blank

Izinkan reportase ini di awali oleh sebuah pertanyaan wagu. Pernahkah selama para jamaah mengikuti Forum Maiyah Gambang Syafaat tidak tertawa? Kalau ada yang tidak pernah mungkin anda bisa saja mengikuti Gambang Syafaat tidak sampai tuntas. Atau mungkin saja anda secara kebetulan tidak bertemu dengan para pengisi yang sering membuat jamaah tertawa. Pada edisi 25 Agustus 2017, Gambang Syafaat berlangsung lancar seperti biasanya. Bulan bersinar seterang warna rambut dan busana Syekh Nursamad Kamba: putih. Pada pertemuan kali ini jamaah Gambang Syafaat diberkati oleh Allah untuk bertemu salah satu marja’ Maiyah Syekh Nursamad Kamba.

Ini adalah pertama kalinya Syekh Nursamad Kamba hadir menyambangi sedulur Gambang Syafaat. Seringnya Syekh Nursamad menemani Jamaah Maiyah Kenduri Cinta (Jakarta). Dan adalah sebuah rezeki besar para jamaah di Gambang Syafaat bisa bertemu beliau di Semarang tanpa perlu di Jakarta. Syekh Nursamad tentu tidak sendirian. Selesai Syekh Nursamad menyampaikan pemaparannya, Pak Ilyas menyambungnya dengan penyampaian yang khas, bertema atau berlatar kehidupan kampus.

Dari cerita-cerita Pak Ilyas lah para jamaah bisa merasakan tawa. Sebab seringkali apa yang diceritakan Pak Ilyas adalah sebuah yang mengajak kita untuk menertewakan diri sendiri, menertawakan profesi sendiri, menertawakan lingkungan sendiri. Lho kok diri sendiri ditertawakan? Justru karena kita sering menertawakan orang lain kita lupa bagian dari sisi kehidupan kita memang pantas ditertawai. Dengan cara menertawai diri sendiri sebenarnya kita belajar bagaimana bersikap berendah hati di hadapan orang lain, melepaskan simbol-simbol profesi yang disandang.

Di malam itu Pak Ilyas menerangkan bab koneksitas. Kalem. Bab ini tidak akan kelihatan berat kalau yang menyampaikan Pak Ilyas. “Koneksitas sebagaimana benda dalam IPA (Ilmu Pengetahuan Alam), setiap benda itu akan butuh ruang. Sebagaimana manusia yang juga selalu butuh ruang.” Koneksitas ini bisa menghubungkan dengan ruang yang lain. Keperluan koneksitas ini terjadi jika kita tidak nyaman di satu tempat dan menemukan kenyamanan lain di tempat lain. “Kalau orang sudah tahu seluk-beluk kantor dan tidak menemukan koneksitas maka ia harus menggeser atau mengganti posisinya untuk menemukan koneksi lain.”

Koneksitas dan koneksi yang berarti penghubung atau hubungan mengibaratkan benda-benda yang menghubungkan kita kepada Allah. “Jika di kantor tidak menemukan koneksi dengan Tuhan, maka kita perlu keluar kantor mencari tempat lain yang mengoneksikan kita dengan Allah.” Bisa saja koneksi itu menghubungkan banyak tempat. Tapi di sini di Gambang Syafaat berusaha mengoneksikan anda dengan Allah. “Kalau tidak bisa menemukan koneksitas, lha Maiyah adalah bentuk penawaran kita mencari koneksi sehingga mendapat cahaya.”

Cahaya di Maiyah Gambang Syafaat itu bisa diartikan para pengisi dan jamaah yang berusaha berendah hati dalam mencari ilmu hidup. Kerendahatian itu menghindarkan kita dari perasaan merasa benar atau yang paling tahu kebenaran. Gambang Syafaat tidak memposisikan diri sebagai penentu kebenaran. Ia hanya wadah untuk menemukan cahaya yang menerangi kita dalam kegelapan di luar yang berjubah permusuhan, prasangka, saling tuduh, tebar fitnah, dan lain sebagainya.

Gambang Syafaat menyediakan forum kita lesehan bersama membincangkan suatu persoalan tanpa tegangan sentimena anutan agama dan benturan ormas. Duduk sama-sama duduk, berdiri sama-sama berdiri, sinau sama-sama sinau. Kata Pak Ilyas, ”Jangan dikira saya tidak pernah belajar dari jamaah, saya belajar mas. Dari anak sendiri pun saya belajar.” Pernyataan menandakan ada siklus mutualisme yang terjalin di Gambang Syafaat. Para jamaah datang untuk belajar kepada para pengisi, para pengisi juga sebaliknya belajar dari para jamaah dari keikhlasan datang, duduk berjam-jam di atas paving, mendengarkan dengan seksama, mengikuti acara sampai pagi. Di Gambang Syafaat dan forum Maiyah di pelbagai tempat pemandangan itu lazim kita temui.

Tidak merasa kelucuan Pak Ilyas? Kelucuannya bisa anda temukan dengan mudah setiap pertemuan di Gambang Syafaat. Tapi malam itu kita bisa tahu Pak Ilyas juga bisa serius. Catatan ini adalah buktinya. (Redaksi-Yunan)