Dari dulu awal mengenal Gambang Syafaat, saya sudah tertarik menelitinya, tetapi saya punya ketakutan yang begitu besar untuk melaksanakannya. Sampai pada akhir 2018, saya memutuskan untuk mengambil penelitian tentang Gambang Syafaat.

Ketertarikan saya pada Maiyah, pertama rasa persaudaraan antarjamaah; kedua pola berpikir yang diajarkan; ketiga sikap-sikap yang dimunculkan antar sesama; dan masih banyak hal lain. Di balik ketertarikan saya untuk meneliti Gambang Syafaat, ada ketakutan yang membuat saya maju-mundur untuk meneliti di sini. Ketakutan terbesar saya adalah ketika nanti saya salah memaknai Gambang Syafaat dari sudut pandang akademis; takut salah menjelaskan apa yang saya lihat dan pahami tentang Gambang Syafaat; takut terjadi kesalahpahaman antara realitas di Gambang Syafaat dengan dosen. Saya takut tidak bisa menguraikan Maiyah sebagaimana adanya. Meskipun sudah beberapa kali konsultasi, saya masih ragu untuk mengambil judul.

Sempat juga kesulitan menjelaskan bagaimana proses sinau bareng Maiyah dalam kajian dakwah dan psikologis. Bahwa Maiyah adalah bagian dari dakwah dan sinau bareng. Dan, sinau bareng juga adalah konsep dakwah yang berjalan di Maiyah selama ini. Di mana proses penyampaian pesan dakwah terjadi secara dua arah, dan bahkan ilmu yang di dapat datang dari berbagai arah. Selain itu, melalui sinau bareng ini ada efek yang secara tidak langsung memengaruhi keadaan jiwa dari yang hadir, bisa juga dari supply energi kegembiraan yang disebarkan; diskusi yang membuka pikiran; perasaan diterima; dan sebagainya.

Dari kebingungan ini, saya mulai wawancara kepada beberapa orang di Gambang Syafaat. Selain sebagai kelengkapan data dalam penelitian, melalui wawancara tersebut saya ingin melihat Maiyah dari pengalaman personal jamaah.

Bagaimana perjalanan masing-masing jamaah hingga menemukan Maiyah, menikmatinya, dan menemukan makna di dalamnya. Selama proses wawancara, saya harus benar-benar meluangkan waktu untuk menemui jamaah yang akan saya wawancari satu per satu. Minimal waktu yang saya gunakan untuk wawancara adalah satu jam, belum termasuk perjalanan dan waktu tunggu. Selama wawancara, tentu saja tidak melulu saya aktif bertanya ataupun narasumber aktif menjawab. Namun, terkadang narasumber justru meminta respons balik dari saya terkait Maiyah dan memintas saya menjabarkan sedikit tentang penelitian saya. Sehingga, wawancara yang saya lakukan justru menjadi sesi diskusi secara tidak langsung. Ini adalah hal tidak terduga dan di luar draf wawancara yang saya buat.

Berdasarkan wawancara yang saya lakukan, ada kesamaan pendapat antar jamaah, yakni nilai kebebasan yang diusung dalam Maiyah. Kebebasan yang diterapkan dalam proses sinau bareng Maiyah ternyata justru memunculkan kesadaran dalam diri jamaah. Jamaah dibebaskan dan dibiarkan mencari dirinya sendiri. Dalam kebebasan itulah jamaah kemudian diajak bersama-sama belajar, dipantik melalui tema-tema diskusi setiap bulan.

Proses kesadaran diri inilah yang kemudian saya tarik dalam kecerdasan spiritual. Kesadaran diri adalah tahap awal dalam pengembangan kecerdasan spiritual. Dengan kesadaran diri berarti seseorang telah mengenali dirinya dan menyadari posisinya sebagai hamba dan sesama makhluk. Melalui kesadaran diri manusia akan sibuk memikirkan dirinya dan mengurangi potensi untuk menilai orang lain.

Selain itu, Maiyah juga mengajarkan untuk melihat persoalan dari berbagai sudut pandang, jarak pandang, dan resolusi pandang. Melalui pelajaran ini, jamaah diajak untuk melihat masalah secara menyeluruh, atau dalam kecerdasan spiritual disebut sebagai aspek berpikir holistik. Selain itu jamaah juga diajak untuk menemukan makna dalam setiap kejadian di hidupnya. Ketika seseorang mampu menemukan makna dalam hidupnya, secara tidak langsung, kecerdasan spiritual orang tersebut telah berkembang.

Maiyah itu diibaratkan sumur ilmu. Selama proses menggali selalu menemukan hal-hal baru, entah itu dalam bentuk ilmu, pemahaman, kesadaran maupun energi-energi yang memenuhi ruang-ruang dalam diri. Bahkan apa yang saya teliti di Maiyah, bisa jadi masih dipermukaan saja. Masih begitu luas kemungkinan untuk diteliti dan dikaji lebih dalam.