blank

Konon, di awal kehidupan manusia sebagai salah satu spesies makhluk hidup, manusia menempati titik bawah pada rantai makanan. Saat itu, manusia belum memberdayakan apa yang kelak disebut sebagai kemampuan intelegensi. Manusia tidak banyak melakukan eksplorasi alam karena bahaya dari spesies pemangsa lain mengancam. Harimau, Ular, Buaya, dan hewan-hewan buas lainnya belum bisa dikalahkan. Kesadaran saat itu adalah, manusia butuh rasa aman. Rasa aman dari keadaan di luar dirinya, baik dari cuaca maupun spesies lain.

Kesadaran terhadap rasa aman memunculkan kesadaran yang lebih tinggi, yakni kesadaran berkumpul/berkelompok. Manusia mulai berkumpul dalam satuan-satuan komunal, bisa satu keluarga, dan kemudian berkembang menjadi komunitas. Mulailah manusia melakukan fase eksplorasi alam, karena tingkat kepercayaan diri atas rasa aman diperoleh setelah bisa berkumpul. Satu sama lain dalam satuan itu saling menjaga. Kita mengenal ada fase berpindah-pindah dalam rangka mengurangi resiko dan memenuhi kebutuhan pangan. Setelah itu kita juga mengenal fase menetap, setelah manusia mulai memiliki cara untuk produksi, fase bercocok tanam.

Dalam perkembangannya, kelompok manusia dengan kelompok manusia yang lain mempunyai produksi yang berbeda, ada yang bercocok tanam menghasilkan padi, ada yang budi daya menghasilkan ikan, ada yang mengolah peralatan-peralatan. Keterbatasan masing-masing kelompok, dan keinginan memenuhi berbagai kebutuhan menimbulkan kesadaran baru, yakni kesadaran berkoalisi, kesadaran bekerja sama antar kelompok. Disinilah kemudian sesrawungan yang di dasari oleh motif paling dasar terjadi, sesrawungan yang dilandasi oleh motif untuk melengkapi sumber daya yang tidak dimiliki. Orang saling bertukar barang, sampai kemudian terjadi pasar dan sistem keuangan.

Sampai di sini, kita paham bahwa ada motif dasar yang melandasi manusia saling berinteraksi atau sesrawungan. Ilmu modern menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk sosial, karena dia tidak bisa hidup sendirian. Tapi apakah sesrawungan hanya melulu bermotif pertukaran sumber daya yang dimiliki? Mungkin benar jika manusia dipandang hanya sebagai spesies yang jasadiah. Faktanya manusia tidak saja berdimensi jasadiah, ada dimensi lain, sebut saja dimensi ruhaniah. Dalam khasanah Islam manusia tidak saja sebagai basyar, tetapi insan.

Manusia sebagai makhluk yang berdimensi ruhaniah memerlukan interaksi/ sesrawungan dalam rangka proses memperbaiki diri secara terus menerus. Ibarat cermin, respon dari orang lain terhadap Tindakan kita adalah bayangan kita. Saat orang marah kepada kita atas perilaku kita, maka patut diduga bahwa perilaku kita mengandung ketidaknyamanan bagi orang tersebut. Adanya dugaan seperti itu membuat kita melakukan introspeksi dan perbaikan atas perilaku yang telah terjadi. Jadi, interaksi tanpa introspeksi adalah hal yang sia-sia.

Penyakit jasadiah efeknya dirasakan oleh sang pemilik penyakit. Saat kita terkena flu, maka kitalah yang mengalami gejalanya, efeknya. Penyakit ruhaniah justru sebaliknya, yang merasakan efeknya adalah orang-orang di sekitar kita. Orang yang pelit, sangat mungkin tidak merasa bahwa dia punya penyakit pelit. Orang-orang di sekitarnya yang merasakan efek pelit. Nah, sesrawungan diperlukan agar kita bisa mengukur Kesehatan ruhani kita dari respon orang-orang di sekitar kita. Jika respon orang-orang disekitar kita hangat, itu tanda ruhani kita sehat.

Jadi, memang betul bahwa manusia itu makhluk sosial, baik dari sudut pandang makhluk jasadiah maupun ruhaniah. Logis bukan ?