Kematian bukanlah bencana, maka kita tidak perlu kasihan terhadap orang yang mati. Orang yang kasihan terhadap orang yang mati adalah orang yang berorientasi dunia. Ia menganggap bahwa dunia adalah pusat. Dunia adalah awal dan akhir sebuah perjalanan, sehingga pergi dari dunia dianggap sebagai sebuah bencana. Tidak jarang, kita yang masih hidup merasa lebih beruntung dari pada orang yang baru saja meninggal, padahal belum tentu begitu. Bisa saja mereka jauh lebih bahagia dibanding kita yang masih tinggal di dunia ini.

Catatan akhir tahun 2020 Gambang Syafaat ini diawali dengan renungan kematian karena pada tahun ini begitu banyak ditinggalkan oleh guru-guru rohani, guru-guru budaya kita. Beliau-beliau di antaranya Bunda Camana, Syaikh Nursamad Kamba, Eyang Iman Budi Santoso, Ki Dalang Seno Nugroho, dan masih banyak lagi dan banyak lagi.

Apa yang dihadapkan di depan kita adalah kalam. Kepergian orang-orang yang kita cintai itu juga sebuah kalam yang tidak habis dibaca semalam, sebulan, setahun ke depan. Syaikh Kamba, Eyang Iman memang telah diam, tetapi justru yang pernah mereka sampaikan dalam bentuk tulisan, ucapan yang terekam menggema kembali dalam alam bawah sadar kita.

Kalam yang lain adalah sebuah virus yang kita mengenalnya dengan sebutan korona. Virus ini mengubah pola Maiyahan di Gambang Syafaat dan di tempat-tempat lain. Keadaan berubah, kita digeber berbagai dinamika, ekonomi penggiat juga sebagian oleng, penyesuaian-penyesuaian dilakukan. Pengasuhan ke dalam, memeluk dan menenangkan keluarga masing-masing terlebih dahulu juga dilakukan oleh beberapa penggiat. Ibarat sebuah kendaraan yang tadinya melaju kencang, karena ada satu dua hal maka harus sedikit mengurangi kecapatan karena bahan bakarnya diirit, bahan bakarnya dikonsentrasikan pada hal lain. Ibarat perjalanan yang tadinya menggunakan gerbong besar, agar lebih gesit, irit, efisien, maka kendaraan beralih menggunakan sepeda motor.

Itu semua perjalanan fisik, sedangkan perjalanan hati, kita semua bisa tetap melakukannya dalam keadaan apapun, dalam kondisi apa pun. Sebuah pohon yang kuat tumbuh pada tanah yang keras, akar-akarnya berjuang untuk menembus tanah berbatu. Sebuah perjalanan ketika di jalan banyak rintangan dan kita dengan sabar mengatasi rintangan-rintangan itu, maka ketika kita sampai tujuan kita akan mendapatkan banyak kemampuan.

Pelajaran-pelajaran yang telah disampaikan Mbah Nun pada waktu-waktu yang lalu mendapatkan praktiknya pada kondisi sekarang ini. Kita harus ulet, lentur, tidak mudah putus asa, prigel, tidak menyerah, bermaiyah; Allah, kanjeng Nabi, paseduluran.

Mari kita sedikit mundur ke belakang, mengingat apa yang terjadi dan apa yang telah terjadi dan telah kita lakukan setahun ke belakang. Pada ulang tahun Gambang Syafaat ke-20 pada Desember 2019, Gambang Syafaat mengambil tema “Maiyah Untuk Anak Cucu”. Kepada anak-anak kita selayaknya kita mewariskan sesuatu yang baik.

Gambang Syafaat membuka tahun 2020 dengan mengangkat tema “Sakau Kuasa”, pada 25 Januari tersebut kita menengok perilaku bahwa nalar kuasa itu sering lupa diri. Sudah berkuasa sekali pingin dua kali, sudah bupati, pingin gubernur, pingin presiden. Kemudian ingin anaknya, cucunya semuanya menjadi kekuasaan. Hingga akhirnya usia dan waktu lah yang mamaksa manusia harus berpisah dengan kuasa itu.

Februari 2020 Gambang Syafaat mengangkat tema “Waspada Mata dan Telinga”. Kewaspadaan sangatlah penting. Tidak kali ini saja Gambang mengangkat tema dengan diksi waspada. Pada bulan yang sama di tahun sebelumnya Gambang Syafaat mengangkat tema “Waspada Kata”. Dua tema itu bermuara pada informasi. Waspada kata adalah kehati-hatian kita pada informasi yang masuk yang menyedot perhatian kita, sedangkan waspada mata dan telinga adalah kehati-hatian kita; kita menjaga mata dan telinga kita atas informasi yang masuk. Mata dan telinga adalah pintu informasi masuk ke dalam diri kita.

Setelah itu gelap. Virus Korona masuk ke Indonesia. Demi keselamatan bersama pemerintah membatasi perkumpulan. Maiyah menghormati keputusan pemerintah tersebut dan menganggap hal tersebut sebagai upaya pemerintah untuk menjalankan tanggung jawab memelihara kemaslahatan publik. Pada saat (bulan Maret 2020) itu rutinan Gambang Sayafaat yang biasanya diselenggarakan pada tanggal 25 di Masjid Baiturahman dihentikan sementara. Sebagai gantinya penggiat mengumumkan agar jamaah mengganti rutinan dengan kegiatan di rumah masing-masing sebagaimana panduan Mbah Nun di tajuk: Khomsun Wa Khomsun Maiyah atas Coronavirus.

Para penggiat dan juga para jamaah melakukan kegiatan di lingkungan masing-masing. Ada yang menyediakan peralatan seperti pelindung dari virus untuk tenaga medis dan disumbangkan, membuat padasan untuk cuci tangan, dan lain-lain.

Gambang Hanya jeda satu bulan. Pada bulan April kami kembali menyelenggarakan rutinan dengan format yang berbeda. Acara dilakukan sangat terbatas. Di lokasi yang waktu itu diselenggarakan di Gemah Ripah, kantornya Mas Wakijo, hanya ada moderator, mengisi acara musik, operator streaming, sedangkan pembicara yaitu Om Budi, Pak Ilyas, Bib Anis, Mas Sabrang, melakukan siaran melalui aplikasi dan disiarkan secara langsung melalui youtube. Pada bulan April tersebut mengangkat tema “Benteng Kewaspadaan”. Acara yang terlaksana pada bulan puasa ini mendiskusikan tentang bagaimana kita waspada kepada virus korona, waspada badaniah, waspada spiritual. Pada saat itu Semarang dalam keadaan sepi, pada bulan puasa yang biasanya masjid dan mushola ramai kali ini sepi akut. Semarang seperti kota mati.

Mei berhubung bertepatan dengan labaran maka Gambang Syafaat ditiadakan lagi. Tim redaksi Gambang Syafaat menyiapkan kado untuk 67 Tahun Mbah Nun. Kado tersebut berbentuk buku dengan judul Begini-Begitu Emha – Cerita Kecil dari (Surat) Pembaca. Buku yang memang dicetak terbatas itu ludes hanya dalam hitungan hari.

Gambang Syafaat terselenggara lagi pada bulan Juni dan kali ini mengambil tempat di Rumah Maiyah di Kadipiro. Mbah Nun menghadiri jamaah melalui youtube. Rombongan pengiat dari Semarang meluncur ke Yogyakarta. Pak Ilyas, Bib Anis hadir dalam pertemuan waktu itu. Pada bulan ini mengangkat “Spirit Istiqomah”.

Bulan Juli, Gambang Syafaat kembali diselenggarakan di Gemah Ripah dengan cara online lagi. Kali ini mengangkat tema “Manusia Layar”. Para pembicara membersamai melalui aplikasi zoom dan para jamaah ikut serta melalui yuotube.

Pada bulan Agustus, Gambang Syafaat berubah bentuk lagi. Kali ini berani menghadirkan jamaah secara terbatas. Acara pembicara juga hadir dalam tempat. Protokol kesehatan dilakukan secara ketat. Acara yang diselenggarakan di Galeri Proses milik pelukis Hartono ini mengangkat teman “Dijajah Egoisme”.

Maiyah kehilangan salah satu orangtuanya. Ia adalah Bunda Camana pada 7 Semptember 2020. Pada bulan ini pada tanggal 25 September 2020, Gambang Syafaat kembali diselenggarakan di Galeri Proses dengan mengangkat tema “Mendayagunakan Ketidaktahuan”.

Pada tanggal 25 Oktober 2020, Gambang Syafaat kembali diselenggarakan di Galeri Proses karena Masjid Baiturrahman belum siap digunakan. Beberapa tokoh Semarang hadir membersamai. Beliau adalah Mas Ton Lingkar, dan Daniel penggiat teater Semarang. Kali ini Gambang mengangkat tema “Radikal Ra Nakal”. Bulan November 2020 hingga Desember saat Gambang merayakan ulang tahun ke 21, Gambang Syafaat masih diselenggarakan di Galeri Proses. Bulan November mengangkat tema “Banter-banteran Bengok”. Pada acara kali ini dihadiri sabahat Mbah Nun yang tinggal di kota Semarang, Prof. Nurdin. Pada Bulan Desember 2020, penutup tahun ini sekaligus ulang tahun Gambang Syafaat yang ke 21, Gambang mengangkat tema “Tambah Suwe Tambah Sae.” Tema itu adalah doa agar semakin lamanya Gambang semakin baik juga Gambang dan bermanfaat bagi lingkungan. Buat apa suwe jika tidak sae.

Tentu saja kita berharap ini semua cepat berlalu sehingga kita bisa bersua seperti sedia kala hingga kami tidak perlu menjawab “Sabar ya Kang”, kepada Anda yang bertanya melalui media sosial dan ingin segera ingin ikut maiyahan secara langsung. Salam.