Tidak ada yang memperkirakan bahwa hari-hari ini kita menghadapi keadaan serba tidak jelas akibat hadirnya makhluk Allah yang diberi nama oleh manusia Covid 19. Anak-anak dirumahkan, para pekerja diminta work from home. Siapa sangka istilah-istilah seperti Lock Down, Orang Dalam Pengawasan, Pasien Dalam Pengawasan, Orang Tanpa Gejala, Phisical Distancing, Pembatasan Ssosial Berskala Besar, Darurat Sipil, Bantuan Langsung Tunai, Karantina Wilayah dan istilah yang selama ini asing di telinga kita kini menjadi disebut berulang-ulang oleh hampir semua media.

Orang kemudian mencari tahu apa itu sebenarnya Covid 19, menganalisanya, mengkait-kaitkan dengan segala macam aspek hulu hilirnya. Muncullah berbagai sudut pandang perihal Covid 19 dengan berbagai fokus kajian dan titik pancal nya. Ada yang sangat bernuansa medis bahwa virus ini adalah evolusi lumrah, ada yang mengatakan ini hasil rekayasa untuk mengubah peta kekuatan ekonomi dunia, juga ada yang dengan tenang menganggap bahwa virus ini adalah utusan Tuhan yang diberi mandat tertentu untuk me-reset kehidupan manusia.

Apapun pendapat tentang Covid 19 ini, bisa ditemukan kebenarannya sekaligus sangat mungkin dicari titik salahnya. Fakta yang jelas adalah kita paham virus ini mempengaruhi kehidupan kita semua. Maka apapun ikhtiar untuk mengurangi akibat buruknya, seyogyanya kita lakukan.

Sebagai individu, kita bisa membangun benteng kewaspadaan atas datangnya tamu yang bernama Covid 19 ini. Benteng kewaspadaan itu berupa:
1. Benteng Spiritual dengan doa, munajat, istighosah, wirid, hizib, rajah dan sebagainya
2. Benteng Ritual dengan menjaga wudhu kita, melingkarinya dengan tadarus quran dan sebagainya.
3. Benteng Rasional dengan menjaga kebersihan, meningkatkan kesehatan, mengontrol pola perhubungan sosial, dan sebagainya
Plus
4. Benteng Sosial dengan memperbanyak sodaqoh bagi yang punya kecukupan rezeki, dan sebagainya

Mungkin kita bisa melakukannya, sebisa-bisanya.

Apa lantas kita akan memenangi virus ini ? yang kita pahami adalah kita tidak sedang perang melawan covid 19, kita sedang bertahan, menata ulang sikap mental dan semua aspek atas apa yang telah kita jalani selama ini.

Tentu benteng individu rasanya tidak cukup, harus ada upaya komunal sebagai masyarakat, sebagai bangsa bahkan mungkin sebagai umat manusia. Negara tentu memikirkan melengkapi benteng kewaspadaan untuk melindungi individu-individu, rakyat yang tidak lelah selalu mencintai negerinya. Benteng ketahanan pangan, ketersediaan energi, kesigapan keamanan dan ketertiban, tidak bisa dipikirkan secara orang per orang.

Gambang Syafaat edisi April 2020, mengajak kita semua mundur tiga langkah, mengambil jarak terhadap apa-apa yang selama ini terjadi di hadapan kita. Membangun benteng kewaspadaan individu, sekaligus melakukan fardhu kifayah sebagai anggota masyarakat dan negara dengan peran masing-masing. Semoga jika Covid 19 adalah bidan atas kelahiran baru, tidak terlalu banyak darah dan keringat serta kecemasan-kecemasan yang menyertainya.