Kalau kita mendengar kata batin, hampir tidak mungkin kita melupakan kata lahir. Oleh karena perihal batin adalah hal yang tidak teramati, maka merumuskannya bisa dengan cara memperjelas apakah sesuatu itu lahir atau bukan. Jika sesuatu teryata bukan kategori lahir maka kita masukan sesuatu itu ke kategori batin.

Mari kita coba merumuskannya, apakah itu lahir apa itu batin. Jangan dulu mengejar dengan pertanyaan, bukankah tidak ada dualisme? stop! itu pembahasan yang lain. Mari kita fokus mencoba mentadabburi lahir dan batin, sebagai kategori.

Orang akan bersepakat bahwa sesuatu yang lahir adalah sesuatu yang tampak, bisa diindera oleh salah satu panca indera. Sesuatu yang bisa dilihat oleh mata, dicium oleh hidung, didengar oleh telinga, dirasa oleh lidah, dan diraba/ditabrak oleh kulit, kita simpulkan bahwa itu lahir.

Perang adalah peristiwa setidaknya dua “kutub” yang saling ingin mendominasi. Kalau ada informasi bahwa di Ukraina, sedang terjadi perang , kita akan percaya jika panca indera kita mengetahuinya. Kita percaya bahwa pernah terjadi perang 10 November 1945 di Surabaya, karena kita tahu meski dari orang lain bahwa itu secara lahir memang terjadi. Itulah Fakta. Maka perang Ukraina, perang 10 November adalah perang lahir.

Bagaimana dengan perang batin? Untuk menjelaskan itu, kita perlu memunculkan kata nyata. Nyata adalah jenis “ada” yang lain selain fakta. Nyata adalah “ada” yang engkau meresponnya atau memberi dampak/efek. Perang Ukraina adalah sebuah fakta, tetapi sepanjang engkau tidak mendapatkan efek/dampak, dan engkau tidak meresponnya, itu tidak nyata bagimu.

Ketika ada peluru Rusia nyasar ke rumahmu, dan mledos, barulah fakta perang menjadi nyata. Atau jika gara-gara perang Ukraina engkau memikirkan pacarmu yang cantik yang tinggal di Kiev Ukraina, lalu engkau tidak bisa tidur, kemudian melakukan upaya penyelamatan ikut berperang mendukung Ukraina, maka perang Ukraina menjadi nyata.

Pun demikian perang batin, Perang batin adalah perang yang terjadi karena ada sesuatu yang engkau respon atau engkau terdampak. Secara individu, saat seseorang mengambil keputusan besar dalam hidupnya, biasanya terjadi perang batin. Dan adakalanya yang lahir dimulai dari yang batin. Kalau engkau jatuh cinta kepada cewek, engkau gundah, degdegan, salah tingkah. Jatuh cintamu adalah nyata bagi dirimu, tapi itu belum menjadi fakta untuk orang yang engkau cintai sebelum engkau lahirkan, misalnya dengan nraktir.

Puasa bisa didekati dengan cara pandang perang batin, nafsu kita sadari, kita respon dan dengan sadar kita memenejnya. Puasa adalah menyadari ada dorongan-dorongan, dan kemudian dengan sadar juga kita memeranginya. Apakah dorongan-dorongan itu nyata? Kita bisa mengabaikannya atau kita tidak menyadarinya. Puasa adalah perang batin, kenyataan yang dialami setiap pribadi.

Gambang Syafaat edisi bulan ini mencoba menyelami perang batin apa yang telah kau tempuh selama puasa-puasa sepanjang hidupmu

Redaksi GS (Em A.F)

Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.