Mlungsungi merupakan idiom bahasa jawa yang bermakna menanggalkan cangakang yang lama dan menumbuhkan cangkang yang lebih indah. Biasanya, kata ini digunakan pada hewan yang berganti kulit seperti ular atau berubah bentuk seperti kupu-kupu. Idiom mlungsungi ini, jika dikaitkan dengan bahasa ilmiah dan lebih akrab ditelinga orang awam, mungkin bisa disebut metamorfosis atau prosses berubah bentuk menjadi suatu yang lebih baik. Pada intinya, mlungsungi merupakan proses perubahan yang terus menerus menuju suatu yang baru dan lebih baik.

Dalam masyarakat maiyah, mlungsungi agaknya menjadi suatu yang sering terdengar akhir-akhir ini. Mbah Nun, selaku sosok penting Maiyah mempopularkan idiom mlungsungi menjadi suatu drama teater lintas generasi yang penuh makna. Masyarakat maiyah memahami bahwa mlungsungi adalah suatu perubahan yang ada dalam diri dengan membuang suatu yang buruk dan menumbuhkan suatu yang baik, sehingga output dari mlungsungi adalah melahirkan diri yang lebih baik dari sebelumnya.

Nampaknya, mlungsungi merupakan hukum alam yang diciptakan Tuhan kepada makhluknya. Proses perubahan yang terjadi pada binatang seperti ganti kulitnya ular, perubahan kepompong menjadi kupu-kupu, proses perubahan bunga menjadi buah, dan lain sebagainya. Belum lagi, jika disimak peradaban manusia yang dinamis, selalu berubah dari zaman tradisional hingga zaman modern seperti sekarang ini, semua itu terjadi karena berjuta kali manusia mengalami mlungsungi untuk menjadi lebih baik. Namun, mlungsungi tak serta merta terjadi begitu saja, butuh kemauan besar dan kecerdasan dalam bermuhasabah diri.

Tuhan berfirman Innallaha laa yughoyiru maa bi qoumin hatta yughoyiru maa bi anfusihim, manusia merupakan makhluk yang merdeka atas dirinya sendiri dan memiliki kedaulatan penuh atas hidup mereka. Oleh karena itu, perubahan menjadi lebih baik merupakan kesadaran dan tekad yang harus dimiliki manusia untuk mlungsungi, tanpa ada kesadaran dan muhasabah diri maka mlungsungi tidak akan pernah terjadi.

Berbicara tentang mlungsungi merupakan suatu proses yang dapat ditempuh dengan jalan yang beragam. Beberapa orang untuk mengalami mlungsungi mereka menempuh jalan rasionalisme, melalui logika baik dan buruk, bermanfaat atau merusak, bernilai estetik atau bernilai jelek dalam melihat realitas kehidupan, sebagian orang bisa mlungsungi dengan jalan ini. Seperti seorang yang sudah mengetahui teori mengemban amanah sebagai pemimpin itu berat, maka diperlukan kesadaran untuk bersungguh-sungguh dalam mengemban amanah tersebut. Rasionalisme merupakan logika berpikir yang menjadi sarana untuk mlungsungi untuk menjadi lebih baik.

Beberapa orang yang lain mlungsungi karena empirisme yang sudah pernah mereka lalui, sehingga memiliki kesadaran untuk mlungsungi. Seperti seorang yang sudah pernah mengalami patah hati, maka dia memiliki kesadaran dan perubahan dalam manajemen diri agar tidak mudah sakit hati karena patah hati. Empirisme merupakan pengalaman yang sudah dilalui oleh manusia sehingga manusia bisa menilai baik dan buruknya pengalaman yang dialami. Sering kita dengar kalimat, “Pengalaman adalah guru terbaik” hal tersebut representasi dari emperisme sebagai sarana atau jalan untuk mlungsungi.

Tak sedikit juga orang yang mengalami mlungsungi dengan dua jalan tersebut, rasionalisme dan empirisme yang menjadikan dasar untuk melakukan perubahan dalam diri kearah yang lebih baik. Sesungguhnya, mlungsungi bukan hanya kesadaran diri dalam menghadapi realitas maupun permasalahan yang bersifat eksternal saja, melainkan juga tentang kepandaian dalam bermuhasabah diri atau melihat kedalam diri.

Pada akhirnya, berbagai jalan menuju mlungsungi bermuara pada laut hidayah yang diberikan oleh Tuhan dalam hati manusia. Rasionalitas dan empirisme hanya merupakan suatu perantara untuk menuju hidayah yang diberikan Tuhan kepada para hambanya, sehingga tercipta kesadaran menjadi diri yang lebih baik dari sebelumnya. Mlungsungi merupakan momentum pemberian hidayah dari Tuhan kepada hamba-Nya untuk menuju cahaya terang benderang menjadi insan kamil. Oleh karena itu, pupuk kesadaran dalam diri untuk muhasabah dalam rangka mlungsungi menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari.

Muhammad Nabhan Fajruddin, merupakan mahasiswa UIN Walisongo Semarang yang juga aktif dalam mengikuti Maiyah Gambang Syafaat Semarang sejak 2019. Penulis lahir di Pekalongan, 6 Novermber 2000, yang memiliki motto ”Man Jadda wa Jada.” Penulis juga aktif dalam menuulis berbagai isyu sosial dan keagamaan di www.kompasiana.com/nabhanfjr sudah ada 13 tulisan yang ditulis dan 6.260 pembaca dalam media tersebut. Penulis juga baru saja menyelesaikan S.1 PAI dengan menulis skripsi berjudul “Pendidikan Akhlak Menghargai Perbedaan Melalui Learaning Community di Maiyah Gambang Syafaat Semarang”