Kantor-kantor polisi sekarang sering didatangi orang-orang yang melaporkan bahwa tokoh A telah berkata begini dan tokoh B telah berkata begitu. Banyak tindak pidana yang terjadi karena salah ucap, terlalu kasar berkata, atau terlalu vulgar berucap. Yang semula bermaksud humor bisa dikatakan penghinaan karena ada sekelompok orang tersinggung. Yang semula bermaksud hiburan bisa dikatakan penistaan karena ada sekelompok orang merasa terhina.

Konon, hanya di negara kita seorang tukang becak bisa misuhi kebusukan penguasa. Hanya di negara kita tukang ojek mengutuk kemewahan pejabat. Hanya di negara kita para pakar, aktivis, mahasiswa hingga orang biasa bisa nyaman-nyaman saja mengkritik pemerintah di ruang publik. Keadaan itu tentu sulit ditemukan di Singapura, Malaysia, dan beberapa negara lain. Kebebesan nyangkem bagi penduduk di negara lain adalah kemewahan. Kita tentu sudah merasakan kemewahan itu sejak dulu.

Namun, yang kita anggap kemewahan itu sekarang mulai sering diributkan. Dari tokoh politik sampai tokoh agama, semua menjadi sasaran pelaporan penghinaan, penistaan, pelecehan. Sayangnya, yang dianggap penghinaan itu bukan dari tindakan atau ucapanya, tetapi bergantung pada siapa yang mengucapkan. Maka, orang-orang mulai melihat kebenaran itu tidak berdasarkan objek kebenaran tersebut, tetapi bergantung pada siapa yang mengucapkan kebenaran tersebut. Penentuan mana kebenaran mana kesalahan bergantung pada figur yang mengucapkan. Dan, soal figur kita masih belum bersepakat pada satu figur yang dianut semua golongan. Sehingga yang terjadi adalah sosok figur itu dilihat sesuai dengan yang disukai dan dibenci.

Ketika figur yang disukai itu berbica apa pun, semua pernyataannya akan dianggap benar. Ketika figur yang dibenci berbicara apa pun, semua pernyatannya seolah terkesan salah. Meski terkadang ada juga dalam penyampaiannya mengandung kebenaran. Begitu juga sebaliknya.

Ini zaman ketika sekelompok orang mulai bebas menuntut, menghakimi, dan memvonis orang tidak disukai. Tidak peduli dari agama apa, golongan mana, dan suku apa. Semuanya berpotensi menjadi tersangka dan terdakwa. Ini memang zaman yang mulai merepotkan. Salah ucap bisa berakhir di tahanan. Salah menafsirkan bisa dibully warganet. Apa yang harus kita lakukan menghadapi zaman ini? Tanggal 25 April nanti Gambang Syafaat mengajak jamaah membahas apa yang kita sebut #zamansave. Zaman yang mudah melaporkan, zaman yang berisi orang-orang mudah tersinggung, zaman yang selalu sering menghadirkan tagar (#) save.

Nah, di zamansave ini kita sebagai jamaah Maiyah harus bagaimana dan berdiri di posisi mana? Mari kita mendataburinya sama-sama.

BERBAGI
Redaksi Gambang Syafaat
Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.