blank

Di ruang istirahat tamu Makam Kanjeng Sunan Kalijaga Kadilangu Demak sudah ada beberapa tumpeng, ambengan, jajan berupa semangka, jagung rebus, dan aneka hidangan lainnya. Beberapa orang saling berkomunikasi dengan handphonenya masing-masing, mengkonfirmasi kedatangan. Malam itu, acara munajatan 64 Tahun Mbah Nun (Emha Ainun Najib) oleh sedulur-sedulur Majelis Maiyah Gambang Syafaat akan digelar.

Satu-satu jamaah datang mengenakan pakaian yang tidak seragam. Ada yang gundulan tanpa penutup kepala, ada yang berpeci hitam, ada yang berpeci merah putih khas maiyah. Ada yang datang dengan anaknya, mereka datang dari berbagai daerah di sekitar Semarang. Ada yang dari Kudus, Jepara, Pati, Batang bahkan Brebes, tentu saja banyak yang datang dari Semarang sebagai tempat diselenggarakannya acara pengajian Gambang Syafaat yang disenggarakan setiap tanggal 25 setiap bulannya. Acara malam itu dihandle secara teknis oleh jamaah maiyah Demak, sebagai tuan rumah, mereka telah mempersiapkan “ubo rampe” munajatan dan tahlil sebagai bentuk syukur dan takdim di hari lahir Mbah Nun.

64 Tahun Mbah Nun

Pukul 21.00 WIB. Sesuai jadwal yang telah disepakati setelah Jamaah sudah hadir semua, acara dimulai. Di ruangan di dalam komplek makam itu sekitar 60 orang melingkar, dengan tumpeng dan ambengan ditengah. Muhajir membuka acara dan membacakan rundown acara yang akan dilakukan dari awal hingga akhir. “Acara ini diselenggarakan dalam rangka mendoakan guru kita yang hari ini (27 Mei 2017) ulang tahun yang ke 64 tahun. Sebagai seorang anak yang cinta, hormat kepada orang tuanya, maka acara ini diselenggarakan. Nanti akan melaksanakan ziarah dan tahlil ke makam Empu Supa, kemudian ke Aria Penangsang, dan baru kemudian tahlil dan munajatan di makam Kanjeng Sunan Kalijaga.” tutur Muhajir.

Empu Supa adalah yang memegang persenjataan Majapahit sedangkan Ario Penangsang adalah orang yang disakiti secara politik, dan Sunan Kalijaga adalah penjaga ritme zaman. Sebelum jamaah bertanya, mengapa urutannya seperti itu, Kang Ali bercerita “Tempo hari, Pak De Mus, (Gurunya Mas Sabrang, Orang dekat Mbah Nun) berkunjung ke Semarang dan Demak. Saat itu Pak De Mus menyarankan kepada Jammah Maiyah Gambang Syafaat untuk berziarah ke makam kedua sosok tersebut sebelum ke Sunan Kalijaga”. Menurut Kang Ali, ziarah adalah mempersambungkan masa lalu dan masa depan yang dilakukan oleh orang-orang di masa kini, ini terkait dengan apa yang disebut oleh Mbah Nun kontinyuasi. Ziarah tidak hanya bersifat ritual, lebih dari itu, hal tersebut merupakan ikhtiar ruhani untuk mempersambungankan generasi.

64 Tahun Mbah Nun

Jamaah berjalan menuju makam Empu Supa dan tahlil dipimpin oleh Gus Aniq. Kemudian jamaah menuju area makam Arya Penangsang yang berjarak beberapa meter saja. Di makam Aria Panangsang, tahlil dipimpin Pak Nur Hadi dari Kudus. Kemudian jamaah menuju ke Makam Kanjeng Sunan Kalijaga, tahlil dipimpin oleh Gus Aniq. Dilanjutkan dengan munajatan khas Maiyah dipimpin oleh Kang Ziaul Haq. Munajatan dipuncaki dengan do’a yang dipimpin oleh Kang Ali. Doa untuk negeri, untuk jannatul maiyah, dan tentu saja do’a untuk guru kita bersama Muhammad Ainun Najib.

Setelah tahlil dan munajat di tiga makam, rombongan kembali ke area istirahat tamu, tempat ini dipersilahkan oleh juru kunci untuk menikmati tumpeng. Ada tiga tumpeng yang mesti dipotong. Satu tumpeng di potong oleh Sekjen Gambang Syafaat Muhammad Syakroni (Ronny) dan diserahkan kepada jamaah yang paling muda yang datang pada malam hari itu. Satu tumpeng lagi dipotong dan diserahkan kepada jamaah yang usianya paling sepuh. Satu tumpeng lagi dipotong oleh Kang Ali dan diserahkan kepada Sekjen Gambang Syafaat. Bersama-sama kami menikmati tumpeng dan ambengan, para peziarah lain juga bersedia bergabung dan menikmati tumpeng.

Sebagaimana doa yang dilantunkan, semoga jannatul maiyah diberikan kecintaan kepada Allah, kerinduan kepada rosululloh, dipersambungkan dengan orang-orang yang mencintai Allah dan rosululloh serta dipertemukan dengan apa saja yang menambah kecintaan kepada Allah dan Rosululloh. Alhamdulillah…