Pertanyaan
Bagaimana membandingkan lebaran di Arab Saudi dengan di Indonesia. Jika di Indonesia lebaran identik dengan mudik, lebaran juga satu minggu. Sedangkan di Arab Saudi lebaran selesai setelah salat Id.

Cak Nun menaggapi
Orang Indonesia, orang Jawa sangat spesial di dunia dalam hal srawung, dalam hal paugeran, dalam bahasa Islamnya “Silaturahmi”. Mudik itu salah satu bentuk silaturahmi persambungan kasih sayang. Kasih sayang ini bisa macem-macem. Ada persambungan terus menerus orang kumpul terus di mana-mana, orang Indonesia itu rasa komunalitasnya sangat tinggi. Di Arab Saudi tidak ada srawung, di sana tidak boleh ada maulid Nabi, tidak boleh ada isra’ mi’raj, orang tidak pernah ngumpul pengajian. Jadi mereka untuk bergaul berdua saja mereka sukar. Tentu saja tidak di mesir, Yaman, dan Yurdan. Atas kekayaan itu (budaya Srawung) kita harus bersyukur. Maka dari itu maka mestinya kiblat budaya Islam itu budaya Jawa. Budayanya lho ya?

Masalahnya adalah, mengapa mudik menjadi problem adalah karena infrastruktur ekonomi, transportasi, dan peta pembangunan ini tidak kondusif untuk keperluan silaturahmi yang massal ini. Sebenarnya tidak ada masalah dengan mudik, karena ini hal yang bagus, masalahnya jika memaksakan itu tidak boleh.

Sebagai permisalan, kita punya acara, buat makanan yang banyak, dibagikan ke tetangga. Buat makanan dan menjamu tetangga itu bagus yang tidak bagus adalah memaksakan dengan berhutang ke sana-ke mari.

Pertanyaan
Bisakah mudik itu dibagi menjadi dua waktu, kita punya dua lebaran Idul Adha dan Idul Fitri. Jika dibagi dua maka keruwetan dan korban tidak separah seperti saat ini terjadi?

Cak Nun menjawab
Kalau saya dan keluarga saya, kami sudah begitu. Kami tidak menunggu lebaran untuk bermaaf-maafan, saya tidak menunggu lebaran untuk mudik. Jadi saya sering pulang ke Jombang, ketemu ibu sungkum kepada ibu itu kapan saja. Juga tidak menunggu Ramadhan untuk berpuasa. Tidak perlu ritual-ritual agama untuk menemukan hakekat-hakekat yang ditawarkan oleh ritus-ritus itu. Jadi Ramadhan sepanjang tahun, Idul Fitri setiap hari, dan halal bi halal setiap saat.

Namun jika sebagai pengambil keputusan (pemerintah) saya tidak akan berani mengambil keputusan (membagi mudik menjadi dua tahap Idul Fitri dan Idul Adha) karena ini menyangkut sejarah yang panjang. Yang namanya mudik Idul Fitri ini bukan hanya kebudayaan, ini sudah peradaban. Iki wis ngakik wis angel digraji. Secara teknis bagus, dibagi dua Idul Fitri dan Idul Adha, tapi siapa yang mau karena mudik dan lebaran itu momentum dan rosonya ketemu. Idul Adha mungkin momentumnya ada tetapi rosonya tidak ada. Roso itu dibangun pelan-pelan sejak sebelum Ramadhan sampai Ramadhan. Minggu pertama itu Alhamdullilah, minggu kedua itu Astagfirullah, minggu ketiga tasbih, minggu keempat tahlil, minggu kelima takbir, dan seterusnya.

Di dalam Islam itu memang diinterpretasikan sebagai pembangun rasa orang berlebaran. (Muhajir Arrosyid).

Sumber: Youtube, Cak Nun TVRI Jogjakarta tradisi pulang kampung (mudik)

BERBAGI
Redaksi Gambang Syafaat
Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.