Perahu retak, mulanya adalah sebuah naskah lakon karya Emha Ainun Nadjib. Franky Sahilatua, penyanyi balada tertarik untuk mengangkatnya dalam lagunya. November 1995, Franky menghubungi Emha untuk membuat album. Emha setuju, setahun berikutnya album itu terwujud, menampilkan sembilan lagu dari sepuluh lagu yang direncanakan.

“Sudah lama saya tertarik dengan pikiran-pikiran Cak Nun. Seperti kita ketahui, selain sebagai seorang budayawan, dia juga seorang penyair cendekia, yang tulisannya sangat tajam dan menarik, terutama jika berbicara tentang kerakyatan.” Kata Franky (Gatra 2 Maret 1996).

Pada sebuah bandel tulisan sepertinya untuk pengantar sebuah pertunjukan musik perahu retak (dalam bandel itu banyak tokoh ikut menulis seperti menulis seperti Gus Dur, Sujiwo Tejo, Iwan Fals) Franky menyampaikan bahwa dirinya ibarat salah satu pantainya Cak Nun. “Andai saja Cak Nun itu lautan, aku hanya bertemu salah satu pantainya saja. Lautan itu mungkin sudah dilayari oleh orang lain. Tetapi dengan melayari lautan Cak Nun, aku merasakan kegembiraan tersendiri, yang timbul dari pikiran-pikirannya yang luas, jujur, berani, dan Mbeling.”

Jika mendengar sekilas lagu-lagu dalam album ini maka kita hanya akan mendengar kemarahan dan kritikan. Hanya karena dibawakan melalui lagu oleh Franky maka terdengar lembut. Seandainya ini dibawakan oleh Emha sendiri melalui deklamasi maka akan terdengar lebih keras. Hal itu disampaikan oleh Ahmad Sobary yang saya iyakan. Saya membayangkan jika lagu-lagu itu dipuisikan oleh Emha pasti terdengar lebih bertenaga.

Hanya lagu Padang Bulan yang lirik dan nadanya terdengar lembut mengelus jiwa. Lirik-lirik yang lain menggedor jiwa. Tentang ini Sujiwo Tejo yang waktu itu masih Wartawan yang dalang mengkritik album ini. Lagu dalam album ini seolah hanya satu-satunya cara pernyataan hidup sebagaimana demonstrasi, poster, spanduk, seminar. “Marahnya lagu pasti bukan marahnya demonstran. Teriakan lagu, pasti bukan teriakan poster dan spanduk-spanduk dalam unjuk rasa buruh.” Kata Sujiwo Tejo.

Hal senada disampaikan oleh Putu Wijaya bukan terhadap album ini tetapi terhadap naskah-naskah teater Emha. Menurut sastrawan ini pementasan Lautan Jilbab hanya kuat di sisi dakwah, sedangkan drama Pak Kanjeng hanya syarat kritik. Putu menolak penilaian naskah drama yang baik adalah yang sarat kritik. “Kalau cuma membuat kritik sosial, tidak perlu membuat drama.” Kata Putu.

Putu Wijaya menilai naskah Emha lemah pada dramaturgi, plot, dan dialog. (Gatra, 2 Maret 1996). Di satu sisi saya setuju dengan apa yang disampaikan oleh Sujiwo Tejo dan Putu Wijaya itu, tetapi di sisi lain saya memahami mengapa Emha melakukan itu sehingga puisinya, dramanya, juga cerpennya bentuk dan suaranya menjadi begitu.

Yang paling bisa saya nikmati dari karya Emha adalah esainya. Karena ketika ia menyampaikan esai seperti ketika beliau berbicara lisan. Di sana ada gurauan, ada sindiran, ada sanepo. Tetapi pada forum Emha yang kini dikenal sebagai Maiyah juga ada perenungan, spiritualitas, juga protes jika itu dipahami sebagai protes.

Kita bisa kembali dengan apa yang disampaikan Emha muda melalui esainya yang ia tulis pada saat dia berusia 19 tahun dan dimuat di majalah sastra Horison. Artikel yang berjudul “Perkembangan seni hanya perkembangan bentuk?” (Horison, Maret 1976) itu Cak Nun menolak anggapan bahwa hal yang dibincang dalam seni itu utuh dan tidak berubah, paling masalah cinta, penghianatan dan sejenisnya. Yang menjadi orisinil dan personal adalah daya ungkap pengarangnya. Menurut Cak Nun ada juga perkembangan isi karena pemahaman kebertuhanan seseorang dari waktu ke waktu juga berubah dan dari satu orang dengan orang lain juga berbeda.

Meskipun Cak Nun mengakui bahwa bentuk juga hal yang penting tetapi isi rupanya lebih dipentingkan. Maka dalam penggarapan dramanya ia lebih menitik beratkan pada isi. Ia fokus pada apa yang ingin disampaikan. Hal-hal yang memungkinkan terdistorsinya pesan ia hindarkan.

Mari langsung kita dengarkan lagu pertama yang juga menjadi nama album ini: perahu retak. Negeri ini diibaratkan perahu. Di dalam perahu itu ada rakyat. Perahu itu hendak berlayar menuju satu tujuan. Tujuan ini menjadi penting, karena tujuan ini yang menjadi ukuran tersesat atau tidak.

Mendengar lagu ini saya membayangkan sebuah perahu berlayar. Ada cakrawala membentang, perahu besar itu melewati gelombang dengan kegagahan. Ada optimisme besar dalam suara Franky, musik, juga lirik. Pada tanah, air tumbuh kebahagiaan. Pada sawah dan jalan kota tumbuh kesejahteraan. Mulai masuk ke tengah lagu baru muncul hal yang disebut dengan kritik. Karena yang terjadi adalah yang salah dipertahankan dan yang benar disingkirkan.

Mungkin inilah yang disebut retak, sesuatu yang harusnya untuk kesejahteraan namun digunakan untuk kemakmuran pribadi. Tanah pertiwi anugerah ilahi jangan makan sendiri. Keretakan itu disebabkan oleh orang-orang yang harusnya membuat perahu itu menjadi kokoh. Keretakan itu muncul karena keserakahan, ingin menikmati anugerah ilahi yang harusnya untuk kebersamaan tetapi dinikmati sendiri.

Lagu kedua berjudul “E Wada”, sebagian lirik tidak saya pahami karena menggunakan bahasa daerah Nusa Tenggara Timur. Pada tahun-tahun ini terjadi banyak sekali pembangunan. Pembangunan biasanya hanya melihat sesuatu dari hal-hal yang makro, sedangkan hal-hal mikro yang terkait penduduk lokal sering menjadi korban. Misalnya pembangunan Taman Mini Indonesia Indah, Waduk Kedung Ombo membuat banyak penduduk tersingkir. Lagu ini bertanya mengapa harus ada yang disingkirkan, mengapa harus ada darah dan air mata. Apakah kita tidak bisa berbagi tempat di negeri yang luas ini? Masak kita kalah dengan burung-burung? Lagi-lagi ini dianggap kritik karena berbeda dengan pendapat dari penguasa.

Pada lagu ketiga berjudul “Padang Bulan” maka kita bisa mendengar dimanakah hati Cak Nun berada. Ia berada di antara hati-hati yang terluka, hati-hati yang sakit, korban dari deru pembangunan. Cak Nun mencoba menemani dan melakukan penyembuhan dengan mengajak bertafakur dan berhadap-hadapan dengan Tuhan. Pada lagu “padang bulan” inilah suasana forum bulanan yang diselenggarakan sebulan sekali saat bulan purnama di Jombang tergambarkan. Forum ini mulanya adalah tafsir Al Quran secara tekstual oleh Cak Fuad, kakak Cak Nun dan tafsir kontekstual oleh Cak Nun. Selanjutnya forum ini mewadahi keluh kesah masyarakat. Forum ini mencoba membantu yang memungkinkan dibantu dan mendoakan yang tidak terjangkau. Forum ini menjadi aspirasi disalurkan. Pada waktu itu aspirasi macet karena tiga partai yang ikut pemilu hanya dikendalikan oleh satu orang yaitu penguasa yang sedang berkuasa.

Ketidakadilan, serakah, mengambil untuk keperluan sendiri adalah hal-hal yang ingin ditumbangkan, sedangkan kerukunan, kerelaan berbagi adalah hal yang ingin dibangun dalam mimpi-mimpi Cak Nun dalam album lagu tersebut. Sebenarnya apa yang menjadi mimpi Cak Nun adalah terwujudnya masyarakat sebagaimana Nabi Muhammad harapkan dan yang dia lawan adalah sebagaimana Nabi Muhammad lawan. Dan dia lakukan dengan sungguh-sungguh.

Seni yang dia lakukan tidak bermanja-manja dengan bentuk tetapi seni untuk mewujudkan cita-cita itu. Seni yang dia lakukan sebagaimana pernah dia katakan agar isi itu diterima dengan luwes. Seni hanyalah media untuk berjuang agar tatanan sebagaimana nabi Muhammad bangun juga terbangun. Cak Nun pernah mengatakan; islam kok haram, memangnya Islam itu bikinan iblis. Islam itu rahmatan lil alamin. Entah negaranya apa, partainya apa yang penting islami. Negara Islam atau partai islam yang Cak Nun setujui bukan benderanya, karena dia seniman, dia lebih pada jiwanya, kulturnya. (Ummat, 13 November 1995).

Lagu empat adalah “Tak kunjung datang” lagu ini berisi tentang penantian seorang rakyat akan seorang pemimpin karena yang selama ini ada adalah penguasa. Pemimpin itu yang dibawa cinta. Di kemudian hari Cak Nun mengenalkan pemahaman surat An nas, pada diri tuhan itu yang utama adalah kasih sayang atau cinta, baru kemudian Allah menunjukkan kekuasaannya. Demikian juga dengan pemimpin, jika dengan cinta manusia bisa menurut mengapa harus menunjukkan kekuasaannya? Mungkin lirik lagu ini terdengar biasa jika di dengarkan sekarang. Tetapi saat itu saat Soeharto masih berkuasa, ini adalah sebuah tamparan. Ini adalah suara sumbang terhadap kekuasaan yang sedang berlangsung. Jikapun lagu-lagu dalam album ini bernada vulgar seperti demo, demo dalam lagu ini didengarkan oleh orang banyak dalam kurun waktu yang lama, di putar berulang-ulang di radio, televisi, dan di alat pemutar kaset di rumah masing-masing. Mereka membeli kaset untuk bisa mendengarkannya. Jadi album ini melebihi demonstrasi efeknya.

Suatu ketika Cak Nun dicekal tidak boleh ngomong. Boleh ngomong hanya masalah agama tidak boleh bicara politik. Lalu dia mengatakan, “Bagaimana bisa agama dipisahkan dengan masalah sosial?”

Lagu berikutnya berjudul “Lho koq” semakin keras mengkritik penguasa dan keadaan yang berlangsung. Tentang demokrasi yang mampet, tentang pencuri berdasi, tentang memsikinkan rakyat sendiri. Ibarat tinju lirik-lirik itu memukul area dagu. Mari dengar penutup lagu ini: rakyat mengamanatkan kebersamaan adil bergandeng tangan, rakyat mendambakan kepemimpinan bukan kekuasaan. Adil dan bergandeng tangan, bukankah itu cita-cita Islam? Kepemimpinan dan kekuasaan muncul lagi pada lagu ini.

Lagu bernada protes muncul lagi di lagu-lagu berikutnya yaitu: Lagu Capek, Raksasa dari kota, parodi saridin, dan merah putih dan reruntuhan. Saya angkat album itu untuk dibicarakan lagi karena menurut saya lagu-lagu dalam album tersebut merangkum kegelisahan Mbah Nun pada tahun 1900-an. Setidaknya album ini adalah petanda salah satu Mbah Nun di titik-titik didih di negeri ini. Selain titik didih yang lain seperti kedungombo, Icmi, kejatuhan Soeharto, Lapindo, dll. Sehat selalu Mbah Nun.

Catatan:
Saya menggunakan sebutan Emha, Cak Nun menyesuaikan konteks waktu karena bersanding tokoh-tokoh yang lain.

Demak, Semarang 21 Juni 2022

Dosen di Universitas PGRI Semarang. Penulis buku Soko Tatal dan kumpulan cerpen Di Atas Tumpukan Jerami. Penggiat di Simpul Gambang Syafaat Semarang.