blank

Aku sudah mengalami lebaran 36 kali. Alhamdullilah. Pengalaman yang paling jauh tentang lebaran yang aku ingat adalah usia sebelum aku sekolah. Malam takbir aku menangis karena ditinggal oleh Ibu dan Bapak takbir keliling. Sedangkan aku ditinggal di rumah Si Embah. Aku digendong ke sana ke mari oleh Si Embah dan untuk menghiburku dinyalakanlah kembang api.

Selain baju baru, kembang api, rumah di cat warna-warni hal yang tidak kalah seru di saat lebaran adalah menghapal akad meminta maaf. Tradisi berkunjung dari rumah ke rumah untuk saling memaafkan adalah hal yang wajar di bulan lebaran. Yang muda mengunjungi yang tua, murid ke guru, santri ke kiai, dan lain sebagainya. Kami anak-anak biasanya susah menghapal akad meminta maaf dengan bahasa Jawa. Begini contohnya: Mbah kulo nyuwun ngapuro sedoyo kalepatan kulo wonten dinten riyadin niki. (Mbak saya minta maaf semua kesalahan saya di hari raya idul fitri ini).

Contoh yang lain: Lik kulo ngaturaken sedaya kelepatan kulo engkang kawolo sengojo punopo mboten kulo sengojo wonten dinten riyadi puniko. (Lik, saya minta maaf atas segala kesalahan saya yang disengaja maupun tidak dihari raya ini). Kalimat akad meminta maaf itu memang pendek, tapi bukan perkara gampang menghapalkannya karena kami anak-anak tidak memahami artinya. Kami biasa menggunakan bahasa Jawa ngoko, tidak biasa menggunakan bahasa Jawa kromo.

Akibatnya apa? Akibatnya saat sungkem dan melafalkan akad kami anak-anak seringkali hanya bisik-bisik tidak jelas. “Lik kula nyuwun ngapunten……..@#@!$%%”. Orang tua yang ada dihadapan kami akan segera menjawab jika kami sudah selesai bisik-bisik itu. “Yo pada-pada sing tua akeh dosane, moga-moga dosaku lan dosamu setahun iki dingapura Gusti Allah”

Tradisi akad minta maaf dan berkunjung ke sanak saudara adalah amalan bahwa dosa kepada Allah diselesaikan dengan Allah, dan dosa kepada manusia diselesaikan dengan manusia. Maka perlu meminta maaf. Namun sering kali permintaan maaf itu hanya basa-basi, hanya di bibir saja. Suatu ketika aku pernah minta maaf kepada seseorang, “Pak kula nyuwun ngapunten kesalahan engkang kawula sengaja kalih kesalahan engkang kawula mboten sengaja.”

Jika biasanya jawabannya adalah ‘ya pada-pada’ atau ‘ya sama-sama’ tetapi bapak yang satu ini unik. Ia malah bertanya, begini kalau menggunakan bahasa Indonesia. “Sik, nak kesalahan yang tidak kamu sengaja aku maklumi, tapi coba katakan satu saja kesalahan yang kamu sengaja yang kamu lakukan kepadaku. Nanti baru aku maafkan.”

Madiar, kontan aku langsung keringat dinginku bercucuran. Aku tidak siap mengatakan dengan jujur atas kesalahan yang aku lakukan kepadanya dengan sengaja. Sebenarnya aku tidak siap minta maaf. Kemudian aku ingat-ingat kesalalahan yang pernah aku lakukan kepadanya. Aku pernah ngrasani (membicarakanya di belakangnya), pernah juga mencuri mangganya, dan kesalahan-kesalahan kecil lainnya. Meski pun kecil aku tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya. Bukankah permintaan maaf yang tanpa berani mengakui kesalahan bisa dianggap permintaan maaf basa-basi.

Kepada sesama anak-anak atau sesama remaja biasanya kami hanya menggunakan kata-kata sederhana untuk akad minta maaf, seperti “Kosong-kosong ya?’

Di era sekarang ini akad meminta maaf makin tidak jelas. Bisanya menggunakan kalimat bahasa Arab, “Minal Aidin wal faizin ya?” kemudian yang dimintai maaf segera menjawab “sama-sama”. Mereka tahunya arti “minal aidin wal faizin” adalah mohon maaf lahir dan batin. Sejak kapan arti minal aidin wal faizin berubah menjadi mohon maaf lahir dan batin?

Minal aidin wal faizin artinya semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang kembali (suci) dan bagian orang yang menang karena telah melewati Ramadhan. Perubahan arti tersebut saya kira didukung oleh lirik lagu-lagu religi yang keluar saat lebaran. Raja dangdut Rhoma Irama pernah mendendangkan sebuah lagu yang liriknya “Minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin.” Maksud lirik itu adalah kalimat terusan, bukan kalimat kedua arti kalimat sebelumnya. Kemudian kesalahkaprahan itu direproduksi di iklan TV, kartu ucapan selamat lebaran, dan lain-lain. Kita melanjutkan kebodohan. Hal ini terjadi karena masyarakat kita mengartikan membaca hanya membaca saja, tidak menelusur ke dasar makna. Selamat berlebaran. Mohon maaf atas segala kesalahan, semoga kita menjadi manusia yang bertaqwa dan kebenaran yang kita yakini menjadi kesalehan terhadap sesama. Amin.