Tidak hanya dari kelegaan, tetapi kita juga bisa belajar dari kegelaan. Gela, adalah kata dalam bahasa Jawa yang artinya kecewa, seseorang berharap pada suatu hal tetapi harapannya itu tidak terpenuhi. “Tak tandur pari jebul tukule malah suket teki.”, begitu kata sebuah lagu.

Gela adalah sebuah harapan yang tidak terwujud. Seseorang menaruh kepercayaan tetapi sesuatu terjadi tidak sebagaimana mestinya. Gela ada dalam banyak konteks, ada dalam ranah muda-mudi, seorang laki-laki menaruh harapan yang besar kepada pasangannya, ia memberikan segala sesuatu, ia berkorban, ia bertaruh, ia membela tetapi seseorang yang ia harapkan, seseorang yang menjadi sandaran hati itu ternyata tidak seperti yang ia harapkan.

Ada amsal lain sebagai perbandingan, seorang Bapak yang menaruh harapan besar kepada anaknya. Ia fasilitasi, ia bekerja sekuat tenaga untuk membiayai anaknya, ia rela lapar yang penting sang anak terpenuhi kebutuhannya. Tetapi ternyata sang anak tidak bisa memenuhi harapannya. Kuliahnya sering bolos, tidak mengerjakan skripsi, pekerjaannya hanya tongkrong, pacaran, sampai kemudian orangtuanya mengetahui. Sang orangtua menyusul di kos dan mengajak pulang. Sang orangtua gelo, dia sakit hatinya.

Banyak musabab gelo. Bisa dari orang yang gelo atau orang yang berharap, orang yang menyandarkan hati. Kegelaannya karena menyandarkan hati pada sosok yang keliru. Pengindraannya terkelabuhi, terhijab oleh keterpukauan permukaan, penampilan, indrawi. Seorang pacaran lama sekali, yang terlihat dari pasangannya adalah keindahan melulu. Tetapi setelah menikah timbul perasaan, “Lho kok ternyata koyok ngene?” Itu namanya gela. Sesuatu yang tidak terlihat sebelumnya baru tersingkap.

Namun gela juga bisa berasal dari orang yang menjadi sandaran. Kasus seseorang yang berharap kepada pasangannya tetapi ternyata pasangannya pembohong, penyebab gela karena sandaran hati itu tidak jujur. Ia memang pembohong. Tetapi bisa saja gela bukan karena ia yang kita harapkan itu berbohong, ia tidak bisa memenuhi harapan bisa saja karena memang ia tidak mampu, otaknya, hatinya, tidak sampai. Ia tidak memiliki kapasitas. Hal ini dicontohkan dalam kasus seorangtua kepada sang anak yang tidak lulus kuliah tadi.

Kegelaan berada dalam banyak sekali ranah. Tidak hanya pada hubungan anak dan orangtua, laki-laki dan perempuan, tetapi bisa saja hubungan antara rakyat dan pemimpinnya, wakil rakyat dengan yang diwakilinya. Betapa pun kita bisa belajar dari apa pun, termasuk gela itu. Apalagi jika gela itu menjadi kor panjang, menjadi gelombang yang dinyanyikan bersama-sama. Mari kita belajar bersama dalam forum Maiyah Gambang Syafaat pada edisi 27 September 2019.