blank

Malam ini (25/9) hujan mengguyur Kota Semarang. Acara Maiyah Gambang Syafaat tetap berjalan seperti biasanya. Hujan tidak menyurutkan para jamaah Gambang menghadiri acara rutinan setiap tanggal 25. Kehadiran Jamaah menjadi bukti kerelaan berbaur, silaturrahim, dan sinau bareng menyikapi keadaan zaman agar memiliki presisi dan ketepatan sikap hidup. Tentunya kedatangan jamaah bukan karena kesepian di kos maupun di rumah, apalagi faktor untuk mencari jodoh, bisa dipastikan bukanlah tempatnya. Tema Menyongsong Zaman Waras diangkat untuk mencari berbagai kemungkinan dan jalan ikhtiar dalam melangkah dan bertindak.

Acara dimulai dengan pembacaan Alquran oleh Kang Nasir, dan Munajat oleh Kang Haq, dan Kang Jion. Pembahasan tema ini dimulai oleh Mas Muhajir Arrosyid dengan mempersilahkan empat jamaah tampil ke depan untuk menyampaikan alasan hadir di Maiyah Gambang. Mereka adalah Nashir asal Lampung, Anggi dari Gresik, Mbak Arya asli Gubug, dan Sigit kelahiran Ponorogo. Keempat jamaah tersebut memiliki argumen yang berbeda dalam bermaiyah. Ada yang bertujuan mencari sahabat, ada yang ikut ingin tahu bermaiyah, dan ada yang berpendapat bermaiyah adalah tempat untuk belajar, menghargai sesama, dan menerima berbagai kalangan. Bermaiyah tidak mengenal kelas, jamaah berstatus sama tidak ada istilah alit maupun elit. Selain itu, jamaah bebas mengungkapkan pendapat bahkan di luar tema yang ditentukan.

Selanjutnya, tema Menyongsong Zaman Waras dipaparkan, dikomentari, dan dijelaskan oleh para pembicara. Acara ini dipandu oleh Mas Hajir dan Mas Jion. Mas Hajir membacakan Mukadimah Menyongsong Zaman Waras dan Mas Jion memberikan pancingan-pancingan dengan maksud para jamaah mempunyai gambaran, pandangan, dan pemahaman terkait tema. Manusia seharusnya memiliki kewarasan dan prinsip di tengah maraknya situasi dan arus informasi yang berkeliaran. Jangan mudah terpengaruh dan percaya terhadap berita di sekitar kita, ungkap Mas Hajir. Sedangkan Mas Jion menuturkan perlu adanya keseimbangan dalam hidup antra logika dan rasa. Logika saja belum cukup tanpa diimbangi dengan ketenangan jiwa sebagimana istilah Jawa: Menepke roso, jernihke pikir. Oleh sebab itu, keempat unsur pada diri manusia harus dikontrol agar berperan seimbang yaitu api, tanah, angin, dan air.

blank
Foto: Eka Kurniawan | Lokasi: Komp. Masjid Raya Baitturahman Semarang, 25 September 2017

Setelah memberi paparan singkat, moderator meminta Gus Aniq untuk memberikan pandangan perihal tema. “Saya ini sudah waras belum ya. Jangan-jangan saya belum waras.”tutur Gus Muhamad Aniq sebagai prolog.

Ungkapan Gus Aniq seakan memberi penegasan kepada jamaah agar bermuhasabah, evaluasi diri. Gus yang satu ini identik dengan i’tibar, contoh saat menjelaskan persoalan. Dia menceritakan beberapa pengalaman hidup yang berkaitan dengan kewarasan dan ketidakwarasan. Misalnya, Ketika ada orang naik sepeda berhenti saat lampu merah. Aneh tapi nyata. Orang naik sepeda saja berhenti, apalagi motor dan mobil. Jika berdasarkan kaidah umum, tidak ada aturan orang naik sepeda berhenti saat lampu merah karena dianggap tidak waras, tetapi sebenarnya itu waras berdasarkan kesadaran, ketaatan dan ketertiban terhadap lalu lintas. Oleh sebab itu, perihal waras dan tidak waras perlu pemahaman yang berkelanjutan karena kewarasan akan menjadikan ketidakwarasan jika tidak tepat waktu dan tepat tempat. Padahal kitab suci Alquran memberikan pelajaran kepada kita agar selalu berpikir: afala tatafakkarun, mengerti: afala ta’lamun, berakal: afala ta’qilun, dan sebagainya. Tentunya ajaran dalam Alquran menuntun manusia agar memiliki kewarasan dalam menjalani kehidupan.

blank
Foto: Eka Kurniawan | Lokasi: Komp. Masjid Raya Baitturahman Semarang, 25 September 2017

Berbeda dengan Gus Aniq, Kang Ali Fatkhan selaku pembicara dikenal dengan identifikasi terkait tema yang diangkat. Orang dikatakan waras memiliki tiga ciri. Pertama, memiliki rasa malu. Kedua, dapat membedakan baik dan buruk. Ketiga, perasa. Selanjutnya, strategi dalam menghadapi orang tidak waras ada dua cara, yakni dimaklumi serta dikasihani dan menetralisir (ambil tindakan). Kang Ali menyampaikan premis, waras itu untuk mengukur apa? Memang pernyataan Kang Ali benar juga. Jika waras itu dianalogikan sebagai alat apa yang menjadi objeknya. Penggaris digunakan untuk mengukur panjang dan lebar, timbangan sebagai alat megetahui berat dan ringan barang tertentu. Nah, waras apakah digunakan mengukur ketidakwarasan seseorang. Abstrak. Kewarasan itu tidak konkrit karena tidak memiliki standar yang pasti.

Paparan berikutnya disampaikan oleh Pak Budi Maryono penulis buku Bapak Nakal. Menurut pandangan beliau, zaman tidak ada yang edan:gila. Predikat gila itu melekat pada diri manusia karena manusia sebagai subjek:pelaku. Gila dalam hal ini bukanlah hilang akal sehat, tetapi dikarenakan sempitnya pandangan dan pemahaman dalam menyikapi persoalan sehingga cara berpikirnya sempit tanpa menggunakan berbagai pertimbangan. Predikat gila harus dihijrahkan menuju kewarasan. Istiqomah dengan ketidakwarasan jelas membahayakan. Namun waras saja belum cukup jika manusia tidak mengetahui ketidakwarasan. Hal ini disebabkan waras dan tidak waras sudah menjadi ketentuan. Ada baik ada buruk. Ada lelaki ada perempuan. Ada tua ada muda. Jika manusia tidak dapat membedakan dan menempatkan keduanya akan terjebak dengan fenomena kehidupan yang akan bermunculan. Pak Budi mencontohkan ungkapan “situ waras?” yang semula digunakan untuk menyapa seseorang dan bernilai mulia, sekarang dikonotasikan sebagai ejekan. Padahal ungkapan tersebut tidak beda dengan sapaan “anda sehat?”, “sampeyan sehat?”, “jenengan sehat?”.

Jadi, jika kita bertemu dengan seseorang teman dan saudara yang lama tidak berjumpa perlu dipertimbangkan saat mengucapkan sapaan di atas karena jangan-jangan kita dianggap mengejek. Ketidakwarasan tidak boleh dirawat, saatnya menuju derajat kewarasan dengan cara belajar, pungkas pak Budi.

blank
Foto: Eka Kurniawan | Lokasi: Komp. Masjid Raya Baitturahman Semarang, 25 September 2017

Penutup pandangan dan paparan tema Menyongsong Zaman Waras disampaikan oleh Pak Ilyas. Beliau ini identik dengan pandangan tentang kehidupan kampus. Waras dan tidak waras dapat terjadi dimanapun bahkan di lingkungan kampus. Tuturnya. Nah, pembicara yang satu ini mengajak jamaah memotret kewarasan di sivitas kampus. Kampus seharusnya memberikan teladan kewarasan dalam menyikapi persoalan. Jangan sampai kampus berubah peran menularkan virus ketidakwarasan. Kewarasan dan lawannya sangat beriringan, keduanya dapat saling bersaing dan lebih dominan salah satunya. Tugas kita adalah menyaring dan mengontrol agar kewarasan tetap tertanam. Ketepatan pandangan dan pemahaman bagian dari solusinya. Hal ini dikarenakan waras dan tidak waras tidak ada standar yang pasti. Keduanya bergantung pada pemahaman agama yang diyakini oleh manusia, ungkap pak Ilyas.

Tentunya acara Gambang Syafaat turut dimeriahkan oleh penampilan musik TIMIKI yang dipandu Pak Widyo Babae Leksono (Babae) dengan lau-lagu berbahasa Jawa seperti “Kirik Anak Asu” dan selingan penampilan puisi Mas Yanto, Mas Nugroho, dan Arafat. Dan ditutup dengan do’a oleh Gus Aniq serta dilanjutkan makan tumpengan syukuran kelahiran anak kedua dari Gus Aniq. (Muhamad Muhajir)