blank

Sebelumnya,saya mengucapkan “Sugeng ambal warsa kagem Mbah Nun, mugi tansah pinaringan berkah saking Allah ingkang kathah”. Mencermati apa yang menjadi tema kali ini,saya mencoba melihat dari berbagai macam sudut pandang yang barangkali berbeda dengan jamaah maiyah lainnya.
Tema “Mbah Nun dan Kita”,bagai mengupas kebodohan dan kekurangan kita dalam hal ilmu pengetahuan. Simbah yang telah banyak makan asam garam kehidupan,memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak dibanding kita,dalam banyak hal. Dalam urusan kecintaan kepada Allah dan Rasul, beliau yang senantiasa penuh kesabaran untuk terus merangkul kita dengan konsep “Segitiga Maiyah”.
Jika menilik dari apa yang beliau kerjakan dalam rangka wujud cintanya kepada baginda Nabi,kita hanya penumpang dalam perahu maiyah dan beliau nahkodanya. Dari beliau kita belajar tentang kepasrahan bahwa hidup ini tiada yang pasti kecuali kematian,sehingga hal ini membimbing kita hanya pada posisi semoga di hadapan Allah.
Antara simbah dan kita bagai sungai dengan ember kecil,yang mana kita bisa belajar dari ilmu beliau yang dialirkan tiapkali maiyahan.Sungai yang di dalamnya terkandung banyak sekali ilmu kehidupan,sebagai bekal kita. Mbah Nun dan kita bagai keris dengan rangkanya.
Simbah senantiasa “momong” kita dengan segala macam gejolak dan masalah kehidupan. Berbagai macam masalah yang menerpa jamaah maiyah,utamanya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,simbah jadi benteng pertama kita.
Dalam keliaran berpikir kita, beliau memagari kita dengan pemikiran-pemikiran yang menjaga kita dari ketersesatan. Mbah Nun bagi kita bagaikan kakek,bapak,dan sahabat kita,yang senantiasa menyayangi,dan memperhatikan kita.
Mbah Nun tak pernah menolak apapun keluh kesah curhatan hati kita. Beliau menjadi sahabat yang baik untuk kita dalam kemesraan bermaiyah. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,Simbah adalah pioneer para anak muda dalam konteks bernegara yang baik.
Beliau menempatan sejarah sebagai tolok ukur untuk mengelola negara lebih baik dan bermartabat. Bagi kita yang tak mengalami fase reformasi,kita bisa belajar langsung dari beliau sebagai pelakunya. Sebagaimana yang pernah beliau sampaikan.Sebuah perjalanan panjang bernegara yang sangat mahal nilai dan hikmahnya.
Sejatinya masih banyak lagi yang dapat kita gali dan kita maknai antara Mbah Nun dan Kita. Jika kita menggunakan istilah “Mengalami Maiyah”, sudah barang tentu semakin banyak pemaknaan akan korelasi kita dengan Simbah.
Karena alasan setiap orang bersinggungan dengan Simbah melalui maiyah sangatlah banyak dan pasti berbeda-beda. Semestinya kita senantiasa bersyukur karena dipertemukan dengan beliau,ditengah hilangnya sosok figur panutan di negera ini. Dan sudah sepantasnya kita doakan beliau dimilad yang ke-70th,agar beliau senantiasa berlimpah keberkahan dan selalu dalam penjagaan malaikat Allah. Mbah Nun dan kita, adalah cinta dan kerinduan. Dan tema ini adalah wujud kecintaan kita kepada Mbah Nun.

blank
Jamaah Maiyah dari Salatiga. Diperjalankan Tuhan untuk bertemu Maiyah dan mengenal Kedaulatan hidup.