Maiyah Gambang Syafaat (GS) menyertai bulan Maret ini dengan mengambil tema “Generasi Empu”. Dalam mukadimah tema GS bulan ini disebutkan bahwa berulang kali Mbah Nun dawuh, Jadilah manusia otentik, menggali dari bahan yang ada di dalam diri, mengolah dari bahan di sekitar yang ditemui dan jangan silau terhadap dunia luar. Jika kita gumunan dan sering terpukau saat melihat orang lain dan sibuk menjadi orang lain, maka kita terobang-ambing ingin menjadi yang mana dari banyak yang kita saksikan itu. Otentik adalah mengenali diri sendiri dan mengembangkan diri sesuai kebutuhan. Melihat orang lain tentu saja boleh sebagai referensi dan pengetahuan. Dari tema dan mukadimah tersebut, jamaah Maiyah berdiskusi untuk bersama-sama belajar.

Pukul 20.00 wib, jamaah satu per satu, juga ada yang berkelompok, tentu ada yang membawa pasangannya bersama-sama melingkar. Sebagai awalan, Mas Fajrin membersamai jamaah membaca surah Yasin kemudian Kang Jion bersama-sama jamaah melantunkan munajat. Disebelah kiri halaman pelataran GS, para jamaah menunggu seduhan kopi gambang panas sebagai teman belajar. Disebelah kopi gambang, beberapa jamaah sebelum melingkar bersama, mampir untuk membeli kopiah Maiyah, kaos, buku-buku karya Cak Nun, atau sekedar mampir untuk melihat-lihat marchandise yang tersedia. Pukul 09.00 wib, sebelum Kang Yunan Setiawan bergantian untuk menjadi moderator, menemani jamaah berdiskusi malam ini, jamaah dihibur dengan Orkes Kalijagan. Membawakan lagu yang sedang hits-hitsnya, berjudul Qomarun.

Sesaat kemudian, Kang Galih dan Kang Malik menemani Kang Yunan membawa suasana untuk mendiskusikan tema GS bulan ini. Kang Muhajir juga melingkar bersama. Kang Yunan mengatakan bahwa, kita saat ini mengenal generasi Z yaitu generasi yang kalau tidak salah lahir antara tahun 1990-an sampai 2000-an. Sebelumnya ada genersai Y dan seterusnya. Tema kali ini Generasi Empu. Mbah Nun bulan lalu mengatakan bahwa kita harus menjadi ahli, empunya apa yang kita geluti. Selain itu Mbah Nun juga mengatakan bahwa kita harus menjadi diri kita sendiri, artinya sebagai makhluk yang diciptakan Allah dengan kesempurnaannya bisa menjadi manusia yang autentik. Menjadi diri kita sendiri.

Tanpa menunggu lama, respon-respon terkait tema malam ini berdatangan dari jamaah. Respon pertama datang dari seseorang yang berasal dari Semarang, ia mengatakan bahwa generasi empu adalah generasi yang ahli. Ia melanjutkan, bahwa mungkin tema malam ini masih nyambung dengan tema bulan lalu yaitu Menimba Pada Cermin. Bulan lalu Mbah Nun mengatakan bahwa kita harus menjadi seseorang yang ahli, ahli dalam bidang-bidang yang kita geluti. Repon selanjutnya datang dari Mbak Gita asal Semarang. Ia memaparkan bahwasannya yang dimaksud generasi empu adalah generasi yang ahli, karena empu berarti ahli dalam suatu hal. Dan kita sebagai generasi saat ini harus bisa menjadi generasi empu agar tetap eksis dalam persaingan sumber daya manusia.

Selang beberapa menit kemudian Kang HB.Arafat membacakan puisi yang ia persembahkan untuk Mbah Nun dengan judul “Sesobek Sejarah”. Lalu dilanjutkan lagu Lir-ilir oleh Orkes Kalijagan, Kang Jion pun ikut berduet dengan vokalis Orkes Kalijagan untuk meramaikan suasana malam tanggal 25 Maret ini. Asap kopi gambang mengepul, mengaromakan suasana keistiqomahan jamaah Maiyah belajar untuk mengenali diri sendiri dan mengenal Allah. Sesaat kemudian Gus Aniq ikut melingkar bersama jamaah.

Gus Aniq mengatakan bahwa sebenarnya kita sedang dilanda, dalam hal ketidaksadaran terhadap diri kita, bahwa kita itu manusia yang dititipi asma-asma Allah. Jadi Allah menciptakan makhluk, alam semesta dan kemudian semesta itu dititipi kepada kita. “Saya sering mengatakan bahwa manusia itu pusat semesta, maksudnya ialah manusia itu dititipi asma-asma Allah. Nanti bisa dikaitkan dengan empu, dengan pande, dengan ahli, dengan pakar, dan itu semua adalah turunan-turunannya. Sedikit dari sedikit nyicil tentang peradaban Adam sampai Hawa, bagaimana Hawa memandu, mendidik anak-anaknya. Terus hingga zaman Nabi Muhammad sebagai pelengkap secara periodik yang dulu sudah diriwayatkan, Nabi Muhammad melengkapinya dengan akhlak.”

Gus Aniq mengatakan bahwa untuk membicarakan generasi empu, kita harus kembali dengan diri kita yang dinamakan daulat, kedaulatan berpikir, berpikir yang orisinil. Orisinilitas manusia itu tentu tidak bisa lepas dari yang namanya tangan Allah. Itulah sebabnya apapun yang dikatakan milik kita itu disebut dengan ilmiah. Sekarang kalau ilmiah hanya disepakati dalam terminologi kampus. Padahal ilmiah ialah segala sesuatu itu yang dinisbatkan kepada Allah, ilmu Allah. Karena ilmiah adalah yang bernisbat pada ilmu dan kita dititipi ilmu dari Allah. Di Alquran kita dikhitobi Allah untuk menjadi ‘alim, karena tiap kali Alquran mengatakan i’lam, wa’lamu yang artinya supaya tahu. Maka yang paling tepat dalam Alquran, fa’lam annahu laaillaahaillallah, nanti hubungannya qulhuallahuahad. Kata hu yang menjadi pusat. Hu itu kan keno kinoyo ngopo, Dzat’e koyo opo sih?

Kemudian ada turunannya, yaitu kita dihadapkan dengan sistem Allah, sistem uluhiyyah. Maka muncul kata Allah, kata Allah kalau diwedari kuiillah yang artinya Sang Maha Mempengaruhi Apapun dalam diri kita. Tak ada yang bisa mengintervensi Allah. Allah turunannya nanti disifati ahad, al-wahid, as-somad, ar-rohmad sampai amr. Nanti amr juga melahirkan al-haq. Al-haq artinya nyoto (nyata). Kita bisa melihat pohon berdiri, sudah nyata pohon itu, juga bahwa kita harus punya kedaulatan ilmiah. Bahwa kenyataan yang didepan kita itu pasti bertingkat sampai diteruskan ke hu tadi, yakni Allah. Itu ilmiah namanya.

Lanjut Gus Aniq, “Untuk membicarakan empu, empu dalam bahasa Jawa yaitu yang ngampu atau sing ngrekso, sing ngrekso pertama kali biasanya disifati feminim, yaitu yang menjaga dan merawat. Maka dinamakan per-empu-an (perempuan). Pertama kali kita mengenal empu adalah orang yang membuat keris, tapi tukang yang membuat keris namanya pande. Ada wujud material dan immaterial disini. Kalau hanya pande, yang ia lihat adalah api dan besi. Tapi Kalau empu, dibalik pembuatan itu, dia benar-benar ngrekso, ahadiyyah. Bentuk manunggaling kepada Allah. Ini bedanya”.

Maka justru tradisi perbesian itu dikenal di Jawa. Kita mengenal ril kereta, lokomotif, dan sebagainya. “Apakah benar itu semua dibuat oleh Belanda?” Padahal empu, yang membuat keris, pande besi itu sudah ada sebelum Belandadatang, bahkan ketika peradaban Syith, Nuh dan Daud sudah ada peradaban besi. Peradaban-peradaban kita secara periodik sudah diajarkan oleh Hawa. Hawa adalah empu, sedangkan Adam adalah konseptor untuk melakukan gerakan, memanage apapun yang kemudian mengajarkannya ke Hawa. Hawa menjaga dan mengajari anak-anaknya. Maka inilah yang pertama kali disebut pendidikan. Pendidikan dimulai dari sifat abdun, sifat ngawula. Maka pertama kali akan disebut keluargo (keluarga) karena kawula-wargo, kerena sifat ngawula.

Gus Aniq melanjutkan bahwa karena Adam pertama kali nguru’i, mengajari Hawa, kemudian hawa mengajari anaknya yakni Qobil, Habil, Iqlima, dan Syith. Maka tradisi pendidikan dimulai dari Hawa, kemudian diturunkan mendidik anaknya, Qobil dan Habil. Termasuk ketika dua orang itu diminta untuk berkorban, salah satunya yang dilakukan Qobil adalah berkorban biji-bijian dan Habil berkorban dengan kambing. Kalau dikatakan biji-bijian berarti identik dengan pertanian. Kalau kambing identik dengan perternakan. Jadi kalau ada kasus disuatu tempat pertaniannya jelek dan peternakannya jelek, berarti kita tarik bahwa pengaruh pendidikannya itu jelek. Puncaknya adalah pendidikan semua. Namun bukan berarti pendidikan formal itu yang dimaksud.

Bagaimana lingkungan keluarga menjadi poros perhatian besar, yakni kawula-warga. Desa berkembang itu dimulai dari kawula, kumpulan dari kawula itu menjadi kawula-warga (keluarga), lalu disusun menjadi Dusun, bersatu memadu lan misusun, disusun sehingga menjadi Dukuh. Dukuh yakni sistem didalam Dusun, memadu lan ngerengkum. Sehingga menjadi Desa, para-desa jamaknya firdaus (surga), jamaknya faradisa, bahasa Inggrisnya yaitu paradise.

Jadi kalau ada slogan “Mbangun Desa Noto Projo” itu terbalik. Jadi jika yang menata (projo) belum dibangun, direkso tenanan, njur sing mbangun desanya bagaimana. Seharusnya membangun projo dulu baru bangun Desa. Sehingga bisa disebut pusat peradaban pertama kali yakni Desa, lanjut Gus Aniq, “Empu itu dikatakan pusaka, yakni soko ada sokonya. Soko pasti bersifat tegak, empu lah yang menjadikan saka atau pusaka. Seseorang yang benar-benar menegakkan, muqawwim, soko itulah yang ada dalam hati kita. Kita dititipi asma-asma Allah itu macam-macam, maka kita (manusia) disebut jagad cilik. Semesta ini merasuk didalam diri kita, maka kita disebut sebagai poros semesta, jagad cilik.

Empu itu sudah lama sebelum Belanda datang kesini (Nusantara). Gus Aniq bertanya, lalu yang membuat babakan ril kereta, besi, baut itu siapa? Katanya dulu jalan pantura dibuat oleh Daendles dari Anyer sampai Panarukan. Itu apakah benar-benar dibuat oleh Daendles atau sebenarnya semua itu sebelumnya sudah ada atau belum? Kalau dibuat oleh Daendles, harusnya ketika dia survey, survey yang seharusnya memakan waktu banyak. Apakah tidak berpikir saat survey mereka sudah mati karena dicegat oleh penduduk-penduduk lokal. Dikira zamannya Sunan Ampel, Pangeran Diponegoro saat memakai kereta, Jawa ini masih hutan semua? Harusnya sudah ada jalan. Itu pasti sudah ada jalan, sudah babat alas. Masa’ kapal Belanda membawa besi gelonggongan yang beratnya melebihi kapal mereka. Apa tidak takut ambles jika dikatakan Belanda yang membuat besi-besi itu? Dan saat ini Belanda tidak dikenal sebagai negeri pande besi, kenapa Belanda tidak terkenal dengan pande besi? Justru malah kita, Jawa yang dikatakan negeri pande besi.

Empu adalah yang ngrekso, empu diwakili oleh seseorang yang tingkat spiritualitas sudah tinggi. Walaupun belum bersyariat, tapi dia sudah nyawiji. Misalnya agama Kapitayan (yang sudah ada sebelum agama Islam) itu sudah mengenal Dzat Tuhan. Maka Nabi Muhammad melengkapi syariat-syariat yang sudah ada dengan berupa “akhlak”, lanjut Gus Aniq.

“Kita sudah kehilangan idiom-idiom penting kita. Karena kita ditutupi, kita terkaver babakan matrealisme, bukan immatrealism. Padahal di Alquran didahlulukan Alladzina aamanu bilghoibi wayuqimu… kita seharusnya ghaibnya dahulu. Kemudian jangan dikira yang tidak dilihat itu klenik(dedemit), bukan seperti itu. Kita iman itu bagian dari ghoib, baru assyahadah, ‘alimul ghaibi wassyahadah, makanya ada ‘alamul ghuyub, yang mengerti ilmu yang “tidak tampak”. Makanya konsep filsafat Barat tidak bermula dari iman, ciri-ciri mereka berangkat dari keraguan. Padahal kita sudah punya iman, seharusnya kita berangkat dari “kepastian”.

Sayangnya pemahaman seperti filsafat barat itu sangat subur dikampus. Maka dari itu, itulah yang tidak autentik. Sebagai pakar dan ahli itu berbeda. Pakar itu fakkar, tahapan pertama yakni berpikir. Tapi kalau sudah menep ilmunya jadi sebagai ahli. Makanya kita menganggap keluarga sebagai ahli, ahlun itu sudah menep. Sama saja jika kamu sudah tahu ilmunya, kalau kamu mengetahui sesuatu yang tidak enak atau salah dari bidang yang kamu geluti, kamu akan langsung bisa merasakan tanpa harus “dipikirkan” dahulu.

Itu artinya sudah ahlun, kalau pakar masih proses berpikir. Artinya kita dididik, diberikan daulat untuk menep ilmune. Menep iku mbalung sum-sum, sudah malakah, menep dan memiliki tenanan, sudah jadi istana dalam diri kita. Empu pasti punya dua hal yaitu ilmu yang diridhoi Allah dan laku. Laku itulah yang berat, karena itu tirakat, meninggalkan yang dianggap enak-enak. Tradisi Jawa terkenal dengan itu. Ada usaha untuk ngrekso. (Red-Maulana Malik Ibrahim)

BERBAGI
Redaksi Gambang Syafaat
Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.