Februari tahun lalu Gambang Syafaat telah mengusung tema ‘Waspada Kata’, tanpa disengaja di edisi 25 Februari 2020 GS kembali mengangkat tema dengan awalan waspada yaitu ‘Waspada Mata dan Telinga’. Apa yang perlu diwaspadai dari mata dan telinga? Seberapa besar bahaya mata dan telinga? Bagaimana upaya untuk mengendalikannya?

Suluk Rampak Pertiwi membuka pertemuan dengan penampilan yang menghibur. Grup musik dari UIN Semarang tersebut berhasil membawakan lagu pembuka untuk menghidupkan semangat jamaah. Di dalamnya diselingi vokalisasi puisi dan paduan alat musik tradisional & modern.

Waspada diartikan sebagai bentuk kehati-hatian terhadap satu bentuk ancaman tertentu. Ancaman ini dapat datang melalui mulut, tangan, kaki, mata, telinga dan alat tubuh manusia lain. Khusus mata dan telinga, keduanya cukup sering mendapatkan ancaman dari luar yang bersifat destruktif atau merusak. Setiap saat banyak tontonan dilihat, banyak suara didengar. Televisi, radio, dan media sosial menjadi bagian pintu masuk informasi menuju mata dan telinga. Puasa menjadi salah satu bentuk kewaspadaan yang diajarkan dalam islam. Orang berpuasa adalah orang yang berwaspada. Berhati-hati dengan apa yang dimakan, dilihat, didengar dan diperbuat.

Maiyah bukan organisasi formal melainkan organisme. Gus Aniq membuka prolog terhadap tema. Menurutnya pemikiran organik menjadi kunci penting untuk menjaga mata dan telinga. Sebenarnya tanpa sadar orang-orang maiyah sudah dan terus belajar untuk dapat mengelola informasi yang beredar di sekitar mereka. Menganalisa setiap berita yang didapat. Merespon secara santai dan tidak berlebihan. Tidak mudah ‘kaget’ dengan berita-berita yang sedang menjadi trending topic. Orang maiyah diajarkan untuk tidak mudah terprovokasi terhadap apa yang dilihat dan didengar.

Ana wong salah. Salahe seketika kui thok. Padahal apike bertahun-tahun. Mosok sing dieling-eling mung kesalahane thok? Kui kan kurang ajar,” ucap Gus Aniq. Respon atas banyak kasus di mana seseorang hanya menilai orang lain dari satu sudut pandang saja. Ketika ada seseorang yang telah melakukan ribuan kebaikan dan kebetulan melakukan satu kesalahan, maka ribuan kebaikan tadi seolah hilang tanpa bekas.

Manusia diharuskan bersyukur atas semua nikmat yang dimiliki. Caranya dengan melihat ke dalam dirinya. Mempelajari dan mensyukuri atas apa yang sudah dimiliki. Dalam ungkapan Jawa disebut ‘Sapta Mandala’. Filsafat tersebut sudah diterapkan oleh orang timur.

Malam itu ada konsep ‘pancingan’ menarik yang diberikan Gus Aniq terkait pendengaran dan penglihatan. Bumi ini terbagi atas dua waktu. Waktu siang dan malam hari. Fungsi pendengaran lebih banyak dipakai saat malam dan penglihatan cenderung digunakan ketika siang hari. Menariknya, orang nusantara lebih lekat dengan malam. Berbeda dengan orang barat yang lebih melekat dengan siang. Bagaimana penjelasannya?

Beliau bertanya pada jamaah, “teori yang didapatkan dari ilmu fisika, lebih banyak didapatkan atas fenomena malam atau siang?”

Jika dikaji ulang dan sedikit memutar waktu kembali di bangku sekolah dulu, banyak teori fisika barat yang didapatkan dari fenomena siang. Ada teori gerak, teori kalor, teori gelombang, teori optik & cahaya dan masih banyak lagi. Banyak teori fisika yang dominan dihasilkan saat fenomena siang dibandingkan malam hari. Hal ini bisa dijadikan rujukan dasar untuk membuat hipotesa bahwa orang barat lebih cenderung mengandalkan penglihatan dibandingkan pendengaran.

Sementara orang-orang timur, mbah-mbah kita memiliki sejarah berbeda. Pendengaran orang-orang nusantara lebih peka. Bahkan mereka tidak hanya mengandalkan telinga untuk mendengar, melainkan hati. Mereka meyakini dan tentu saja sudah membuktikan bahwa hati juga mampu melihat, mendengar dan merasakan.

Berdasarkan uraian sederhana tersebut, Gus Aniq juga berpendapat bahwa pembelajaran yang cocok untuk orang-orang nusantara adalah mendengarkan. Strategi pembelajaran yang didominasi dengan cara mendengarkan sudah diterapkan sejak zaman dahulu. Oleh karenanya banyak sekali karya orang-orang timur yang berbentuk cerita seperti dongeng, fabel atau hikayat.

Tidak seperti pembelajaran modern saat ini yang mulai kehilangan ‘kepercaayan diri’ sehingga berkiblat pada sistem pembelajaran barat. Misalnya penggunaan model pembelajaran modern seperti cooperative learning, problem based learning, project based learning, atau sejenis yang menuntut anak lebih aktif dibandingkan gurunya. Secara tidak sadar model pembelajaran tersebut secara halus akan mengarahkan murid untuk berani membantah guru. Sebelum si murid mendengarkan penjelasan guru sampai selesai dan belum diberi kesempatan berbicara, si murid diajarkan untuk berani menyanggah guru.

“Kita sudah kehilangan ciri-ciri negara berkembang,” ucap Pak Ilyas. Sekian banyak ciri negara berkembang di antaranya: kumpul, gotong royong dan kegiatan sosial lain. Bangsa Indonesia lebih senang jika diberi label ‘negara maju’ oleh dunia barat. Masyarakat kita mulai takut jika tidak diakui oleh dunia.

Beliau mengambil contoh kasus wayang. “Apakah jika wayang tidak diakui UNESCO, kita tidak lagi main wayang? Berati goblok!” Seru Pak Ilyas dengan nada dan ekspresi bercanda. Diikuti tawa dari jamaah.

Pak Ilyas berpendapat bahwa Indonesia harus percaya diri dengan apa yang dimiliki. Tidak perlu mendengar komentar dunia. Diakui atau tidak, asalkan yang dilakukan baik maka harus tetap dilakukan. Sebaliknya, jika tidak baik maka harus berani untuk dihentikan atau diperbarui, contohnya peringatan beberapa hari besar di Indonesia. Peringatan hari Kartini sering diperingati dengan puncak hanya berupa ‘kartininan’. Anak-anak sekolah mulai TK, SD, SMP, SMA bahkan mahasiswa diarak berkeliling jalan dengan mengenakan blangkon, kebaya dan perlengkapan pakaian tradisional lain.

Ketika hari kemerdekaan Indonesia, sering diselenggarakan lomba yang kurang sesuai dengan makna kemerdekaan sendiri. Lomba makan kerupuk dan lomba memasukkan bolpoin ke dalam botol menjadi dua contoh lomba yang masih ‘ambigu’ dalam segi makna. Nilai apa yang didapatkan dari lomba makan kerupuk? Memasukkan bolpoin ke dalam botol? Budaya-budaya tersebut masih turun temurun sampai sekarang. Tidak ada generasi yang mencoba merubah atau menginovasinya. Orang maiyah harus berani tampil beda di tengah masyarakat. Melakukan inovasi baru yang lebih baik untuk menciptakan sesuatu yang orisinil dan bermakna.

Terkait dengan tema, beliau mengajak jamaah untuk melihat dari sudut pandang berbeda. Ada tiga tahapan penciptaan Nabi Adam ketika Allah meniupkan ruh ke dalam tubuhnya. 1. Allah meniupkan ruh ke kepala (memiliki simbol akal), 2. Allah meniupkan ruh ke dada (memiliki simbol hati), 3. Allah meniupkan ruh ke dalam perut (memiliki simbol syahwat). Artinya ada tiga bentuk pengelolaan kepemimpinan yang bisa dipilih oleh manusia. Kepemimpinan akal, hati atau syahwat. Akal dapat bertugas mengendalikan hati dan syahwat yang tidak memiliki batasan. Hidup tidak hanya sebatas tentang melihat dan mendengar. Kolaborasi antara akal, hati dan syahwat diperlukan untuk mencapai kehidupan sejati. Jika salah satunya mati atau dominan maka akan berbahaya.

Pembelajaran seorang manusia di dunia dimulai sejak dalam kandungan. Berdasarkan hasil riset yang dipercayai Pak Ilyas, saat janin di kandungan berusi empat bulan dia sudah bisa mendengar. Dalam pandangan islam, di waktu itulah Allah meniupkan ruh dan mengadakan perjanjian. Meskipun setelah lahir Allah menjadikannya lupa atas perjanjian yang telah dilakukan.

Kembali pada konsep pembelajaran dalam kandungan. Bayi sudah bisa memiliki kepekaaan terhadap rangsang berbentuk suara. Ada banyak konsep untuk mendidik bayi sejak di kandungan. Orang barat selalu memperdengarkan lagu-lagu klasik seperti karya mozart pada janin yang sudah berusia empat bulan. Alasannya karena orang barat lebih mengincar agar saat lahir nanti bayinya tumbuh menjadi anak cerdas.

Orang Jawa memiliki kepercayaan menarik. Saat seorang istri hamil maka sang suami akan sebisa mungkin menghindari perbuatan buruk seperti tidak menyiksa hewan dan tidak menyakiti perasaan orang. Tujuannya agar saat bayi lahir, ada harapan agar kelak dia tumbuh menjadi pribadi berakhlak mulia.

Ajaran islam lebih sempurna dengan mengajarkan agar si janin dalam kandungan dibacakan Al-Qur’an. Tidak sembarang surat melainkan surat khusus yaitu Surat Yusuf dan Surat Maryam. Harapannya adalah jika si bayi yang lahir laki-laki maka sifatnya dapat meniru keteladanan Nabi Yusuf dan jika perempuan maka seperti Siti Maryam.

Bukan maiyah jika hanya belajar satu sudut pandang. Om Budi membuka pembicaraan dengan mengambil beberapa kasus yang sedang viral akhir-akhir ini. Masih sesuai dengan konteks tema, ‘Waspada Mata dan Telinga’. Beliau membagikan sedikit ilmu jurnalistik dasar tentang narasumber. Beliau menilai bahwa untuk mendapatkan informasi valid maka narasumber yang dijadikan rujukan harus berkompeten dan berpengalaman di bidangnya. Mencari narasumber asal-asalan untuk mendapatkan informasi tertentu dapat menjadi sebuah insiden kecelakaan.

Selanjutnya tentang pengelolaan informasi. Seorang wartawan baik akan selalu melakukan check and recheck terhadap semua informasi yang diperoleh. Meskipun informasi tersebut didapatkan dari opini narasumber yang menggunakan rujukan ilmiah seperti hasil penelitian. Wartawan harus tetap melakukan cross check dengan sumber-sumber atau ahli lain. Jika informasi tersebut ternyata tidak valid maka seharusnya tidak ditulis menjadi sebuah berita. Namun jika memang sesuai maka boleh diangkat untuk dijadikan berita.

Fakta di lapangan, mayoritas wartawan zaman sekarang tidak mempertimbangkan hal tersebut. Mereka sudah terjajah sebuah rezim baru. Om Budi menyebutnya, ‘rezim click bait’. Di mana para wartawan selalu menyajikan berita tanpa melakukan pertimbangan kebijakan.

Asalkan berita tersebut memiliki potensi untuk ‘diklik’, maka hal-hal lain seperti segi ke-valid-an informasi dan kemaslahatan umat akan diabaikan. Berita-berita dengan judul ‘menarik’, bombastis, dan memancing reaksi pembaca lebih mendominasi dunia berita di Indonesia. Dibandingkan berita-berita baik dan benar.

Tidak menutup kemungkinan bukan hanya Indonesia melainkan dunia. Hasilnya adalah banyak konten berita di media masa yang sengaja dibuat hoax. Perlu diketahui bahwa salah satu sumber penghasilan terbesar suatu media masa atau portal berita online berasal dari iklan online. Semakin banyak orang melakukan ‘click’ pada portal berita tertentu maka pundi-pundi uang akan makin banyak dihasilkan.

“Sifat tidak kritis dan terlalu reaksinonal dalam menyikapi sebuah berita, dapat menyebabkan seseorang menjadi korban,” kata Om Budi.

Jika diartikan mungkin bisa jadi korban intimidasi atau provokasi. Diperlukan adanya pengelolaan terhadap segala macam informasi yang masuk melalui mata dan telinga kita. Tidak hanya pendengaran dan penglihatan, kemampuan merasa manusia pun juga terbatas. Selain marja’, Gambang Syafaat edisi Februari 2020 juga dihangatkan dengan pegiat-pegiat yang selalu sabar dan telaten untuk menemani jamaah yang hadir.