Seberapa besar aku mu? seberapa luas aku mu?

Pertanyaan tidak selalu harus dijawab. Terkadang cukup dengan membaca pertanyaannya saja, pertanyaan itu seolah menjawab dengan sendirinya. Aku memang kata ganti tunggal, dia mewakili dirinya. Tetapi sebenarnya wilayah “aku” terus berkembang. Mungkin ini adalah premis yang bisa saja dibantah. Semakin kecil kadar aku mu, semestinya semakin luas cakupan wilayah aku mu. Dulu saat masih kecil, saat belum punya saudara, seorang anak akan selalu berfikir hanya dirinya saja. Mainan adalah miliknya penuh. Coba perhatikan, ketika seorang anak sudah punya saudara, pikirannya sudah sedikit berubah. Ketika misalnya dibelikan jajan, si anak akan memikirkan saudaranya. “Buat adik mana pah ?”. Setelah menikah, punya anak istri. Maka mestinya aku bukan lagi mewakili aku, aku menjadi semakin meluas cakupannya. Aku adalah aku dan keluargaku. Saat engkau merasa bahwa aku adalah aku dan keluargaku, disitu sadar atau tidak, terjadi proses “mengecil”nya kadar aku mu. Orang yang tidak memikirkan anak istrinya, padahal dia sudah berkeluarga, hidupnya masih mementingkan dirinya, itu artinya kadar aku nya masih besar, dan cakupan wilayah aku nya hanya sebatas dirinya.

Kerelaan adalah mengecilkan kadar aku dengan kesadaran bahwa aku adalah bagian dari AKU yang lebih besar. Semakin besar kesadaran kewilayahan AKU, maka semakin dituntut untuk mengecilkan kadar keakuannya.

Menabung kerelaan adalah dialog antara aku dengan AKU, mencari ridho Tuhan. Tidak dalam pengertian yang materialistis bahwa menabung adalah menyetor dan kemudian mengambil. Menabung titik pangkalnya adalah menyelamatkan, teknis perilakunya adalah mengumpulkan dan menjaganya. Maka menabung kerelaan harus dilandasai keyakinan untuk mencari ridho Allah, sebab itulah jalan keselamatan. Albaqoroh 184 : Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan,maka allah maha mensyukuri dan mengetahui wa man tathowwa’a khoiron fainnallaha saakirun aliim.

Kebajikan itu berat, kerelaan apalagi

Tidak mudah menjalankan kebajikan, kebajikan dalam artian perintah Tuhan. Sebenarnya perintah Tuhan itu tidak sama dengan perintah majikan kepada pembantunya. Ketika majikan memberi perintah menyapu, menyapu tidak ada hubungannya dengan pembantu. Ketika majikan member perintah untuk menyetrika, menyetrika tidak hubungannya dengan pembantu. Perintah Tuhan, lebih pas di analogikan dengan perintah dokter kepada pasiennya. Seluruh perintah dokter kepada pasien, didasarkan pada kepentingan pasien. Saat dokter meminta pasien untuk memakan telur kadal misalnya, hal tersebut merupakan hasil diagnosa penyakit, dan memakan telur kadal adalah solusi untuk keselamatan pasien. Aslinya, tidak masalah bagi dokter, apakah si pasien menuruti perintahnya atau tidak. Nah Tuhan memberikan perintah kepada manusia ya dalam rangka keselamatan manusia. Tidak ada bedanya, si manusia ingkar atau patuh kepada Tuhan, Tuhan tidak rugi. Tetapi Tuhan sangat saying kepada manusia sehingga tidak rela kalo manusia kenapa kenapa.

Menabung kerelaan bisa dilandasi dengan kesadaran pasien terhadap resep dokter.

Persediaan Rahman Rahim

Apa perlunya kita menabung kerelaan ? mungkin untuk menambah persediaan rahman rahim nya Allah. Bukankah Allah tidak akan mengadzab suatu kaum, dikarenakan syukurnya orang orang kecil ? setoran kerelaan orang orang yang terdolimi?

Gambang Syafaat edisi September 2015, mencoba memberi ruang diskusi untuk terus mencari keluasan dan kedalaman tentang kerelaan. Baik sebagai warga Negara dan juga sebagai manusia makhluk Tuhan.

Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.