Dalam Maiyah, sedikit banyak hadirin tak ada arti. Meski insting manusiawi, jumlah banyak pasti menyenangkan hati siapa pun. Gambang Syafaat hanya bertugas sebagai Katalisator atau Ageman Sinau Kehidupan.

Siapa saja dengan ribuan proses nya bisa terpantik meski sebatas siluet semesta cahaya perbincangannya. Ketika pulang pastinya sangu Gambang Syafaat itu tak akan diingat oleh pikiran, namun akan terus hidup di alam batin pelakunya.

Di Maiyah tak ada ukuran shahih banyak sedikit dalam konteks kesuksesan acara.
Yang ada adalah melingkar bebrayan Sinau Bareng.

Yang sedikit bisa jadi yang hadir secara jasadi manusia, namun para makhluk Allah lainnya yang jumlahnya sangat banyak pasti ikut menyaksikan dengan frekuensi yang tak bisa dicerna. Pengalaman saat menghadiri maiyahan di simpul sering kali relatif sedikit. Pengalaman semacam itu sering banget. Tetapu tidak masalah, wong yang penting adalah setor ‘Sesaji Kebaikan’ agar Allah merahmati.

Maiyah bukan seperti kampanye, yang orang-orang hadir dengan pengerahan massa. Juga bukan acara di televisi yang agar terlihat ramai harus menghadirkan penonton bayaran. Mereka yang datang di Maiyah adalah dengan keikhlasannya sendiri, kaki-kakinya digerakkan oleh Allah untuk melangkah di acara Maiyah.

Kenapa jumlah tidak menjadi essensi paling utama dalam maiyahan, karena yang paling obyektif ialah seberapa pun yang hadir ketika kembali ia membawa semesta nilai-nilai Maiyah yang harus disemai ke dalam lingkungan terdekat semisal keluarga, tonggo-teparo sampai lingkar lebih luas.

Efek domino dari sebaran nilai Maiyah itu lebih mengena daripada hanya berpatokan jumlah hadirin.

Ketangguahan manusia Maiyah adalah ketetapan hati para jamaah yang mempersatukan dan membersamai dalam Maiyah ialah tahutan cinta Allah dan Rosulullah. Cinta Segi Tiga, nilai dasar Maiyah

Kalau jamaah masih berada di luar frekuensi cinta segi tiga itu, maka sangat riskan untuk goyah, oleng dengan melihat penampakan jumlah sedikit atau banyaknya hadirin.

Hampir 20 titik Simpul yang telah saya kunjungi, setiap tempat memiliki keunikan dan tradisi yang berbeda mengakar dari sosiologi budayawi masyarakatnya.

Itu sangat alamiah, yang penting semua berproses bersama, tandur menyemai nilai Maiyah dengan cara dan teknis yang berbeda-beda. Tetap dengan tidak melanggar batas-batas nilai Maiyah yang sejati dari Marja’.