Semula puisi-puisi Cak Nun menghampiri pembaca lewat rubrik sastra di majalah atau di koran atau saat tampil di pentas pembacaan puisi di acara-acara sastra. Rubrik itu mementarai pembaca dan penulis untuk saling bertemu. Media koran atau majalah masih dipilih sebagai alat untuk memuplikasikan karya sastra. Cak Nun memanfaatkan media ini untuk terus menyiarkan karya-karyanya. Entah itu cerpen, puisi, atau esai.

Di majalah Panji Masyarakat edisi Tahun V/539, rubrik ”Lembaran Sastera dan Seni” memuat tiga puisi Cak Nun. Tiga puisi itu barangkali pantas dianggap menyapa pembaca ketimbang puisi-puisi dari penyair lain yang menghampiri meja redaktur. Proses seleksi pemilihan puisi dilakukan oleh redaktur agar karya yang menyapa pembaca kualitasnya tidak sembarangan. Pada edisi kali ini, tiga redaktur rubrik ”Lembaran Sastera dan Seni” Marwan Saridjo, Saribi, dan Mahjuddin Usman, bersepakat menampilkan puisi Cak Nun. Tiga puisi bercerita dan bersimpuh pada Tuhan. Pembaca diajak untuk menyelami bait-bait puisi sembari mengingat kebesaran Tuhan.

Di puisi pertama, pembaca disuguhi puisi berjudul ”Pada Achirnja Aku Kembalikan Diriku Kepadamu, Tuhanku”. Cak Nun menceritakan semua makhluk di dunia ini akan kembali kepada Sang Pencipta. Tidak ada yang pantas kita besar-besarkan atau sombong-sombongkan. Toh, pada akhirnya semua itu akan kembali kepada Sang Pemilik Alam Semesta. Cak Nun berkata: mendadak sadja aku mengerti hakekat diriku sebagai manusa/ tiba2 aku merasa bahwa aku dan segala jang nampak adalah debu…

Bahasa puisi tidak ditulis dengan metafora-metaforan yang sulit dipahami. Cak Nun tidak tergoda menggunakan bahasa-bahasa yang rumit dipahami pembaca. Ia menulis puisi dengan bahasa yang lugas, dengan maksud yang terang, dan setiap kata demi kata bisa dipahami pembaca. Pembaca pun tidak perlu protes karena kerumitan bahasa dan kecanggihan metafora kala berjumpa dengan puisi Cak Nun. Puisi Cak Nun bisa kita baca semudah kita membaca artikel atau teks pidato.

Barangkali ”keluguan” bahasa dalam puisi Cak Nun bisa kita maklumi saat mengetahui berapa usia beliau saat menulis puisi tersebut. Cak Nun masih berusia muda saat tiga puisi tersebut menyapa pembaca. Itu bisa juga dianggap kewajaran anak muda yang selalu ingin menyampaikan pesan secara langsung dan lugas. Apalagi pesan-pesan dalam puisi ini disampaikan kepada Tuhan. Tentu beliau ingin pesan ini bisa langsung sampai kepada Tuhan tanpa terganggu kemumetan mengartikan bahasa di puisi tersebut. Seolah ia ingin berkomunikasi dengan Tuhan tanpa tersendat kalimat-kalimat gelembung sabun. Simak saja bait terakhir di puisi pertama ini. Cak Nun mengucapkan kalimat ini dengan maksud yang jelas sekali:

kini tak ada lagi jang lebih baik aku lakukan
selain bersimpuh dibawah kebesaranMu jang berarak
selain bersimpuh ditelapak kakimu jang sutji.
Mentjutji hati. Berdjalan dibelakang djedjakmu.
Tunduk dan diam2

Bahasa dalam puisi tersebut sederhana saja. Deretan kata dan susunan kalimat ditulis dengan maksud yang jelas. Puisi-puisi Cak Nun mengajak pembaca untuk langsung merenungi arti yang terkandung di dalamnya. Apa yang ditulis Cak Nun di puisi tersebut, barangkali seperti itulah pemikirannya tentang Tuhan.

Pembaca mendapat suguhan tiga puisi dengan tema yang sama. Pilihan tema ini bisa juga bentuk penyesuaian isi konten majalah Panji Masyarakat yang berisi berita-berita Islam. Sehingga menyuguhkan puisi bertema Tuhan akan menggambarkan keserasian antara konten majalah dan tema sastra dan seni. Rasanya aneh saja, seumpama redaktur memuat puisi bertema politik di majalah berkonten agama. Dan Cak Nun dinilai sosok yang tepat sebab ia kerap menulis puisi yang bercerita ketuhanan.

Tiga puisi ini ditulis saat Cak Nun masih muda. Di usia itu Cak Nun tak tergoda berbual kata-kata rayuan. Ia lebih memilih bermesraan dengan Tuhan. Puisi kedua yang dimuat di rubrik ini seperti kelanjutan cerita dari puisi pertama. Kalau di puisi pertama Cak Nun hendak bersimpuh, di puisi kedua Cak Nun sudah terang-terangan memohon ampunan. Simaklah: tentang ironi nama dan diriMu jang betapa sukarnja didjangkau/ ampuni/ Ampuni aku Tuhanku/ (Engkaupun sampai disisiku dengan rachmat penuh; tonggak itupun runtuh. Amien).

Permohonan kepada Tuhan diajukan dengan bahasa yang tidak intimidatif. Tuhan tidak ditakut-takuti oleh keadaan di mana nama Tuhan semakin sulit dijangkau, sehingga Tuhan akan merasa rugi seumpama semakin sedikit orang yang mengakses nama-Nya. Tuhan, sebagaimana yang sering disampaikan Cak Nun, tidak secuil pun merasa untung jika umatNya sregep beribadah dan berdoa. Juga tidak secuil pun merasa rugi, seumpama umatNya malas dan menjauhi Tuhan. Manusia saja yang sering menampilkan Tuhan dengan perhitungan untung-rugi. Dan, kita menjadi lupa akan kekerdilan kita dihadapan Tuhan.

Soal kekerdilan itulah yang disampaikan Cak Nun di puisa ketiganya. Ia menulis puisi berjudul ”Aku Telah Terlempar Kembali Djadi Manusia, Tuhanku.” Di puisi ini Cak Nun menggambarkan bagaimana seharusnya manusia bersikap di hadapan Tuhan. Kita simak puisinya:

Atas nama setiap manusia, aku kumandangkan penjerahan ini.
Dalam diri jang sepi, kita kembali mengerti
Pertemuan jang kokoh antara tjahaja keunggunganMu
Dan kekalutan diriku. Katakan. Katakan, Tuhanku
Apakah Kau masih sudi membelaikan permaafan atas
Kepalaku jang duka

Larik terakhir sejenak membuat kita termenung. Diksi ”kepalaku jang duka” tidak bisa langsung dicerna maksudnya. Cak Nun mulai bermain diksi. Permainan diksi ini membuat puisi Cak Nun tak lagi gamblang dan lugas. Ada permainan diksi yang terselip di antara larik-larik puisi. Kita tentu tidak perlu meminta konfirmasi Cak Nun atas tafsir kita terhadap puisi Cak Nun. Pembaca berhak menafsirkan puisi tersebut sesuai alam pemikiran masing-masing. Namun, kita barangkali bersepakat di puisi ketiga ini, Cak Nun menunjukkan diri sebagai manusia yang tidak berdaya apa-apa di hadapan Tuhan. Maka, tiada yang lain dilakukan selain mengumandangkan penyerahan diri dan memohon maaf atas ”kepalaku jang duka.”

Tiga puisi telah merekam jejak kemesraan Cak Nun dengan Tuhan. Tuhan hadir di setiap larik-larik puisi seolah Dia begitu dekat. Kita sengaja memilih menikmati puisi ini saat masih tertempel di majalah. Anggap saja sebagai usaha kecil menjumputi arsip puisi-puisi Cak Nun yang barangkali kita abaikan setelah puisi itu berpindah ”rumah” dari majalah ke buku.