Semua orang tau dan sepakat jika apa yang namanya gambling (perjudian) dalam berbagai macam rupa itu dilarang, baik dari sudut pandang norma agama maupun dalam norma hukum. Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berjudi adalah mempertaruhkan sejumlah uang atau harta dalam permainan tebakan berdasarkan kebetulan, dengan tujuan mendapatkan sejumlah uang atau harta yang lebih besar daripada jumlah uang atau harta semula. Dan saya rasa yang paling menonjol dari definisi tersebut adalah kata “berdasarkan kebetulan”. Jelas yang dimaksud kebetulan adalah suatu bentuk ketidaksengajaan, bukan berarti kebetulan samadengan kebenaran hanya karena kata dasar betul dan benar adalah sinonim.

Tidak cukupnya informasi ini ibarat melempar dadu di meja judi.

-Redaksi BBW-

Meskipun saya sendiri menolak praktek perjudian, tapi tidak bisa dipungkiri selama ini saya justru tanpa sadar sedikit banyak telah melakukannya. Mulai dari duduk di bangku sekolah, saya yang termasuk dalam golongan murid malas belajar sudah terbiasa mengalami kondisi ‘bingung’ ketika ujian. Dan salah satu jalan keluarnya adalah dengan cara memilih jawaban secara acak dan berharap hasilnya benar. Kebiasaan itu berlangsung bertahun-tahun hingga lulus SMA. Bisa dibayangkan betapa haramnya ijazah sekolah yang saat ini saya pegang.

Tidak berhenti disana, setelah lulus SMA saya memang tidak pernah memiliki niatan untuk melanjutkan kuliah. Selain karena kondisi ekonomi yang kurang mendukung juga didasari rasa jenuh pada dunia pendidikan yang ada. Tapi karena dorongan dan paksaan dari banyak pihak, saya terpaksa kembali berjudi untuk mengundi takdir barangkali dapat melanjutkan kuliah. Dan celakanya aku berhasil lolos seleksi untuk masuk kuliah di salah satu PTN. Bertambah panjang lagi garis dosa ini.

Hingga akhirnya saat ini saya telah mendapatkan pekerjaan dengan ijazah-ijazah hasil perjudian selama bertahun-tahun. Mungkin ini masih tidak terlalu membuatku merasa bersalah, karena selain hanya menyakut kemaslahatan hidup pribadi juga hasil dari perjudian yang berhasil mengantarkanku pada kehidupan dunia yang lebih layak jika dilihat dari sudut pandang materialisme duniawi. Meskipun saya tidak pernah membenarkan dan juga meremehkan atas dosa-dosa perjudian selama di dunia pendidikan.

Yang paling sangat saya sesalkan adalah ketika saya harus berjudi dan hasilnya menyangkut kemaslahatan masyarakat luas. Dan itu adalah saat saya diberikan suatu hak suara untuk memilih seorang pemimpin. Saya tidak pernah tau asal-usul setiap kandidatnya. Saya tidak pernah tahu track record hidupnya. Saya tidak pernah tahu keamanahannya. Kemudian mau tidak mau saya harus memilih dengan begitu banyak ketidaktahuan. Tapi berbeda dengan perjudian sebelum-sebelumnya, meskipun dengan tetap merasa bersalah aku terpaksa melibatkan mantra-mantra yang diambil dari ayat suci Al-Qur’an.

لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

(Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir)

-Al-Hasyr:21-

Ayat itu ku baca berulang-ulang entah sampai berapa kali sebelum aku menyalurkan hak suara ku. Sembari dalam hati berharap agar Tuhan berkenan membantu memberikan petunjuk agar apa yang saya pilih dapat memberikan kemaslahatan bagi masyarakat luas. Dan jika memang yang terpilih justru tidak amanah dan hanya membawa mudharat maka dengan kuasaNya jua aku mohonkan agar Tuhan rela untuk menegurnya.

Memang tidak ada yang baik dari suatu perjudian. Apalagi bila harus menyangkut hajat hidup orang banyak. Jika berhasil, kita tidak pernah tau alasan keberhasilannya sehingga kita tidak mengetahui rumusan yang tepat untuk mengambil keputusan pada kondisi yang sama selanjutnya. Dan jika gagal, kita juga tidak dapat mengambil pelajar dari kesalahan apa yang telah terjadi untuk menghindari kegagalan selanjutnya.

Di maiyah, ada banyak pelajaran yang salah satunya mengungkap sejarah nabi yang kiranya selama ini masih banyak ditutupi. Seperti contoh ketika peristiwa perang Badar dimana 300an pasukan muslimin harus melawan 1000 pasukan Quraisy. Jaman sekolah dulu, peristiwa ini diceritakan seolah-olah kemenangan kaum muslimin itu sangat wajar saja karena Nabi yang berdoa langsung dan pastilah kalau diijabah. Tapi kenapa tidak pernah diajarkan bagaimana ikhtiar-ikhtiar Nabi dalam menyiapkan pasukannya. Apa mungkin waktu akan perang kemudian Nabi mengajak siapapun seadanya kaum muslimin untuk berangkat? Masih banyak kisah-kisah nabi yang digambarkan seolah terjadi hanya karena Muhammad seorang nabi. Sehingga tak jarang orang saat ini yang sesat pikir dalam memaknai.

Kanjeng nabi pernah mengucapkan “In lam takun ‘alayya ghodlobun fala ubali” (Asalkan Engkau, wahai Tuhan, tidak marah kepadaku – maka kuterima apa saja nasibku di dunia). Beliau rela mau dibuat bahagia atau derita, dijunjung atau dibanting, nyaman atau sengsara, hidup atau mati, asalkan Tuhan tidak marah. Artinya Nabi tidak peduli atas apa hasil yang akan diperoleh yang penting beliau tetap berikhtiar menjalankan apa yang diperintahkan oleh Tuhan.

Mbah Nun juga pernah bilang jika Tuhan tidak mewajibkan menusia untuk berhasil, sehingga gagal pun tidak berdosa, tetapi Tuhan mewajibkan manusia berjuang maksimal. Yang diwajibkan adalah Berusaha dan berdoa, walaupun hasilnya sudah berada dalam genggaman Tuhan yang menjadi Qadha’ Qadar. Sedangkan kita dengan alasan Qadha’ Qadar malah malas-malasan, kita malah menjadikan ini sebagai ladang perjudian. “Coba aja daftar kalau sudah jalannya pasti keterima” tanpa ada persiapan apapun.

Semoga saja apa yang menjadi pemahaman perjudian sebagaimana yang tertulis disini tidak sama dengan perjudian dimata Allah. Sehingga tidak ada dosa besar-besaran dan berkepanjangan yang telah aku lakukan, apalagi dosa dalam perjudian memilih pemimpin yang menyangkut hajat hidup masyarakat luas. Jika NabiMu ya Allah, mendapatkan jaminan surga tetapi tetap beribadah karena memang itu kewajiban seorang hamba. Maka saya yang mungkin telah membuat suatu dosa jariyah, andaikan datang malaikat dan menjaminku masuk neraka maka itu tidak akan memberhentikanku untuk menyembahMu, mengabdi padaMu, dan berusaha menjauhi laranganMu YA GHAFFAR….