Tidak sampai setahun, Indonesia akan langsungkan Pemilu. Gegap gempita, ontran-ontran kampanye, sudah berlangsung bertahun belakangan. Puncaknya, bulan-bulan ini. Jika belum kenal maiyah, apalagi hidup dalam atmosfernya, nalar saya bisa terjangkit virus 3C: ciut, cupet dan cethek. Fokus gampang teralihkan kabar yatim-piatu, tanpa sangkan paran.

Maiyah dalam jangka pendek setahun ini adalah imunisasi 3C paling tepat. Berparameter membludaknya jamaah di simpul-simpul, motif yang beragam bergaris besar tren medsos kekinian. Seringkali buih permukaan itu bahkan jadi tema bulanan. Jika dulu menyelami kedalaman ilmu rutin dilakukan, saat ini ajakan tabayyun atas kehebohan fenomena lebih diprioritaskan dalam forum. Rupanya, inilah yang dinanti-nantikan sebagian besar jamaah: temukan jamu pegel hoax.

Jangka menengah sampai 2025 versi Mbah Nun adalah jadi empu. Profesi ditekuni, tidak sekadar bisa tapi harus paling bisa. Ketika sudah jadi rujukan, mudah klarifikasi informasi. Dari sini lantas muncul Opinium yang bertujuan kembalikan peran otoritatif dalam simpang siur informasi.

Jangka panjang sampai anak-cucu adalah tinggalkan warisan berupa keluasan berpikir. Tentu untuk wujudkan itu tiap jamaah harus jadi orangtua ideal menurut maiyah terlebih dahulu. Misi ini akan munculkan banyak kebun maiyah di tiap-tiap rumah tangga jamaah. Bak bola salju, sikap hidup jalan tengah ini lambat laun akan pengaruhi lingkungan sekitar dan semoga sampai skala dunia.

Langkah bertahap ke depan sudah matang. Tidak ada waktu luang untuk sekadar nikmati riak politik atau panggung ketenaran. Setia berjalan di lorong sunyi. Berikan solusi nyata, sesederhana ketenteraman. Di manapun jamaah maiyah berada. Dari personal berevolusi jadi komunal. Harapannya, jika sesuai dengan ‘amr Gusti Allah, internasional.

Konon, tiap zaman miliki pengawal yang dikirim langit. Tokoh-tokoh berikut gagasannya bak pembawa obor lintasi hutan di kala malam. Dari minyak tanah beralih ke senter berbatu Ni-Mh, dan kini cukup dengan gawai digital bercahaya flash. Pembaruan pola pikir inilah strategi maiyah. Sebuah gerakan budaya bervisi penyadaran.

Gaya hidup maiyah jadi pilihan hidup paling masuk akal memasuki zaman pasca-negara. Ketika permasalahan duniawi bahkan spiritual tidak bisa diselesaikan sistem ketat terstruktur, maiyah hadir. Walau tetap saja, dipakai silakan, ditinggalkan juga gak patheken. Terpenting, la ubali, asal Gusti Allah tak marah.

BERBAGI
Ihda Ahmad Soduwuh
Jamaah Maiyah yang berdomisili di Semarang dan berkeseharian dengan membaca buku, merangkum, dan menuliskannya kembali.