Saya akan berangkat dari tajuk Lincak yang digelar oleh Gambang Syafaat yang berkenan memberikan kesempatan siapapun menuliskan reinterpretasi atas frasa :Mlungsungi yang diambil dari sebuah judul pementasan teater lintas generasi yang dimainkan oleh para seniman Yogjakarta dengan naungan Maulana Simbah Ainun Nadjib.

Lincak pasti tempat jagongan yang informal, nyantai, yang memberikan ekspresi mendalam bagi orang yang mau mendudukinya mau selonjor, tingkring, sila, atau pun model jenis duduk yang merdeka dengan pembahasan yang luas tentang apapun saja.

Nah dari sinilah pemaknaan dan ij’tihad itu bermula ketika :’Mlungsungi` itu kebutuhan diri, ialah bacaan yang harus diupgrade terus menerus oleh kita manusia, terhadap peta duniawi dimana kita dimandati Allah sebagai khalifah. Setiap hamba bertanggungjawab untuk mampu melakukan internalisasi nilai ke dalam diri masing-masing. Bukan untuk show off atau penampilan ke luar.

Medianya bisa beragam, Islam mengenal muhasabah-ikhtikaf-zuhud, Jawa menyampaikan menep-meditasi-suwung, bahasa Indonesia menyajikan nama instropeksi, tataran filosofi juga mengabarkan makna kontemplasi, menyepi, atau apa pun frasa yang dipahami oleh manusia sebagai cara untuk melakukan kelahiran baru dirinya.

Mlungsungi ialah momentum waktu. Layaknya seekor ular yang melepaskan kulitnya dalam rentang waktu tertentu demi kesehatan dan kebutuhan hidupnya, maka manusia juga bisa melakukan rekontruksi mlungsungi dengan variabel yang lebih luas dan abstrak. Setiap orang memiliki parameter yang berbeda tentang kapan ia mlungsungi, dengan media apa, untuk apa dan bagaimana caranya.

Kita harus sepakat bahwa tak ada peluang untuk hamba Allah siapa pun dia yang mau ajeg, utuh, tetap dan apa adanya tanpa melakukan sebuah mlungsungi di dalam perjalanan jatah hidupnya yang entah 60-80 tahun itu di dunia. Mlungsungi menjadi fitrah dan kewajiban Sunatullah dialami.

Mlungsungi sebuah pensikapan solusi. Ketika dihimpit masalah yang pekat, bisa jadi problem solvingnya adalah kemauan dan kesadaran untuk mlungsungi. Tentu pertanyaannya adalah mlungsungi yang bagaimana? Nah inilah tantangan yang eksis dialami sepanjang hayat manusia untuk mencari metodologi mlungsungi yang presisi dengan kompleksitas permasalahan hidupnya.

Jadi mlungsungi sebenarnya perspektif penggalian jalan keluar yang bersifat immateri dan meta-rahasia, sekelumit ndlemingku hari ini merupakan batu besar yang harus dipecah menjadi kerikil, batu kecil yang aplikatif dengan kebutuhan orang banyak.

Akhirnya tulisan interpretatif yang kusodorkan ke Gambang Syafaat ini memang lebih tepatnya dijadikan teman ngopi ketika pikiran sedang galau, bureng dan kepyur di tengah malam yang biasanya dialami oleh Orang Maiyah.

Aktif di Simpul Maiyah Suluk Pesisiran Pekalongan.