Hendaknya berhijrah dan berjihad karena Allah dan bukan karena harta benda atau maksud lain. Ia yang menyembunyikan kepalsuannya, menampakkan wajah berjuang padahal berniat mencari kenyamanan hidup adalah sebuah pengkhianatan.

Di dalam pembangunan Ummat, orang yang menyembunyikan niatnya adalah sosok atau kelompok yang paling mengganggu. Mereka adalah orang yang berbeda antara mulut dan hatinya. Ia mengatakan bersama Rasulullah akan tetapi dia memiliki rencana-rencana lain, mereka bekerja sama dengan musuh-musuh Islam.

Musuh yang ada di dalam, yang memuji saat di depan dan mengejek saat di belakang adalah musuh yang diperangi pada tahap awal. Karena musuh semacam ini akan menusuk dari belakang.

Pada perang Khandaq atau perang parit, Madinah menggunakan strategi parit. Aliansi kelompok-kelompok Qureisy; Ghathfan, Asd, Asyju’, Sulaim, dan Murrah membentuk barisan sekutu mengepung Madinah. Peperangan itu terjadi pada tanggal 8 Dzulqa’dah 5H/April 627M, berlangsung selama 15 hari. Pasukan musuh terdiri atas 10.000 personil dan penduduk Madinah tidak memiliki pejuang sejumlah seperempatnya. Semua sisi telah digali yang tidak memungkinkan kelompok musuh untuk masuk kecuali di wilayah penduduk Yahudi dari Bani Qureidhzah karena tidak berpikir mereka akan berkhianat. Selama ini mereka menunjukkan sikap persahabatan, sikap kepalsuan itu mampu mengelabuhi dan hampir saja membuat pasukan Islam kalah karena pada akhirnya mereka berkhianat.

Itu hanya satu dari banyak contoh lain bahwa kepalsuan itu membahayakan dalam pembangunan ummat. Karena pembangunan Ummat harus didasari oleh keimanan kepada Allah, saling percaya, saling menjaga, saling melindungi. Bahkan di dalam piagam Madinah disebutkan “Bahwa satu kelompok tidak boleh bekerja sama dengan kelompok lain di luar Madinah tanpa persetujuan kelompok yang telah menyepakati piagam Madinah.” Kita bukanlah kaum yang seolah-olah menjadi satu padahal punya rencana sendiri-sendiri.

Kembali lagi pada kalimat di awal tulisan ini; ancaman bagi kepalsuan adalah kehancuran. Ia menampakkan diri berjuang, memperjuangkan kesejahteraan ummat tetapi niat sesungguhnya memperbesar modal, melanggengkan kekuasaan, atau mewariskan kekuasaan kepada anak cucunya.

Hal ini semacam menyaru garuda yang memiliki sikap kekar, berani, bertanggungjawab, rela berkorban padahal sebenarnya adalah bajing-bajing pencuri yang menyisihkan uang Ummat untuk keperluan anak istrinya sendiri. Sosok semacam ini selalu ada pada setiap zaman dan selalu berakhir pada kehancuran bersama.

Contoh dari sikap seperti ini adalah merasa paling pancasilais, padahal tidak pernah gotong royong, pertimbangan kebijakan hanya berdasarkan untung-rugi secara material. Adalah sebuah Pseudo jika menuhankan kapitalisme, kemanusiaan dibuat sok adil dan sok beradab, tidak mendahulukan perpecahan karena adu domba sebagai jalan keluar, tidak ada musyawarah karena tidak berani berbeda pendapat, ketika ada yang berbeda pendapat segera dihujat dan dimusnahkan. Dengan begitu apakah keadilan sosial bisa dicapai?

Kita ingin garuda yang sejati. Gambang Syafaat pada edisi Oktober 2019 ini akan belajar tentang kepalsuan dan bagaimana kita melihat kepalsuan semacam ini.