blank

Kapan seseorang pasrah? Dan untuk apa pasrah itu? Saya akan memulai cerita ini dengan sebuah cerita tentang sebuah keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera. Keluarga baru, memiliki anak laki-laki menjelang dua tahun. Keceriaan keluarga itu kemudian redup. Kabar buruk menghampiri bertubi-tubi. Pertama anaknya sakit, ternyata sakitya tidak main-main. Tumor otak. Mula-mula ia dan istri masih memiliki sedikit kesombongan. Memilih di rumah sakit yang baik dengan kelas kamar yang baik juga. Ternyata kabar buruk tidak berhenti sampai di situ. Sang anak harus operasi dengan biaya yang tidak baen-baen. Setelah operasi sang anak boleh pulang. Dia harus rawat jalan. Kabar datang lagi, ternyata si tomor tumbuh lagi. Berangkatlah ia bersama istri ke rumah sakit lagi. Tetapi tidak lagi di rumah sakit yang kemarin. Uangnya sudah ludes dalam waktu dua minggu.

Ia mau tidak mau harus ke rumah sakit masyarakat yang untuk masuk harus antri. Menunggu ruang kosong harus tiduran di lantai, diterpa tampias hujan. Itupun harus bebarengan dengan enam pasien dalam satu kamar dengan penyakit yang masyaallah macam-macam. Itulah kenyataan. Tuhan menghadirkan kenyataan di depan mata dan kita tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima. Kesadaran sebagai makhluk yang lemah karena kekuasaan yang dipinjamkan oleh Allah itu telah dirampas kembali.

Kepasrahan itu hadir. Lalu kepasrahan itu apa? Kepasrahan adalah berserah diri. Kehadiran kepasrahan itu lebih gampang jika manusia sudah tidak bisa mengandalkan dirinya. Ia sudah tidak memiliki kekuatan diri. Kepasrahan menjadi nyata. Akan susah bagi seseorang untuk pasrah jika dia masih memiliki kekuatan diri. Meskipun ada orang yang bisa pasrah tanpa dipaksa oleh Tuhan. Agama mengajarkan dan menyeru untuk itu.

Ada ungkapan, berpuasalah sebelum dipuasakan oleh Allah. Maksudnya berserahdirilah, kendalikanlah dirimu sebelum dipaksa oleh Allah untuk berserah diri dan pasrah. Bukankah kita tidak perlu dikondisikan oleh Allah untuk mengakui kebesarannya? Tetapi kalau memang harus begitu, pun kita harus bersyukur.

Ada cerita lagi, tentang seseorang yang tiba-tiba memiliki hater (pembenci). Si pembenci ini kerap mengolok-oloknya di media sosial dengan kata-kata yang kasar. Dia tidak tahu sebabnya, mengapa si pembenci itu melakukannya. Ia merasa tidak punya salah, juga tidak pernah berhubungan sebelumnya. Kemudian muncul angan-angan dari seseorang ini. Ia berangan-angan, mengandai-andai. Seandainya dia punya kuasa, punya kenalan banyak, punya uang banyak akan aku telpon bos si pembenci itu untuk memecatnya dari pekerjaannya. Seandainya aku punya teman jagoan akan aku suruh dia untuk mendatangi dan membantingnya.

Begini, seseorang itu tiba-tiba terkesiap, ia memiliki kesadaran baru. mungkin ini sebab Allah tidak memberinya kuasa yang lebih, uang yang banyak karena jika benar ia memiliki kuasa dan uang yang banyak pasti perilaku buruk berupa memecat si pembenci dan memukuli si pembenci sudah ia lakukan. Tuhan membatasi dan hanya pasrah yang bisa dia lakukan. Kemudian muncul kesadaran pada diri seseorang itu, “Tidak perlulah marah, saya dihina wong saya memang bukan orang suci. Tidak perlu marah pula dibodoh-bodohkan karena memang saya bukan orang pandai. Kepandaian dan kesucian hanya milik Allah.” Betapa indahnya pengondisian Allah.

Mari membuka khasanah Jawa tentang pasrah. RMP Sosrokartono melantunkan: Trimah mawi pasrah. Suwung pamrih, tebih ajrih. Langeng tan ana susah, tan ana seneng. Anteng mantheng sugeng jeneng. Ikhlas dengan apa yang sudah terjadi, menerima dan pasrah dengan apa yang akan terjadi.

Kira-kira artinya begini: menerima disertai kepasrahan. Meniadakan atau senyap akan pamrih dan jauh dari rasa takut. Senyap tidak ada kesusahan pun tidak ada senang berlebihan. Tenang penuh daya dan manfaat.

Syair ini tentu saja sangat terkait dengan hubungan manusia dengan Tuhannya, hubungan manusia dengan sesamanya. Pasrah dan menerima kepada siapa jika tidak kepada Allah? Sebuah kecintaan yang sejati tidak mengharapkan apa-apa selain rindho Allah. Sesama makhluk di alam semesta dihubungkan dan berhubungkan hanya karena Allah. Maka ketakutan akan menyingkir. Demikian pula dengan kesedihan dan kebahagiaan (yang melupakan Allah). Tenang tumakninah, sakinah dan memberi manfaat.

Ketenangan itu muncul dari Allah dan melalui jalan apa saja, jika dengan uang seribu kita bisa tenang mengapa kita meminta uang satu juta tetapi tidak tenang. Sebenarnya kita meminta tenang atau meminta uang?

Di dalam shalat juga terdapat tenang; tumakninah. Suatu ketika Syaikh Nursamad Kamba ditanya, “Lebih penting mana gerakan-gerakan shalat seperti rukuk sujud atau tumakninah?”

Beliau menjawab, “Benarkan dulu sujud rukukmu maka tumakninah akan tercapai. Ketenangan tercapai dari pikiran yang pasrah terlebih dahulu. Pikiran yang pasrah menata gerakan salat yang tidak grusa-grusu sehingga tumakninah akan tercapai.”