Ilmuan barat menyebut manusia dengan julukan “hewan yang berpikir”, menurutnya yang membedakan manusia dengan hewan adalah pikirannya. Hewan yang hanya menggunakan insting serta naluri untuk bertahan hidup dan melampiaskan hasrat seksualnya saja. Sedang, manusia bisa mengontrol insting dan naluri dengan menggunakan pemikiran. Sehingga, budaya hanya lahir dari manusia saja, hewan tidak memiliki budaya, karena hewan tidak memiliki pikiran yang digunakan untuk menjalani kehidupan berkehewanan.

Sejatinya, budaya merupakan hasil pemikiran manusia yang diejawantahkan kedalam perilaku, seni, dan lain sebagainya. Jika, berbicara budaya maka hulunya adalah dari pemikiran manusia yang kemudian disepakati secara kolektif pada berbeagai macam kelompok masyarakat. Suatu budaya mencerminkan pemikiran dari setiap individu, jika individu memiliki pemikiran yang bernilai keindahan dan kemaslahatan, maka budaya yang lahir akan demikian. Sebaliknya, jika indivdunya memiliki pemikiran yang buruk dan egois, maka budayanya akan demikian. Oleh karena itu, muncul keberagaman budaya yang ada di setiap segmentasi kehidupan sosial, dan masyarakat sering membanding-bandingkan budaya satu dengan yang lain, sehingga muncul istilah “budaya tanding.”

Budaya tanding adalah dua idiom yang memiliki makna yang berbeda yakni, budaya dan tanding. Budaya adalah hasil pemikiran manusia yang dimanifestasikan dalam berbagai semua yang melekat pada kehidupan sehari-hari. Sedangkan, tanding merupakan suatu yang saling bertolak belakang. Jadi, budaya tanding merupakan hasil pemikiran manusia yang bertolak belakang antara suatu kelompok masyarakat satu dengan yang lain.

Yang terlintas dalam pikiran ketika mendengar budaya tanding, mungkin berorientasi pada budaya barat ataupun apa saja produk yang dibawa oleh globalisasi. Pro dan kontra bermunculan tentang budaya tanding yang masuk ke Nusantara. Kubu pro menganggap budaya tanding dari globalisasi dan modernitas merupakan suatu yang memiliki manfaat dan memudahkan aktivitas manusia dalam berkehidupan, seperti gadget, internet, dan teknologi. Sedangakan, kubu kontra menganggap globalisasi dan modernitas merupakan suatu yang merusak budaya lokal dan memberikan dampak yang buruk pada perilaku manusia sekarang ini dengan budaya hedonisme serta berbagai budaya yang dibawa dari dunia barat.

Sesungguhnya Tuhan menciptakan perbedaan-perbedaan, yaa ayyuhan naasu Inna kholaqnakum min dzakarin wa untsa wa ja’alnaakum syu’uban waqobaila li ta’arofu. Bahwa perbedaan laki-laki dan perempuan, perbedaan bangsa dan suku yang memiliki produk pemikiran yang berupa budaya di tugaskan oleh Tuhan untuk lita’arofu satu sama lain. Sebagaimana yang disampaikan Mbah Nun, “Maiyah adalah upaya saling mengenal atau lita’arofu antar berbagai perbedaan yang ada di masyarakat.”

Budaya tanding yang datang dan berkembang tak selamanya membawa keburukan, bahkan budaya tanding perlu ada dalam tatanan sosial kemasyarakatan. Melalui budaya tanding memberikan sudut pandang, pemikiran, dan gagasan lain tentang sesuatu hal yang disebut budaya. Walaupun, dalam budaya tanding menimbulkan pro-kontra dan konflik yang ada di masyarakat. Namun, masyarakat perlu kedewasaan dalam menyikapi budaya tanding yang muncul, agar tercipta kebenaran kolektif yang hadir dan memiliki kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Manusia merupakan makhluk sosial yang memiliki kecenderungan berkelompok, ditambah lagi manusia memiliki kecenderungan selalu berubah atau mlungsungi. Budaya tanding hadir sebagai suatau hal yang menjadikan manusia mlungsungi untuk terciptanya keharmonisan dan kemaslahatan yang terjalin dalam kehidupan di dunia. Kedewasaan menghadapi heterogenitas dalam budaya tanding harus tertanam dalam setiap manusia. Dalam hal ini, Maiyah dengan kebersamaannya merupakan upaya menjalin lita’arofu antar budaya yang berbeda, sehingga merubah stigma budaya tanding menjadi suatu yang membangun kehidupan bermasyarakat jika dihadapi dengan bijak.

Muhammad Nabhan Fajruddin, merupakan mahasiswa UIN Walisongo Semarang yang juga aktif dalam mengikuti Maiyah Gambang Syafaat Semarang sejak 2019. Penulis lahir di Pekalongan, 6 Novermber 2000, yang memiliki motto ”Man Jadda wa Jada.” Penulis juga aktif dalam menuulis berbagai isyu sosial dan keagamaan di www.kompasiana.com/nabhanfjr sudah ada 13 tulisan yang ditulis dan 6.260 pembaca dalam media tersebut. Penulis juga baru saja menyelesaikan S.1 PAI dengan menulis skripsi berjudul “Pendidikan Akhlak Menghargai Perbedaan Melalui Learaning Community di Maiyah Gambang Syafaat Semarang”