Baru minggu lalu aku memahami arti kalimat ‘maiyah sebagai organisme’ di satu grup WA yang diniatkan berisi penulis-penulis maiyah. Intinya prinsip yang Mbah Nun gariskan untuk maiyah bukanlah organisasi atau mengarah menuju pembentukan partai politik. Sedari kelahirannya saat Indonesia masih dicengkeram Suharto sampai sekarang ini maiyah mampu tumbuh dengan sendirinya. Lain dari perkembangan pada umumnya sebuah gerakan yang penuh rencana, maiyah mengalir begitu saja.

Di simpul-simpul maiyah yang tersebar di banyak kabupaten atau kota, pola tumbuh-kembang juga serupa. Bahkan menurut kisah beberapa penggiatnya, ada fase-fase di dalamnya. Dari yang mulai hanya segelintir orang menjadi tiba-tiba kerumunan. Semula hanya penuh jika Mbah Nun pasti datang sampai niat datang tanpa melihat siapa pembicaranya. Biasanya yang sudah kondisinya seperti terakhir tadi memiliki ikatan batin dengan simpulnya.

Awal kuikuti maiyah di Semarang juga begitu. Hadir jika Mbah Nun mengisi maiyahan di sekitar kota. Seolah menghindari Gambang Syafaat yang bertempat di Masjid Simpanglima. Aku masih ingat saat itu egoku masih begitu menjulang. Tidak mau mendengar jika belum segan, respek, dan kalah pada si pembicara. Ini bawaan sejak berada di bangku sekolah sampai kuliah. Jika dosen saja berani dikoreksi di depan kelas, apalagi manusia yang tak punya kepentingan denganku?

Semua itu tadi berubah sejak negara api menyerang. Eh, maksudnya invasi modal duet antara pemerintah dan pengusaha negeri Tirai Bambu. Terbentur beberapa permasalahan lobi dengan pemerintah membuatku mencari penalaran dan strategi. Larilah ke Gambang Syafaat. Pertama kali mengikuti langsung jatuh cinta meski asap rokok mengepul bak kabut di negeri atap dunia. Rupanya para pembicaranya sudah khatam bab komunikasi publik terutama public speaking.

Pertama, ada Pak Saratri. Beliau ini menduduki jabatan-jabatan penting di kampusnya mengajar. Bahasan beliau bisa meliputi apa saja, meski seringkali menyangkut birokrasi pemerintahan. Kedua, Pak Ilyas. Dosen ini bisa dikatakan bertolakbelakang dengan Pak Saratri. Anggap saja dosen mbeling dengan metodenya melihat dunia akademik.

Ketiga, Om Budi Maryono. Penulis kawakan ini bisa dikatakan memiliki fans tersendiri, maklum, selebritis. Beliau memiliki acara bulanan setiap tanggal 15 kalendar masehi di kedai kopi Kopium milik pak Guspar Wong. Bahasan beliau biasanya tentang kehidupan sehari-hari yang dicari keterlibatan Tuhan di dalamnya. Jika beruntung, Jamaah Maiyah khususnya di Gambang Syafaat bisa menikmati penampilan beliau saat membaca puisi atau cerpen.

Keempat, Mas Mohammad Aniq. Pak dosen ini nyentrik dengan pengetahuan teks Islam yang mendalam. Bisa dikatakan jika pembicara-pembicara sebelumnya berkisah tentang menyapa Tuhan melalui pengalaman, beliau ini mengenalkan aturan main ala Tuhan melalui pengetahuan. Selain mengampu kajian SInau Daur di Ponpes Rkss tiap sebulan sekali, beliau juga membuka kajian kitab tiap hari Selasa selepas Salat Isya di tempat yang sama.

Kelima, Mas Agus Wibowo. Jika ada yang ahli berbicara seputar budaya Jawa dengan lancar dan tekstual di Gambang Syafaat, beliaulah orangnya. Sangking cepatnya berbicara bab Jawa, saya sampai tak bisa mengikuti kecepatan dalam merangkum via livetweet. Om Budi dan Mas Aniq beberapakali merekomendasikan beliau untuk ditimba ilmunya. Arahan yang membuatku mendatangi Maiyahan Rutin untuk daerah Ungaran yaitu Gugur Gunung. Di sana, Mas Agus dan Mas Mujiono Jion menjadi pembicara utama.

Nah, bagaimana dengan Mas Em Ali Ef dan Mas Muhajir Arrosyid? Keduanya berperan sebagai pengantar Jamaah Maiyah memasuki tema yang telah dipersiapkan. Jika para pembicara adalah desa ilmu, keduanya adalah gerbang desanya. Cara beliau-beliau ini mengamati fenomena sosial dan menyaringnya menjadi bahan yang layak didiskusikan sangatlah keren.

Nah, ada sosok unik juga di Gambang Syafaat. Tak lain dan tak bukan yaitu Kang Dur. Pria berkepala plontos ini menurut penuturan Mas Aniq adalah militan maiyah sebab ke manapun rela pergi untuk bertemu Mbah Nun. Peran sebagai pembawa acara dilakoninya dengan sangat apik dan epik. Ia seperti mas-mas yang berteriak ‘e a e o’ atay celetukan lain dalam sebuah pertunjukan dangdut koplo. Kelihaiannya membuat suasana menjadi lebih hidup ini juga nampak dalam ngaji rutinan tiap Hari Kamis di Santrendelik atau Minggu Wage tiap selapanan sekali.

Manusia-manusia tadilah pengisi Gambang Syafaat menjadi sebuah acara yang kunantikan tiap bulan. Menjadikan iqra terhadap situasi dan keadaan terkini menjadi lebih mudah dan bahagia. Selain itu juga mampu membuat jadi lebih ingat dan waspada pada apa yang telah, sedang, dan akan terjadi di negeri ini. Tanpa beliau-beliau mungkin saja Gambang Syafaat hanya menjadi acara pengajian yang membosankan hanya itu-itu saja. Jika Gugur Gunung disebut sebagai laboratorium budaya Jawa, Gambang Syafaat adalah seminar tempat berbagi gagasan dalam nuansa kebahagiaan.

Tak heran jika acara ini mampu mengundang ratusan orang hadir tiap bulan. Meski seringkali harus berdesakan kala hujan mengguyur, tetap saja semangat jamaah menghibur diri lewat ilmu ini tak bisa dianggap sepele. Seolah organisme maiyah yang bernama Gambang Syafaat ini mampu memunculkan rindu bagi para jamaahnya. Layaknya sebuah makhluk hidup yang bisa memuji Gusti Allah, bisa jadi si Gambang Syafaat yang telah berumur 18 tahun ini tengah memasuki fase Dhandanggula.

Mungkin aku salah dalam memposisikan Gambang Syafaat tengah berada di mana dalam tahapan hidup menurut Macapat. Sampai saat menulis ini pun aku masih meraba di mana Gambang Syafaat berada. Mungkin pergumulanku di dalamnya masih sebatas penonton sehingga kurang begitu mengenali sosok misterius itu. Aku masih ingat ucapan Mbah Nun bahwa sebatang rokok pun bisa bertasbih pada Gusti Allah, apalagi sebuah acara dengan nama yang menempel belasan tahun lamanya.

Nanti malam aku tak punya harapan apa-apa pada ulang tahun Gambang Syafaat. Seperti yang sudah-sudah, yang kuniatkan sebelum berangkat hanyalah menimba ilmu, baik melalui berbagi pengetahuan maupun pengalaman. Aku yang masih muda, nakal, dan sudah punya anak istri tentu butuh banyak pegangan agar tak tercebur ke lubang. Tak ingin menjadi keledai yang mengulangi kesalahan oranglain itulah yang memicuku memacu kuda besi menembus hujan badai sekalipun.

Akhir kata, dari Gambang Syafaat inilah aku banyak memperbaiki diri. Entah sebagai anak, suami, teman, tetangga, maupun bagian dari masyarakat. Darinya pula aku menempa diri agar mau merendahkan hati menerima siapapun asalkan membawa kebaikan dan kebenaran. Menanggalkan ego demi sesuatu yang mulia seperti cinta pada Gusti Allah dan Kanjeng Nabi yang diutus-Nya untuk benahi akhlak manusia.

BERBAGI
Ihda Ahmad Soduwuh
Jamaah Maiyah yang berdomisili di Semarang dan berkeseharian dengan membaca buku, merangkum, dan menuliskannya kembali.