blank

“Ini mimbar suci, majelis agama, tidak sembarang orang bisa pegang mic di sini!” Bentak ketua takmir kepada seorang anak muda.

“Apa yang harus saya miliki, syarat apa sebenarnya untuk bisa pegang mic?” Anak muda tersebut bertanya kepada ketua takmir.

Bergegas anak muda itu digandeng oleh ketua takmir ke belakang mimbar. “Kowe arep pegang mic di sini?”

“Bukan, bukan ingin, menurut saya, saya punya hak untuk berbagi informasi dan pengetahuan dengan Pak Kiai tadi.”

“Tak kandani, syaratnya setidaknya ono telu!”. “Tak takoni, kowe lulusan pesantren mana? Kowe guru ne sopo? Iso moco kitab po rak?”

“Saya tidak pernah mondok di pesantren.”

“Lah iyo, wong kowe ora tau mondok, jelas lah ilmu mu cetek, neng masjid wae nganggo kaos. Nek kowe dudu lulusan pesantren, tak takoni, wis berbuat opo kowe karo masjid iki? Mau kae, sakdurunge Pak Kiai, sopo jal? Beliau donator utama dan tetap”

“Njih Pak..”

Anak muda itu berbalik arah meninggalkan ketua takmir. “Le, kowe rene nek wis duwe ummat rak popo, wis akeh pengikutmu, sesok-sesok kowe entuk pegang mic! Ojo lali nek neng masjid nganggo klambi lengan panjang, nek iso putih, ora kaosan ngono, opo maneh ono tulisane, opo kuwi artine Gambang Syafaat?”

Anak muda menoleh ke ketua takmir sambil menjawab, “Artine Ruang Tumbuh”

Itu hanyalah karangan saya, mungkin terjadi tapi bisa jadi tetap cuma karangan. Saya melihat perbedaan maiyahan dengan majelis lain adalah adanya kemungkinan yang sangat luas, saking luasnya seolah tidak ada wasit yang meniup peluit untuk memutuskan siapa yang berhak ke panggung, pendapat mana yang offside. Orang-orang yang di depan forum Gambang Syafaat tidak disebut sebagai narasumber, anak-anak muda yang di panggung lebih sering menyebut dirinya pemantik, sedangkan orang tua yang di panggung diberi gelar yang membersamai.

Tidak heran, siapa pun bisa pegang mic, jamaah boleh maju merespon pernyataan dari pemantik dan yang membersamai, bisa dengan pertanyaan bisa dengan pernyataan. Pernyataannya bisa menguatkan, bisa meragukannya. Dan pada akhirnya, dikembalikan ke masing-masing dengan independensinya. Wasitnya siapa? Wasitnya ya jamaah sendiri. Gambang Syafaat percaya bahwa setiap yang hadir, karena niatan tulus mencari kebenaran, bukan mencari siapa yang benar, mampu mewasiti (berparasigma tawasuth, imbang, tidak berat sebelah, empan papan).

Seringnya, di majelis lain, tokoh-tokohlah yang diberi mic. Para jamaah mendatangkan pembicara untuk ngandan-ngandani. Di Gambang Syafaat malah sebaliknya, silahkan pegang mic, berbicara sesuai kapasitasnya, dan biarkan audiens menentukan apakah engkau pantas menjadi tokoh, jika yang berbicara adalah tokoh, pegang mic di Gambang Syafaat adalah ujian ketokohannya. Gambang Syafaat menjadi ruang tumbuh bagi jamaahnya. Ada yang tumbuh menjadi “aktor kegembiraan“, ada yang rela menjadi “sales kopi“, “moderator jenaka“, terakhir setidaknya menjadi “audiens yang sabar dan istiqomah“.

Kalau ada sebuah panggung dan di sana ada orang bicara salah, ora mutu, kebetulan Anda ada di majelis tersebut dan Anda tahu, ada setidaknya tiga kemungkinan yang Anda lakukan; pertama Anda loncat ke panggung dan pegang mic untuk menyatakan pendapat Anda sebagai kewajiban Anda yang “lebih mengerti”. Kedua Anda beranjak pergi dari majelis dan menyatakan tidak akan kembali sambil bergumam “pengajian ora mutu!”. Dan yang ketiga Anda diam, tidak melakukan apa-apa.

Silahkan bicara, wasitnya ada di sini (pegang dahi dan dada dong..)… Selamat untuk Gambang Syafaat, semoga di usia yang ke-19 tetap menjadi ruang tumbuh para pencari yang tulus.