Kalau dilihat dengan mata, setiap penyelenggaran Gambang Syafaat tidak ada panggung khusus untuk tempat pengisi dan grup musik. Yang dimaksud panggung itu sebenarnya sebuah lantai yang tempatnya kebetulan lebih tinggi setengah meter dari tempat duduk jamaah yang menyimak uraian pengisi. Maka kita sering mendengar bahwa panggung Gambang Syafaat bukanlah tempat yang angker. Itu bukan panggung yang menampung orang-orang hebat atau terkenal. Panggung itu terbuka kepada siapa saja yang mau berbagi ilmu, kemesraan, dan keindahan. Tidak jarang ada jamaah yang secara spontan bisa menyampaikan penjelasan yang lebih panjang dan detail dari pengisi. Ada juga terkadang jamaah yang terpanggil memberikan persembahan pembacaan puisi atau menyumbang lagu. Panggung Gambang Syafaat secara ideal tidak membedakan siapa yang datang mengisi, dan secara tata letak tidak ada sekat antara pengisi dan jamaah.

Suasana itu malah membuat jarak antara pengisi dan jamaah menjadi dekat. Dari kedekatan itu terlahir kemesraan. Termasuk yang terjadi pada Sabtu malam (25/08/2018) di Aula Masjid Baiturahman. Beberapa jamaah dikejutkan dengan tata panggung Gambang Syafaat yang lebih maju ke depan. Di sekitar aula masjid sedang dalam perbaikan. Terpaksa, malam itu Gambang Syafaat menyulap laparan parkir menjadi tempat berkumpul sedulur-sedulur Maiyah. Pengisi dan jamaah pun duduk di karpet yang sama. Sama rata, sama rasa!

Pada pertemuan ke delapan ini, Gambang Syafaat hendak menyinauni bab Sabhaparwa. Banyak yang tidak tahu dengan kisah ini. Malah sebagian jamaah mengakui baru pertama kali mendengar lema ini. Maklum, generasi milenial sulit bercumbu dengan cerita-cerita lawas. Apalagi cerita yang bertokoh wayang. Yakinlah, hal-hal seperti itu sulit digandrungi milenalis.

Mbah Nun sering mengatakan bahwa Maiyah itu menggali yang sudah terkubur, mengenalkan yang tidak terkenal, menghargai karya-karya besar yang tidak diketahui banyak orang. Merujuk pada pendapat Mbah Nun, Sabhaparwa bisa dianggap sebagai cerita yang sudah terkubur sangat dalam. Banyak sekali generasi muda yang tidak tahu cerita ini. Nah, Gambang Syafaat pada edisi kali ini bermaksud menggali cerita yang tanpa kita sedari telah kita kuburkan. ”NeoSabhaparwa” adalah usaha menghubungkan cerita zaman dulu dengan keadaan zaman sekarang.

Sabhaparwa adalah kitab kedua Mahabarata. Pokok cerita di kitab ini, Pandawa terusir dari istana, menghuni hutan selama sebelas tahun, karena kalah judi dengan Duryudana yang dibantu Sengkuni. Aktor utamanya adalah Yudistira. Ia dikalahkan Duryudana dalam pertarungan judi. Risiko dari kekalahan itu adalah ia harus meninggalkan istana, meninggalkan kemewahan dan menanggalkan kehormatan untuk menjadi paria yang tinggal di hutan.

Cerita ini memiliki keterkaitan dengan kondisi Indonesia mutakhir. Bagaimana para elite bertarung mementingkan kepentingan pribadi. Mas Hajir menafsirkan bahwa cerita Sabhaparwa adalah cerita yang menampilkan pertarungan para elite. Tidak ada rakyat di situ. Atau jangan-jangan malah rakyat sama sekali tidak menjadi bahan pertimbangan penguasa ketika mereka bertarung. Bahkan tidak disebutkan di mana keberadaan rakyat saat Sabhaparwa terjadi. ”Kalau kita menggunakan NeoSabhaparwa, jangan-jangan kita yang ribut di twitter, kantor, tidak dipertimbangkan sama sekali oleh mereka yang bertengkar,” kata Mas Hajir. Lebih lanjut lagi Mas Hajir menambahkan,”Yudistira tipe pemimpin yang ceroboh. Segala dipertaruhkan. Kalau kita melihat Sabhaparwa, di posisi manakah kita? Kita ikut Kurawa atau Pandawa. Atau justru kita malah tidak di posisi mana-mana?”

Gus Aniq menimpali dengan pemahaman peliharaan atau dalam bahasa Jawa disebut ”ingon-ingone.” Beberapa ayat Al-Quran dan hadis dikutip untuk menjelaskan konsep ”ingon-ingon” ini. Hubungannya ”ingon-ingon” dengan kita, kita adalah bagian dari itu. Maka dari itu kita tidak heran ”mengapa kita tidak jadi pertimbangan di setiap keputusan elite. Karena kita itu ingon-ingonane.”

Gus Aniq mengakui Sabhaparwa adalah tema yang mengajak berpikir secara mendalam. Di sisi lain juga menunjukkan ironi pada diri kita. Kita gampang sekali mengingat cerita-cerita lawas dari negeri asing. Tapi, malah terasing dengan cerita-cerita lawas dari negeri sendiri. Hampir semua anak-anak tidak asing dengan cerita Cinderela, Romeo dan Juliet tapi hampir semua anak-anak asing dengan cerita Mahabarata, apalagi Sabhaparwa.

Menurut Gus Aniq, Allah sudah menurunkan banyak cerita untuk kita jadikan rujukan menghadapi peristiwa. Cerita dari dulu sampai sekarang memiliki pola yang sama, yakni pasti ada antagonis dan protagonis. Ada Nabi Musa As, ada Firaun, ada Nabi Muhammad Saw, ada Abu Jahal. Dan, itu terus berlanjut sampai sekarang. Tentu sekarang tidak ada orang yang persis secara fisik dengan Firuan pada zaman Nabi Musa As, tapi bisa menyerupainya secara watak. Karena yang perlu dipahami adalah ”penjelmaan iblis itu bertahap terus-menerus sampai sekarang. Ada jelmaan iblis melalui Firaun, ada jelmaan iblis berupa harta, tahta dan perempuan.

Yang perlu kita lakukan ketika membaca cerita seperti itu atau menghadapi peristiwa tersebut. Kita membacanya secara ilmiah saja. Maksud ilmiah, menurut Gus Aniq, mengetahuinya secara apa adanya. Artinya, membaca ”tidak untuk menambah kericuhan atau membuat kericuhan.”

Secara harfiah, kata Mas Agus, Sabhaparwa terdiri dari dua suku kata: sabha dan parwa. Sabha itu berkunjung atau menjalankan titah kunjungan. Parwa bisa berarti macam-macam, bisa tempat atau gunung. Lebih menarik jika Sabhaparwa ditarik ke jagat yang kita jangkau. Sebab, akan menjadi tidak indah jika Sabhaparwa dihubungkan dengan kondisi politik Indonesia. Dari dulu sampai sekarang kondisi politik Indonesia ya begitu-begitu saja, tidak berubah.

”Sabhaparwa itu peristiwa yang menyamakan permainan dengan pertaruhan,” kata Mas Agus. Ketika Yudistira menerima tawaran ajakan Duryudana untuk bermain judi. Dalam pemahaman Yudisitira, judi hanya sebagai permainan belaka. Berbeda dengan Duryudana yang menganggap judi sebagai pertaruhan. Dari dua pihak ini terdapat cara pandang yang berbeda. Bagi Yudistira, judi itu permainan dan bagi Kurawa judi itu sebagai strategis.

Sabhaparwa bisa kita tarik ke jagat yang bisa kita jangkau, yaitu ke diri kita. ”Kalau di diri kita ada Kurawa dan Pandawa. Njuk, di mana diri kita ketika ada Sabhaparwa.” Ini sekaligus menyambung pernyataan Mas Hajir di atas ketika menanyakan di mana rakyat ketika Sabhawaparwa terjadi. Mas Agus menimpali,”kita jangan terjebak merasa Pandawa.” Atau langsung melakukan pembelaan terhadap tokoh Pandawa dan merasa diri kita berada di pihak Pandawa. Perasaan ini bisa mengakibatkan kita meremehkan Kurawa dan menyalahartikan Kurawa.

Padahal menurut Mas Agus,”Kurawa itu 99 ke-diri-an kita.”

Kesimpulan yang diambil Mas Agus untuk tema ini:”Kita cukup meletakkan Sabhaparwa ke fenomena tunggal, yaitu ke dalam diri kita”. (Yunan Setiawan)

BERBAGI
Redaksi Gambang Syafaat
Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.