blank

Tulisan ini untuk sedulur-sedulurku Maiyah, anggap saja ini rerasan sesama muridnya Mbah Nun. Begini, menurut saya bahasan, tanggapan mengenai orang-orang yang mencemooh guru kita, kita sudahi saja. Kita mesti konsentrasi lagi menapak ke depan, mengayuhkan kaki untuk sinau hidup, bergandengan tangan untuk mencari ridhanya Gusti Allah, menjadi umatnya Kanjeng Nabi Muhammad. Bukankah itu yang diajakkan Mbah Nun kepada kita?

Kita tidak didorong untuk mengidolakannya, bahkan beliau menolak menjadi guru kita. Seperti yang beliau katakan berulang-ulang di setiap forum, jangan jadikan saya penghalangmu untuk bercengkerama dengan Allah dan Rasulullah.

Jika Mbah Nun mengajak kita yang aneh-aneh tentu kita sudah pergi dari dulu-dulu. Jika kita diperalat, suruh mbayar ini-itu misalnya kita sudah kabur. Jika beliau mengambil keuntungan dari kita murid-muridnya tentu kita sudah cabut dari dulu.

Sedulurku mari kita pikir-pikir, kita ini berkumpul karena apa, untuk apa? Apakah kita berkumpul karena dikumpulkan sebagaimana partai politik mencari masa untuk kampanye? Apakah kita melihat pada diri Beliau adalah orang mencari pengikut? Di setiap acara sering kali kita datang, menempuh perjalanan ratusan kilometer dengan biaya sendiri demi ketemu, mendengarkan apa yang beliau sampaikan. Beliau mengajak kita mencintai Allah dan Rasulullah, menegakkan paseduluran, mengajarkan cara berpikir yang benar, menyingkap tipu daya dan pemanfaatan atas kita.

Apakah kita pernah melihat ada mobilisasi massa di acara-acara setiap malam yang dihadiri ribuan orang? Mereka datang-datang sendiri, pulang-pulang sendiri, bawa bekal sendiri. Jadi tuduhan bahwa beliau mengambil massa dari organisasi tertentu itu omong kosong. Tuduhan semacam ini hanya muncul dari orang yang mencari pengikut dan mencari massa. Dia ukur Mbah Nun munggunakan bajunya. Ya bedalah.

Orang yang berpikiran luas juga akan memandang sesuatu dengan pandangan luas. Ia tidak mengukur dakwah hanya sekedar mencari pengikut, mengumpulkan massa, dan mencari berkat atau penghidupan dari dakwahnya. Jika misalnya dia melakukan hal demikian, janganlah itu ditrap-trapkan ke orang lain.

Tidak-tidak Maiyah tidak begitu. Maiyah itu tidak menganggap da’i sebagai profesi. Dakwah adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Di Maiyah kita diajarkan untuk tandur, menanam. Karena dengan menanam kita akan menghasilkan sesuatu. Kita memproduksi. Tetapi setelah menanam kita disuruh untuk poso, puasa. Kita disuruh untuk ngempet, menahan, berhati-hati. Setelah itu kita dihimbau untuk shodaqoh, memberi, berbagi atas yang kita miliki.

Dan memberi itu dicontohkan oleh Mbah Nun. Setiap saat beliau menghujani ilmu kepada kita, duduk berjam-jam sepanjang malam. Sehari bisa pindah tempat hingga tiga-empat forum. Setiap hari pasti ada tulisan yang muncul melalui caknun.com baik itu daur maupun tajuk.

Laku tandur, poso, shodaqoh itu menghindarkan kita dari perilaku nggragas. Nggragas itu ngemplok apa saja. Memakan apa saja. Ketika kita nggragas maka bahaya akan ada di belakang kita. Kita akan dapat dikendalikan oleh pihak lain. Kita kehilangan kemerdekaan untuk berpendapat, kehilangan kebebasan untuk melangkah.

Dengan puasa kita bisa jernih melihat sesuatu. Kita mampu menempatkan mana emas mana loyang, mana yang perlu ditinggikan dan mana yang harus kita campakkan. Yang kelihatannya kuning bersinar belum tentu emas. Poso itu menahan diri, hati-hati. Kita menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu meskipun sebenarnya kita berkesempatan untuk melakukan hal itu. Misalnya saja kita diberi uang oleh seseorang untuk mengubah pendapat kita, untuk mengubah statement kita dengan imbalan tertentu, jika kita poso maka hal itu tidak kita terima. Dan puasa itu menjadikan kita umat yang bertaqwa.

Kita memang sering dibuat kaget dengan pandangan beliau yang menabrak arus pandangan umum. Itu karena beliau mampu melihat menelusup melihat sesuatu yang tersembunyi. Sebuah pandangan umum yang sudah didesain sedemikian rupa. Pandangan umum itu menuntun kita untuk mengiyakan, mengangguk, dan mengamini. Arus pandangan umum dengan desain dan agenda-agenda jahat itu harus dihancurkan dipecahkan meskipun resikonya dicemooh, dihina. Itulah pengorbanan (shodaqoh) guru kita.

Mari kita tidak kehilangan konsentrasi untuk tetap memangku Indonesia dengan jiwa yang besar, pandangan yang luas dengan tetap tandur, poso, dan shodaqoh.