Gambang Syafaat
Gambang Syafaat

Sebagian besar teman jagongan saya, mengatakan bahwa tahun-tahun belakangan ini adalah tahun di mana kopi pahit rasanya sangat manis, bahkan cenderung kecut. Banyak di luar sana yang harus dilarikan ke rumah sakit karena terkena diabetes usia dini, bahkan sampai mencret-mencret keracunan kopi pahit. Fenomena ini membuat saya berpikir bahwa kopi pahit ini bukan hanya membuat maag saya kambuh tapi juga membuat pikiran menjadi stress. Saya takut kalau nanti banyak yang bunuh diri gara-gara kopi pahit. Nyatanya kopi pahit tidak salah apa-apa. Saya juga masih hidup walaupun sedikit kembung. Tapi setelah itu saya menikmati lagi kopi pahit itu dan saya masih baik-baik saja. Saya bahagia menikmati setiap hidangan kopi pahit di hidup saya.

Mosok sampai harus dilarang meminum kopi pahit hanya karena sebagian orang tidak menikmati? Mosok sampai harus memberhentikan produksi kopi pahitnya? Mosok sampai harus ada wanti-wanti dilarang minum kopi pahit? Kalau memang harus ada seperti itu, Yuk Jum bakul kopi pahit di pertigaan jalan dekat rumah, disuruh jual apa? Padahal bakat Yuk Jum memang bikin kopi pahit. Disuruh jual kolak pisang juga tidak mungkin , karena modal yang dimiliki juga hanya bisa dibuat untuk beli kopi, tidak cukup kalau harus beli gula. Apalagi harga gula sering sekali naik.
Gara-gara fenomena kopi pahit sampai percakapan di warung kopi Yuk Jum kala itu tidak bisa dihentikan. Padahal seharusnya kita mendiskusikan mengenai santunan yang akan dilakukan warga kepada Cak Supri yang sering kali bersih-bersih mushala tanpa sama sekali ada imbalan yang diberikan kepadanya. Mushala desa terpencil seperti yang ada di rumah kami tidak memiliki struktur pengurusan bahkan kas mushola. Maka dari itu kita berinisiatif untuk membantu sedikit Cak Supri, sebagai bentuk terimakasih warga terhadap dia.

Berbicara mengenai Cak Supri, dia adalah seorang warga Dusun Jati Arjo yang bekerja sebagai buruh tandur. Dia juga seorang bapak yang harus terpaksa menghidupi empat anaknya yang masih kecil-kecil dengan hanya mengandalkan cangkul dan keahliannya sebagai tukang. Kadang dia dipanggil tetangga untuk membenahi atap bocor atau sekedar merenovasi kamar mandi tetangga yang mulai retak kramiknya. Sudah hampir dua tahun ini Cak Supri ditinggalkan oleh istrinya, karena kalau orang desa bilang “Katut wong sing luwih mapan sandang, papan lan pangane”.

Cak Supri adalah seorang ayah yang tetap berjuang untuk menghidupi anak-anaknya walaupun dengan hasilnya yang pas-pasan sampai hanya untuk makan nanti sore saja dia tidak tau harus pakai lauk apa lagi, karena saat itu dia sedang tidak ada pekerjaan menjadi tukang. Tidak jarang saya melihat anak-anaknya di sore hari saat Cak Supri bersih-bersih mushola, dan saya tidak sengaja mampir ke rumahnya untuk melihat keadaan mereka, mereka hanya bisa makan nasi dengan lauk krupuk atau bahkan garam. Terlepas dari itu semua, Cak Supri tetap seorang ayah atau bapak yang bertanggung jawab terhadap anak-anaknya.

Berbicara mengenai hidup Cak Supri di tempat kopian memang tidak ada habisnya. Bahkan apabila saya harus membayangkan diposisi dia, mungkin saya tidak sekuat itu. Mungkin saya akan meminta tolong ke saudara-saudara saya atau minimal minta belas kasihan dari tetangga dekat saya. Cak Supri memang beda. Hidupnya anti ngemis-ngemis selagi dia masih bisa berusaha, dia tidak akan semudah itu minta bantuan. Disisi lain, dia adalah seorang jamaah rutin di Mushola, bagaimana tidak, kebersihan mushola saja dia yang jamin kok. Imbalan bukan hal yang dicari cak Supri, karena Mushola sama sekali belum dapat membayar beliau. Kadang saya dan para tetangga juga tidak habis pikir dengan hidup yang sedang beliau jalani sekarang. Dimana semua orang sangat iba terhadap hidupnya, tapi justru mungkin cak Supri menikmatinya.

Berbicara tentang istri cak Supri, dia adalah seorang penyanyi panggung, bisa dibilang Biduan. Entah bagaimana cara Cak Supri pada akhirnya bisa bertemu dengan mbak Nunik yang akhirnya juga bisa diperistrinya.Disisi lain juga mbak Nunik yang bisa mau dengan cak Supri yang dulunya hanya seorang supir truk tebu yang akhirnya di PHK karena pabrik gula tempatnya bekerja tidak bisa beroperasi kembali. Semua ini tidak berlangsung sesingkat yang dikira, pernikahan mereka berjalan lumayan lama sekitar sepuluh tahun hingga mereka mempunyai empat buah hati dan pada akhirnya mbak Nunik memilih untuk pergi bersama orang lain.

Sebenarnya kisah hidup Cak Supri ini sangat unik, bahkan Cak Prapto dan Cak Roni setuju dengan apa yang saya katakan ini. Semua yang ada di hidup Cak Supri, membuat kita malam itu di kopian sadar dan menyimpulkan bahwa, Pertama; cak Supri salah satu orang dari seribu yang tetap bertahan meski kopi pahit sedang melanda di musim ini, bahkan dia harus sering mengonsumsi kopi pahit itu untuk bertahan hidup. Kedua; Cerita hidup Cak supri ada banyak versinya di luar sana. Bukan hanya sedang dicicipi oleh Cak Supri, bahkan tanpa sadar mungkin sedang berlaku pada hidup kita, tapi datangnya dengan versi yang lain. Hanya saja, kita terlalu menikmati segelas kopi pahit ini sampai kita tidak menyadari bahwa apa yang sedang berlaku pada hidup kita sekarang, jauh lebih pahit dan getir dirasa.

Alhamdulillah diskusi kopian malam itu bisa di akhiri dengan habisnya setiap gelas kopi pahit dan roti goreng yang dibuat oleh yuk Jum. Cukuplah, Kopi pahit dan Cak Supri mengajarkan kita bahwa dilanda musim apapun kalau selama kita tidak berharap kopi pahit kita menjadi kopi susu yang manis, kita tidak akan mules atau bahkan keracunan oleh segelas kopi pahit.

Sampai di sinilah Cak Supri telah berhasil mengajarkan kita banyak hal. Dari tidak pernah menyerah berjuang untuk anak-anaknya, bahkan harus merelakan istrinya pergi dan masih senantiasa membuka pintu rumahnya apabila istrinya ingin kembali. Cak Supri tetap nimbrung dengan warga-warga lain saat tahlil, yasinan, gotong royong, membenahi atap rumahnya yang sering kali bocor bahkan sesekali juga ikut ngopi pahit di kopian dengan menyumbangkan sedikit guyonan-guyonan dinginnya.

Layaknya musim yang silih berganti selalu menghantui kehidupan manusia. Seperti itulah kehidupan selalu berjalan. Sepahit-pahitnya kopi yang sedang kau minum, dia akan tetap membuatmu kuat jika kau menikmatinya dengan Bismillah dan tak berharap dia akan berubah menjadi segelas anggur. Terimakasih Cak Supri. Berkat kopi pahitmu, kita sadar bahwa sekarang kita sedang menikmati nikmatnya Musim kopi kita masing-masing.

Sarjana Sastra, lahir dan tinggal di Pasuruan jawa Timur.