blank

“Sederek-sederek, saya minta maaf. Satu, saya tidak fasih bicara sambil gurau. Kedua, saya tidak fasih membuat anda tertawa.” Kalimat itu diucapkan Pak Uki Bayu Sedjati ketika mengawali ucapanya saat menjadi pembicara di Gambang Syafaat pada 25 Juli 2017 lalu. Kata Pak Uki (Uki Bayu Sedjati), beliau datang ke Gambang Syafaat karena disuruh oleh Mbah Nun. Jamaah Maiyah Gambang Syafaat memang tidak akrab dengan Pak Uki. Mungkin baru kali ini para jamaah Gambang Syafaat melihat dan mendengarkan ceramah Pak Uki Bayu Sedjati di atas panggung. Pak Uki mengatakan bahwa beliau sudah beberapa kali datang ke Gambang Syafaat menemani Mbah Nun tapi hanya berkeliling di pinggir, belakang, dan depan panggung. Beliau mengakui tidak cakap berbicara dan tidak bisa selihai Mbah Nun berbicara. Maka ketika memegang mikrofon, kalimat pertama yang diucapkan Pak Uki adalah permintaan maaf.

Pak Uki meminta maaf meski beliau tidak melakukan kesalahan. Beliau juga tidak bersalah kalau pun retorikanya tidak bisa membuat para jamaah tertawa. Tapi perasaan rasa bersalah itu bisa membuat kita belajar menghargai setiap pembicara yang tidak bisa membuat para jamaah tertawa. Permintaan maaf yang disampaiakan Pak Uki karena takut tidak membuat para jamaah tertawa menandakan bahwa ada rasa ketidakenakan dan rasa sesal jika tidak mampu membuat para jamaah sumringah.

Membuat orang tertawa dan sumringah itu sulit. Sebab membutuhkan kelihaian bercerita dan menempatkan guyonan pada tempat yang tidak menyalahi etika-etika sopan santun. Di Gambang Syafaat dan mungkin di forum Maiyah yang lain, tertawa adalah ekspresi kesyukuran dan kegembiraan. Bisa jadi orang-orang datang ke Maiyah hanya untuk merasakan tertawa seikhlas-ikhlasanya dan segembira-gembiranya. Cara itu pun sah dan tidak salah. Di saat lingkungan kerja dan lingkungan pergaulan sangat pelit menyediakan ruang bercanda. Dan media-media lebih sering mengajak kita berkerut kening atau menjadikan kita sebagai manusia yang pelit senyum. Menemukan ruang yang berbagi tawa adalah kemewahan. Di Gambang Syafaat dan Forum Maiyah lainnya ruang itu terbuka lebar bagi mereka yang ingin merasakan kenikmatan tawa.

Mbah Nun sering menyajikan tawa dalam bentuk wejangan, celoteh, dan ceramahnya. Semua bisa kita tertawakan. Di kala para pelawak di televisi mengajarkan cara tertawa itu harus mengejek kegembelan orang lain, kedekilan orang lain, dan kegagalan nasib orang lain. Di Maiyah kita diajari menertawakan diri sendiri, nasib kita sendiri, dan kondisi kita yang carut marut ini. Cara itu setidaknya, meski dalam koridor sangat kecil, bisa menghindarkan kita dari kegampangan menyalahkan orang, kelompok, dan ormas lain. Dengan menertawakan diri sendiri kita seperti menyadari kelemahan dan kepayahan diri kita. Maka bolehlah kita menyebut tiada kenikmatan lain selain menertawakan diri sendiri.

Apakah seorang pembicara di Maiyah harus dan wajib membuat jamaah tertawa? Pertanyaan ini kalau dijawab dengan merujuk pada pernyataan Pak Uki di awal, rasanya tidak. Di kala semua para jamaah larut dalam aktivitas cekakan dan menghindarkan Forum Maiyah dari kesan hanya untuk tempat cekakan saja. Sosok dan retorika seperti Pak Uki kita rasa perlu. Itu bisa jadi penyeimbang irama dan suasana Maiyah. Dan kita bisa tahu orang yang bisa membuat orang tertawa dan orang yang membuat kita berpikir serius tanpa tertawa semuanya sama-sama mendapat tempat dan kehormatan.

Dari Pak Uki kita tahu ada “beban” di pundak para pembicara saat gagal membuat para jamaah tertawa. Ada “kesedihan” di benak pembicara di saat gagal membuat kita cengengesan. Mungkin ada pilu di hati ketika suara-suara tertawa jamaah tidak terdengar. Sampai-sampai suara tertawa para jamaah bisa meninggalkan rasa bersalah kepada para pembicara, jika suatu pertemuan tidak bisa menghadirkan tawa.

Menginginkan para pembicara “harus” melucu juga seperti memberinya “beban”. Tapi kita perlu tahu disaat para jamaah dan para pembicara luruh dalam satu tawa, gambaran suasana kekeluargaan yang akrab kita rasakan. Tidak percaya? Silakan cari gambar di Forum Maiyah yang mengabadikan para pembicara dan jamaah luruh dalam satu tawa, khususnya saat ada Mbah Nun. Di situ kita bisa melihat suasana keakraban sedulur Maiyah. Suasana kekeluargaan yang digambarkan dalam satu tawa. Kita bisa agak sembarangan menyimpulkan bahwa dari suara tawalah kita semakin dekat dan erat. Sampai-sampai kita memberi “beban” dan rasa “salah” kepada para pembicara yang tidak bisa membuat para jamaah tertawa.

Tapi rasa sesal dan salah yang dirasakan para pembicara saat gagal menghadirkan tawa kepada jamaah seperti menggambarkan bentuk kelembutan hati. Di luar sana orang-orang bisa dengan gagah dan bangga bisa membuat orang adu kemarahan dan kekuatan. Di atas panggung Maiyah kita mendapati seseorang meminta maaf hanya takut tidak bisa menghadirkan tawa.

Sebuah permohonan maaf yang diiringi kerendah hatian. Meskipun tidak membuat para jamaah tertawa pun sebenarnya para pembicara tidak bersalah. (Redaksi/Yunan)