Pertemuan pada 25 November 2019 diawali dengan cerita pengalaman dua pegiat Gambang Syafaat, Mas Wakijo dan Mas Yunan. Beberapa waktu lalu mereka dan pegiat dari simpul maiyah nusantara mendapat kesempatan bersua dengan keluarga di Mandar. Para pegiat bertemu dengan orang-orang yang menjadi saksi perjuangan Mbah Nun menyebarkan cinta di wilayah timur khususnya Mandar. Sebagai catatan, Mandar termasuk salah satu basis kegiatan Maiyah tertua di Indonesia.

Di antara orang-orang yang ditemui para pegiat Maiyah terdapat nama Bunda Cammana. Beliau merupakan wanita Mandar yang dikenal karena kepiawaiannya bermain rebana dan kemerduan suaranya melantunkan shalawat. Sampai detik ini Bunda Cammana masih melestarikan kemampuan bermain rebana dan bershalawat kepada anak-anak di Mandar. Bagi jamaah yang belum pernah mendengar namanya, video tentang beliau banyak beredar di youtube. Bahkan ada satu film dokumenter tentang profil beliau.

‘Pasukan Uhud’ menjadi tema Gambang Syafaat edisi November. Mengapa perang uhud bukan perang badar? Perang uhud menjadi perang terbesar kedua bagi sejarah perjuangan umat islam. Sebuah perang yang memberikan banyak pelajaran bagi umat Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Perang yang menyebabkan banyak sahabat gugur termasuk paman rasul, Hamzah.

Menurut pendapat Gus Aniq, perang uhud merupakan skenario/ kesengajaan yang telah dirancang Allah untuk memberikan banyak hikmah. Salah satunya untuk mengetahui mana umat islam yang tulus dan umat islam yang munafik hanya mengincar dunia. Kekalahan tersebut juga mengesahkan bahwa kanjeng nabi juga makhluk biasa. Meskipun beliau kekasih Allah tetap saja harus merasakan kepahitan hidup.

Pak Ilyas mengajak jamaah untuk kembali belajar dari kehidupan Nabi Muhammad SAW. Selama ini orang-orang selalu meneriakkan sunah nabi, namun hanya yang enak-enak. Bagian tidak enak dari kehidupan Nabi Muhammad jarang dilihat. Beliau menjelaskan jika Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling dicintai dan mencintai Allah, namun sangat banyak penderitaannya.

Kekalahan dalam perang uhud hanya satu bagian kecil dari kepahitan yang harus dirasakan Kanjeng Nabi. Dalam kehidupan sehari-hari, beliau diketahui hanya memiliki tiga pakaian. Satu disimpan, satu dicuci dan satunya lagi dipakai. Ketika lapar beliau pernah mengganjal perutnya dengan batu. Rumahnya berukuran sangat kecil. Diceritakan dalam sebuah riwayat, ketika wafat Nabi Muhammad hanya didatangi oleh kurang dari sepuluh orang keluarga dan sahabat.

“Dalam Al-Qur’an, banyak ayat yang menyuruh manusia berpikir,” ucap Pak Saratri mengawali pendapatnya. Perang uhud berawal dari kekalahan kaum kafir saat perang badar. Perang tersebut menyebabkan dampak besar di antaranya: 1. Sosial, aib besar bagi orang-orang kafir. 2. Ekonomi, banyak kaum kafir Qurays kehilangan harta benda dan pusat perdagangan dikuasai kaum muslim. 3. Agama, ajaran islam semakin meluas. Ketika itu jumlah prajurit islam sangat sedikit.

Sementara dalam perang uhud jumlah pasukan muslim cukup banyak tetapi kalah. Salah satu penyebabnya karena kurangnya kepatuhan terhadap Nabi Muhammad SAW. Tepatnya ketika para pemanah yang berada di atas bukit tergoda untuk ikut mendapatkan harta rampasan perang.

Perang uhud menjadi pelajaran berharga bagi umat islam. Seusai perang uhud yang memakan banyak korban, Kanjeng Nabi Muhammad SAW tetap masih menjunjung nilai-nilai islam yaitu kelemah-lembutan. Kepedulian dan kelembutan Nabi Muhammad menjadi kunci keberhasilannya menyebarkan kebaikan melalui dakwah-dakwah beliau.

Pak Budi memberikan pandangan lain terhadap kekalahan umat islam saat perang uhud. Ada satu adegan yang ‘disukai’ beliau. Adegan ketika gigi Nabi Muhammad SAW harus tanggal karena mendapat serangan dari prajurit lawan. Pak Budi menganggap bahwa peristiwa tersebut lagi-lagi menunjukkan Nabi Muhammad hanya manusia biasa yang juga mendapatkan ujian dari Allah. Beliau menambahkan bahwa gagal itu penting. Tanpa sebuah kegagalan tidak ada pembelajaran.

Di sisi lain, beliau menceritakan tentang permainan catur. Bermain catur mengajarkan kita bahwa dalam hidup ada banyak peran yang bisa dijalani. Mulai dari pion, kuda, hingga ratu. Tidak ada yang baik dan buruk, semua setara. Masing-masing memiliki langkah yang unik. Catur mengajarkan untuk mengarungi luasnya samudra kehidupan dan memenangkannya, ada banyak pilihan langkah yang bisa diambil. Setiap peran dan langkah yang dipilih memiliki konsekuensinya masing-masing.

“Ilmu seperti cahaya.” Habib Anis menganalogikan seperti seseorang yang membaca novel atau cerita. Ketika seorang pembaca fokus pada satu tokoh. Maka dia akan benar-benar serius memikirkan si tokoh dan tidak mengecek kondisi tokoh lain. Si pembaca hanya akan fokus pada satu sudut pandang tertentu dan melupakan sudut pandang lain.

Sudut pandang seseorang dalam melihat sebuah masalah harus lengkap. Tidak boleh terpotong-potong atau terbiaskan. Misalnya perang uhud, Habib Anis berpendapat bahwa sumber kekalahan bukan hanya terletak pada ketidakpatuhan prajurit muslim. Kunci kegagalan umat islam memenangkan perang adalah saat umat islam mendengar kabar kematian Nabi Muhammad SAW. Kabar tersebut berhembus ketika perang berlangsung dan membuat hancur mental bertarung pasukan muslim.

Habib Anis juga menanggapi pernyataan pak Ilyas tentang kenapa umat islam di Indonesia sulit meniru Kanjeng Nabi, misalnya dalam berpakaian. Kondisi lingkungan di Arab berbeda dengan Indonesia. Cuaca dan iklimnya juga jauh berbeda. Di Indonesia yang beriklim tropis menyebabkan tubuh mudah berkeringat dan muncul bau badan. Sehingga dalam sehari orang di Indonesia bisa mengganti pakaiannya beberapa kali.

Beliau juga mengambil ungkapan Pak Budi tentang catur. Ada yang berpendapat bahwa bermain catur itu baik dan ada juga yang beranggapan buruk. Semua kembali lagi pada konteksnya. Jika catur dijadikan sebagai media untuk mengingat Allah, Baginda Muhammad SAW dan melakukan kebaikan makan sangat diperbolehkan. Apabila catur menjadi media yang dapat melalaikan seseorang untuk beribadah dan melakukan kebaikan, maka catur bisa masuk kategori buruk.

Contoh lain dari Habib Anis mengenai kasus zakat. Penerapan zakat di suatu wilayah bisa berbeda dengan penerapan zakat di wilayah lain. Zakat untuk petani di Indonesia berbeda dengan di Arab. Apa penyebabnya? Proses pertanian di Arab mulai dari penanaman, perawatan sampai panen tidak membutuhkan banyak biaya. Di Indonesia membutuhkan banyak biaya untuk proses pembibitan sampai panen. Efeknya pada hasil panen petani Arab yang jauh lebih besar dibandingkan petani di Indonesia. Wajar saja jika zakat untuk petani di Arab lebih besar dibandingkan petani di Indonesia.

Habib Anis mengingatkan pada jamaah untuk selalu melihat sesuatu dari banyak perspektif. Jangan terlalu cepat untuk menilai dan menyimpulkan sesuatu. Terlebih dalam era digital sekarang banyak sekali berita fiktif atau hoax yang digoreng sedemikian rupa agar menarik. Kemudian disajikan pada masyarakat dan membiarkan masyarakat bereaksi. Si pembuat berita pun berbahagia karena bisa mengambil keuntungan dari situasi tersebut untuk dirinya sendiri.

Malam itu Gambang Syafaat tidak ditemani Wakijo Lan Sedhulur. Posisi mereka diisi oleh grup musik Kidung Syafaat dari Salatiga asuhan Pak Ilyas. Ada yang menarik, malam itu banyak sekali shalawat yang dilantunkan, bukti kecintaan jamaah pada pada baginda rasul.

Terlihat candaan antara satu marja’ dengan marja’ maiyah lain ketika menanggapi pertanyaan dari jamaah. Tetap ada senyuman dan cinta di sana. Sama seperti apa yang disampaikan Gus Aniq, potensi atau energi kerasulan masih ada pada umat Nabi Muhammad SAW sampai sekarang dalam bentuk kepekaan/kepedulian. Selama seseorang masih mau peduli terhadap yang lain maka semangat Kanjeng Nabi akan tetap hidup selamanya.