Hidup adalah perjalanan panjang menuju kepada sang pencipta. Dalam hidup kita akan melewati beberapa fase dari kelahiran sampai dengan kematian dan kebangkitan. Pada setiap fase kehidupan kita akan mengalami banyak tantangan dan cobaan yang akan membuat kita menjadi lebih dewasa.

Pada dasarnya kita menjalani kehidupan ini seperti tarikan dan hembusan nafas. Namun kadangkala kita harus menahan nafas sejenak untuk mengontrol kondisi yang sedang berlangsung. Karena dalam setiap nafas kehidupan kita membutuhkan banyak keputusan untuk mengambil langkah yang tepat.

Hidup bukan hanya urusan makan, minum, dan tidur. Hidup adalah urusan bagaimana kita bisa bertahan dan berkembang dari setiap tarikan nafas. Maka dari itu kita harus mempunyai jiwa survive yang tinggi dan kemampun beradaptasi yang cepat. Jika kita kalah dengan diri kita sendiri, sudah barang tentu kita akan menjalani hidup yang kurang bermakna dan penuh penyesalan.

Emha Ainun Nadjib atau akrab disapa Cak Nun atau Mbah Nun pernah mengatakan “setiap hari kita adalah baru” yang menunjukkan bahwa kita harus terus bergerak dan beradaptasi disegala bentuk keadaan. Kita setiap saat melewati tiga masa yaitu masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Hal tersebut terjadi secara cepat dan tidak dapat kita hindari. Seperti halnya kita merokok, hal yang pertama dilakukan adalah menyalakan korek, kemudian meghisapnya dan mengeluarkan asap yang kita hisap tadi. Tiga kejadian tersebut sudah menunjukkan kita berada pada tiga masa yaitu masa lalu adalah ketika kita menyalakan rokok, masa sekarang adalah ketika kita menghisap rokok, dan masa akan datang adalah ketika kita mengeluarkan asap yang dihisap tadi.

Dari hal tersebut kita bisa meneliti dan menggali lebih dalam tentang hidup. Kita adalah manusia baru setiap saat karena setiap perjalanan yang kita lalui akan menemukan hal yang berbeda dan cara kita menghadapinya pun berbeda. Mlungsi merupakan cara untuk menjadi manusia baru setiap saat. Mlungsungi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan bergantinya kulit seperti ular. Namun jika kita menelusuri lebih dalam dan mencoba menelaah dan meresapinya mlungsungi adalah cara manusia menanggalkan jiwa yang kotor untuk menjadi jiwa yang baru. Bisa dimaknai juga sebagai proses menyelesaikan persoalan yang dihadapinya untuk menjadi manusia yang fresh dan tanpa beban.

Proses mlungsungi diri tidak terjadi sekejap mata. Seperti halnya ular, mlungsungi diri akan terjadi secara bertahap dan membutuhkan waktu yang cukup panjang. Pada proses ini, kita akan dihadapkan dengan bermacam situasi yang akan membuat kita menjadi lebih baik jika kita mampu melewatinya dan mengambil makna. Mlungsungi bisa juga diartikan proses pendewasaan diri karena disetiap perjalanan hidup pasti akan menghadapi masalah dari yang kecil sampai besar, dari yang remeh sampai membuat kita putus asa dan kadangkala mebuat kita berpikir untuk mengakhiri hidup. Sikap yang kita ambil dalam menghadapi masalah tersebut menunjukkan seberapa dewasa kita. Maka dari itu, mlungsungi menjadi penting dalam perjalanan hidup manusia.

Keberhasilan dalam proses mlungsungi akan berimplikasi tidak hanya kepada diri kita sendiri, namun juga pada lingkungan bahkan masyarakat secara luas. Mlungsungi yang menghasilkan diri yang dewasa yang artinya mampu menempatkan hal sesuai porsinya akan berdampak pada cara kita menyikapi realitas yang terjadi sekarang ini. Ketika kita melihat hal yang janggal dan tidak biasa kita bisa mengambil sikap yang tepat. Selain itu, kita akan lebih tenang dalam mengahadapi segala situasi dan kondisi serta cepat beradaptasi dengan medan yang dihadapi. Implikasi mlungsungi tersebut akan menciptakan suatu transformasi diri dan lingkungan masyarakat yang signifikan jika benar-benar berhasil dalam melakukannya.

Mahasiswa UIN Walisogo Semarang semester empat, berasal dari Grobogan, sejak dari MA kelas tiga mengikuti maiyah sampai sekarang.