blank

Gambang Syafaat (GS) berjalan bak irama. Para pegiat menikmati irama ini. Menggulung tikar, menyiapkan soundsistem lalu mengemas rapi usai acara. GS kedatangan jamaah maiyah dari berbagai kota. Mereka selalu memenuhi sisi selatan Masjid Baiturrohman Semarang. Meski memasuki hari ke-9 Ramadhan, tak tampak panggung GS bernasib sial. Pelataran selalu dipenuhi sesak para jamaah. Ini terlihat pada tanggal 25 Mei 2018 kemarin.

Berbagai sudut di sisi selatan Masjid Baiturrohman juga dipasang layar proyektor. Para pegiat ingin memastikan bahwa tidak ada satupun jamaah bernasib sial karena tak bisa memandang pembicara. Panggung GS tak begitu besar. Sebetulnya itupun bukan panggung. Karena lokasi lantai yang lebih tinggi 10 cm dari pelataran, maka dianggap sebagai panggung. Panggung berukuran lima kali tujuh meter ini termakan alat—alat musik Wakijo lan Sedulur. Lalu para pembicara di GS tak berpunya ruang lebar. Pembicara dengan jamaah bahkan berjarak seuluran tangan. Pembicara dan jamaah semakin dekat, semakin tidak khawatir satu sama lain.

Mbah Nun yang malam itu hadir menekankan bahwa di maiyah tak ada sebuah legalisasi. Semua mengalir begitu saja. Para pegiat ikhlas menggelar tikar, menyiapkan soundsistem lalu merapikan kembali. Mereka saling menjaga kemanan masing— lmasing. Tak pernah ada cerita orang—orang pulang beraut sedih. Raut mereka terisi bahagia meski tak begitu tahu sebenarnya apa yang dibicarakan selama enam hingga jam.

“Teman-teman maiyah berkumpul untuk menjadi Almutahabinafilah” ujar Mbah Nun yang selalu disambut hangat jamaah.

Mbah Nun hadir lebih awal. Sepuluh ambengan disiapkan pegiat untuk menyambut Mbah Nun. Tanggal 27 Mei merupakan hari lahir beliau. Pegiat GS menyiapkan ambengan ini sebagai bentuk ucap syukur dan terima kasih kepada Mbah Nun karena kecintaan beliau untuk para jamaah tak pernah pudar. Prosesi ambengan dipimpin oleh Mas Jion. Lalu ambengan dibagikan kepada para jamaah. Sekali lagi, jamaah menikmati kebersamaan lewat ambengan.

Meski tak sampai selesai karena harus melanjutkan aktivitas lagi, Mbah Nun tetap begitu bersemangat di usia beranjak 65 tahun. Energi positif ini dirasakan para jamaah. Ada sekitar 10 jamaah bertanya pada Mbah Nun. Maiyah memang interaktif. “Ada sesi Tanya jawab. Berbeda dengan pertemuan sejenis pengajian yang tidak memberi kesempatan jamaah bertanya” cerita Kang Ali perihal alasan bermaiyah.

Ruang Tumbuh malam itu menjadi tema GS. Namun jangan salahkan jika pertanyaan — pertanyaan tak besentuhan dengan tema. Ada Agus bertanya perihal Tajalli dan Tahalli, Hari tentang kebenaran dan keindahan, Maulana tentang perjalanan menuju Tuhan, Irsyad dengan zona nyamannya, Hasan menanyakan Iman, Islam, Ihsan lalu ada juga Susi menceritakan ihwal Ihdinassirotol hingga Edi dari Kudus yang berbagi pengalaman ihwal pertama kali maiyahan malam itu.

Mbah Nun menjawab satu per satu. Inilah yang membuat jamaah merasa sayang kepada beliau. Manusia kadang rumit. Tuhan tak dilibatkan untuk hal kecil. Untuk masalah besar, manusia membabi buta ingat akan tuhan.

Seperti adanya pagi, siang dan malam. Proses perubahan waktu itu tak dinikmati manusia dengan bersyukur. Manusia menganggap pagi adalah saat mencari uang, siang istirahat sebentar lalu bekerja lagi dan malam adalah saat beristirhat.

Perbedaan waktu itu adalah irama yang diciptakan Tuhan untuk manusia. Mbah Nun lalu mengingatkan salat lima waktu. Subuh, Dhuhur, Asar, Maghrib hingga isya adalah irama. Irama itu semestinya menghasilkan perbuat baik hingga dihasilkan ruang dan waktu. Perubahan waktu setiap salat adalah irama untuk selalu menciptakan kebaikan, salat semesetinya sebuah refleksi atas apa yang telah diperbuat.

Bab irama, Mbah Nun mengingatkan perihal hari dalam keseharian. Urutan awal hari semestinya Ahad. Ahad berdekatan dengan wahid, utama. Jadi aktivitas semisal bekerja, bekerbun, bertani hingga ke sekolah dimulai di hari minggu atau Ahad lalu berakhir di kamis. Jumat manusia semestinya berhenti atau melakukan rekapitulasi. Rekapitulasi itu semacam proses refleksi diri. Hal—hal apa yang perlu diubah dari Ahad hingga Kamis. Sabtu itu perenungan. Namun manusia menjadikan Sabtu atau libur untuk bersenang—senang.

Mbah Nun selalu menceritakan dengan sederhana dan mudah dipahami. Mbah Nun mengingatkan untuk tidak sibuk menciptakan perabot—perabot. “Manusia harus menciptakan ruang bagi dirinya sendiri,” ujar beliau.