madeg pandito. Itulah tahun Soeharto (Pak Harto) turun tahta dari presiden RI setelah berkuasa 32 tahun. Setidaknya Mbah Nun -bersama tokoh-tokoh nasional Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Nurcholis Madjid (Cak Nur), Ali Jafie, Malik Fadjar dll- sudah melakukan dialog mencari jalan terbaik, problem solving di tengah masyarakat. Dan hasilnya adalah Soeharto lengser, menyerahkan jabatan presiden. Juga ada istilah populer, ora patheken (tidak masalah). Maksudnya tidak masalah, kata Pak Harto saat itu. Setidaknya juga Mbah Nun bersama penyunting Haidar Yahya dan Ahmad Fuad Effendy sudah membuat buku renungan dan ajakan “Ikrar Khusnul Khotimah Keluarga Besar Bangsa Indonesia” yang diterbitkan Hamas (Himpunan masyarakat sholawat) dan Padhang mBulan. Cetakan pertamanya Februari 1999.

Tahun terus bergulir, waktu terus berjalan. Era setelah Reformasi 1998 sepertinya Mbah Nun punya “ladang” baru yaitu sholawatan ke segenap penjuru. Bersama gamelan Kiai Kanjeng (KK) menghibur, sholawatan, nembang, sinau bareng, ngemong kita semua terasa bertambah asyik dan mesra. Hingga Desember 2006 Mbah Nun telah mengunjungi lebih dari 22 provinsi, 376 kabupaten, 1.430 kecamatan, 1.850 desa di seluruh pelosok Nusantara Indonesia. (Demokrasi laa roiba fih , hal.82). Melakukan perjalanan ke Finlandia dalam acara Amazing Asia dan Culture Forums atas undangan Union For Christian Culture. Juga tour ke Mesir, Malaysia, Brunei Darussalam, Inggris, Jerman, Skotlandia dan Italia.

Saya lahir di kampung kecil, desa Mandiraja kecamatan Moga kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Perlu diketahui bahwa kecamatan Moga memiliki 10 desa yaitu desa Sima, Banyumudal, Mandiraja, Plakaran, Walangsanga, Gendowang, Moga, Kebanggan, Pepedan dan Wangkelang. Jauh-jauh hari saya sudah punya pandangan dan pemikiran bahwa kultur masyarakat seputar kecamatan Moga sepertinya tidak bisa menerima sepak terjang, gaya dan capaian kehidupan Mbah Nun. Apalagi untuk mengundang beliau. Tapi ternyata pandangan dan pemikiran saya keliru dan salah, terbukti 28 Agustus 2022 Mbah Nun dan KK tampil di lapangan desa Sima disambut dengan antusias dan semangat masyarakat. Dengan antusias dan semangat pula gue mesti pulang kampung -saat itu- untuk melihat penampilan Mbah Nun dan KK, karena saya tinggal di Jakarta. Demikian pula ketika 4 Oktober 2022 Mbah Nun + KK sinau bareng di Banyumudal saya melakukan hal yang sama.

Episode Sima dan Banyumudal itu menjadi inspirasi saya menulis secuil tulisan “Trilogi Doa” di Instagram. Maksudnya adalah untuk wilayah kecamatan Moga, Mbah Nun dan gamelan Kanjeng pertama tampil di desa Sima kemudian di Banyumudal, semoga yang ketiga adalah di desa Mandiraja.

Selamat milad , sehat, panjang umur, berkah dalam hidup Mbah Nun.

-Kotu, Jakarta 27 Mei 2023-