Kekhawatiran saya ketika pulang dari Tanah Mandar nanti adalah bukan perkara bakal rindu untuk datang ke Tanah Badik ini, melainkan ketidaksiapan finansial saya membeli pakaian-pakaian dengan ukuran yang lebih lebar. Sehari di Mandar lidah saya akrab sekali dengan menu segala jenis olahan ikan laut dan daging yang sering disuguhkan oleh tuan rumah kepada tamu. Suguhan-suguhan makanan dari tuan rumah itu akan dengan mudah membuat berat badan saya bertambah.

“Pantang bagi orang Mandar tidak menawarkan makan pada tamu,” kata Pak Aslam, penggiat Simpul Maiyah Papperandang Ate, kepada kita yang tampak belum terbiasa dengan suguhan bermacam-macam jenis makanan. Dan sebagai seorang tamu, amat terlihat tidak sopan jika tidak menyantap hidangan yang disuguhkan oleh tuan rumah.

Suguhan hidangan makan lebih dari tiga kali sehari adalah bukti keramahan dan kebaikan orang-orang Mandar menyambut saudaranya yang datang dari Surabaya, Mojokerto, Malang, Semarang, Jogja, Jakarta dan Samarinda. Pada pukul 03. 00 WITA, rombongan dari simpul-simpul di Jawa tiba di rumah Bu Hijrah. Sedangkan rombogan dari Samarinda, akan tiba di Mandar pada siang harinya. Kita bercakap-cakap sejenak di beranda rumah Bu Hijrah sembari bertukar cerita mengenai perjalanan melewati jalan Trans Sulawesi. Tak ada jalan yang berlobang, apalagi berbatu. Sepanjang jalan sudah beraspal, mulus, dan membuat sopir nyaman tancap gas terus.

Tidak seperti puluhan tahun yang lalu saat Mbah Nun pertama kali datang ke sini. Saat itu jalanan masih berbatu dan membuat durasi perjalanan lebih lama. Mbah Nun mau menempuh perjalanan dengan medan jalan yang sulit itu. Apa yang menggerakkan Mbah Nun mau datang jauh-jauh dari Jawa kalau tidak atas dasar cinta. Mbah Nun membawa cinta itu dari Jawa dan menebarkannya di Tanah Mandar. Sebagian orang-orang yang masih remaja saat menjumpai Mbah Nun pertama kali tiba di Mandar, kini sudah berkeluarga dan beranak. Dan orang-orang yang tergabung dalam rombongan “Perjalanan Rindu dan Cinta ke Tanah Mandar” ini seperti anak-anak mereka yang sudah lama mereka rindukan tapi tak kunjung pulang ke rumah. Seketika saja kami langsung akrab dan berkeluarga erat. Seolah rombongan Rihlah dan penggiat Simpul Papperandang Ate sudah sering bertemu dan sudah bertahun-tahun saling mengenal.

Semua itu bisa terjadi sebab kita sudah dipersaudarakan Mbah Nun dengan saudara-saudara di Tanah Mandar. Persaudaraan yang sudah berpuluh-puluh tahun lalu ditanam Mbah Nun. Dan kini, sebagian anak-cucu Mbah Nun datang untuk menikmati hasil apa yang ditanam Mbah Nun. Hari pertama ini, perjalanan diisi dengan menapak tilasi tempat-tempat yang pernah disinggahi Mbah Nun waktu dulu tinggal di Mandar. Kita diajak berziarah ke Makam Syeh Abdul Manan. Tempat makam yang pernah didatangi Mbah Nun pada tengah malam untuk berziarah dan berzikir. Juga, pada malam harinya beramah tamah dengan penggiat Simpul Maiyah Papperandang Ate. Dari semua kegiatan itu tidak ada yang sulit kita ikuti, selain ajakan makan yang datang terus-menerus.

“Kalian tidak usah heran kalau sering makan di Mandar. Dulu waktu Cak Nun di Mandar juga sering bilang,”makan terus… makan terus…,” kata Pak Aslam dengan nada bercanda.