Bila kita membahas tentang pendidikan dalam lingkup sistem pendidikan nasional, maka haruslah kita pahami bersama bahwa tujuan dari sistem pendidikan nasional di Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya.

Melihat bahkan merasakan di relung pemikiran dengan hati dan akal, Maiyah sebagai pendidikan alternatif memberikan sudut pandang yang sangat terbalik dengan yang sudah ada, manusia sangat dihargai sebagai sesama manusia.

Kompleksitas persoalan rakyat Indonesia acap kali ditunjukkan secara statistik. Angka kemiskinan ekonomi semakin melejit. Kesenjangan sosial yang mendera lapisan sosial menengah ke bawah, baik di perkotaan maupun pedesaan, tak segera teratasi meskipun program pemerintah digencarkan terus-menerus lewat kampanye politik. Rakyat Indonesia, dengan kata lain, belum terposisikan statusnya menjadi kelompok tersejahterakan secara finansial. Akibat kemiskinan struktural itu mereka terombang-ambing oleh ketidakadilan sosial, bahkan mengidap rendah diri nasional karena terposisikan sebagai subordinasi kelas bawah (Thomas, 1973: 216).

Di tengah realitas arus bawah itu Muhammad Ainun Nadjib (Cak Nun)—selanjutnya disebut Mbah Nun—melakukan pendidikan masyarakat melalui forum Maiyah. Secara bahasa Maiyah berarti kebersamaan. Istilah ini diambilkan dari bahasa Arab, yaitu ma’a yang bermakna bersama (Effendy, 2009). Ahmad Fuad Effendy, biasa dipanggil Cak Fuad, meneliti kata ma’a dari perspektif nomina dan pronomina dalam Al-Qur`an. Berdasarkan risetnya itu Cak Fuad menemukan kata ma’a sebanyak 161 ayat di Al-Qur`an.

Format diskusi Maiyah relatif unik karena biasa berlangsung 5-8 jam. Nuansa kebersamaan di Maiyah, selain dipandu Mbah Nun, diperkaya pula oleh kehadiran KiaiKanjeng. Hadirnya KiaiKanjeng bukan sekadar instrumen musik, melainkan juga penambah artikulasi penggalian topik diskusi yang estetis dan kontekstual. Poin estetis dimaknai sebagai pengiring dialog yang transgenre.

Wujud pendidikan nonformal dalam cakupan teoretis lazim ditemukan di praksis sosial-kemasyarakatan. Pembinaan sosial anak jalanan seperti dilakukan LSM atau gerakan mahasiswa dapat menjadi contoh konkret. Setidaknya instrumen pembelajaran pendidikan nonformal, baik dilakukan Maiyah, LSM, maupun komunitas mahasiswa, telah terpenuhi: materi, pendidik, subjek didik, dan bahan ajar. Keempat instrumen dasar pendidikan tersebut merupakan modal utama dalam melakukan proses pembelajaran.

Kita belok sedikit mengenai makna strategi puasa Ramadhan dalam tetes yang ditulis Mbah Nun di laman caknun.com, bahwa Manusia itu bukan hanya makhluk kecil yang berkembang menjadi besar, tetapi juga kanak-kanak yang berjuang menjadi dewasa. Makhluk mentah yang memproses dirinya menjadi manusia matang. Manusia yang berkembang dari pandai menjadi baik, dari baik menjadi indah, dari indah menjadi bijaksana, dari bijaksana menjadi bermanfaat. Panduannya adalah prinsip puasa, disiplin puasa, mekanisme puasa, lelaku puasa, strategi puasa. Peradaban-peradaban besar dalam sejarah manusia akhirnya hancur karena meremehkan puasa.

Hampir setiap yang menjalankan puasa menyangka bahwa menahan diri dari konsumsi kuliner dari Subuh hingga Magrib itu keberhasilan, prestasi, kehebatan atau semacam jasa. Padahal Shiyamu Ramadlan itu sama dengan hidung bernafas, menghisap dan menghembuskan udara. Sama dengan darah mengalir, jantung bergerak, atau urat-urat saraf bergetar. Hanya saja level, kelas dan kualitasnya lebih tinggi dibanding hukum alam biologi jasad manusia.

Setiap manusia memiliki kecenderungan untuk bermental jumud, konservatif dan mandek. Bahkan para pejalan Ilmu kebanyakan juga mandek di batas kebenarannya masing-masing. Seakan-akan kebenaran bisa rasional untuk berasal-usul dari diri manusia, sedangkan manusia itu sendiri berasal-usul tidak dari dirinya sendiri. Juga seolah-olah perjalanan manusia bisa tiba di ujung kebenaran, bisa mencapai sempurnanya kebenaran. Seandainya Tuhan tidak pernah menyatakan bahwa “kebenaran berasal-usul dari-Ku”. Andaikan manusia tidak pernah sampai pada penghayatan hakiki bahwa tidak mungkin “kebenaran sejati” bersemayam pada diri manusia–sangatlah tidak memenuhi hukum akal sehat bahwa manusia merasa di dalam dirinya termuat hulu dan hilirnya kebenaran. Manusia tidak kunjung mengerti puasa kemakhlukannya.

Tulisan ini dimaksudkan untuk menjelaskan secara fenomenologis pendidikan alternatif berpikir logis dan lebih segar dalam menjalani hidup untuk menemukan ketepatan setepat-tepanya dalam berbagai makna yang kita gali dalam kehidupan, termasuk dalam hal Puasa, termasuk di Maiyah yaitu melalui perspektif dialogis. Oleh karena sifatnya yang subjektif, ulasan singkat dalam gagasan tertulis di sini tidak mewakili kelompok mana pun kecuali merepresentasikan pengalaman empiris penulis manakala mengikuti—sekaligus meneliti—forum Maiyah dalam perspektif pedagogik nonformal. (bersambung)