Ketika Cak Supri saja bisa berpuasa, berbuka dan kemudian punya kesempatan untuk berhari raya, kenapa tidak untuk semestanya Tuhan. Lingkup yang lebih besar dari apa yang telah Tuhan ciptakan. Inilah yang membuat saya malam itu bergumam sendirian di warung kopi yuk Jum. Yah, selain memang cak Supri sedang menjalankan puasa di bulan Ramadan layaknya seorang muslim taat seperti yang orang bilang, ternyata jika dilihat-lihat kembali, kehidupan yang sedang dia jalani selama ini justru merupakan bagian dari Puasa itu sendiri. Puasa yang sejatinya bukan hanya berlaku di bulan Ramadan setiap tahunnya. Puasa yang bukan hanya bermakna menahan lapar, haus, dan emosi seharian. Tetapi puasanya cak Supri bisa jadi telah berlangsung tahunan yang mungkin saja telah melewati 3 kali Ramadan sudah.

Layaknya orang yang berpuasa pada umumnya, malam ke-enam belas puasa Ramadan kemarin dia benar-benar telah merasakan berbuka dengan arti yang sesungguhnya. Bagaimana tidak, istri yang sangat dia cintai dan dia tunggu-tunggu kedatangannya kini sudah kembali ke istana kecilnya di belakang bangunan mushola. Entahlah mungkin ini juga bagian dari berkah Lailatul Qodar yang sedang Allah berikan atas kesabaran, ketaatan, dan keistiqomahan yang selama ini cak Supri tunjukkan ketika menjalani puasa di dalam hidupnya. Itulah yang sedang cak Supri coba ceritakan pada saya di malam itu di warung kopi. Kebahagiaan benar-benar sedang dia rasakan bersama anak-anaknya sekarang, walaupun saya tidak tau dan tidak ingin tau juga alasan kenapa mbak Nunik pada akhirnya kembali dan menemukan jalan pulangnya lagi yaitu bersama keluarga kecilnya. Tidak berhenti disitu, pada malam ke 21 Ramadan, cak Supri tiba-tiba mendapat tawaran menjadi sopir angkut barang di salah satu anak perusahaan rokok terbesar di wilayah tempat tinggal kami. Tawaran itu datang dari cak Prapto yang memang sudah lama kerja disana. Tidak tanggung-tanggung cak Supri bahkan langsung dikontrak selama 1 tahun. Melihat tawaran itu tentulah cak Supri mengambil kesempatan dan peluang tersebut.

Kini cak Supri tidak lagi sedang berbuka saja atas puasanya, tapi dia juga sedang berhari raya atas apa yang telah dia jalani selama ini. Hari raya yang mungkin selama dua tahun ini dia impikan, hari raya yang bahkan tak pernah dia sangka akan seindah dan seistimewah ini yang Allah sudah berikan pada hidupnya. Hari raya yang Allah kasih sesuai porsi masing-masing mahluknya, tidak berlebih dan tidak pula kurang dari takarannya. Hari raya dalam hidup saya memang belum begitu terlihat jelas seperti cak Supri sekarang, tapi jika saya anggap setiap hari adalah hari raya di hidup saya, lantas apakah saya salah? Bukankah setiap hari Allah pasti memberikan sumber bahagia kita masing-masing. Jadi, sembari saya tunggu Hari raya yang anda maksud, maka saya akan selalu berhari raya dengan apa yang Allah kasih pada saya setiap harinya.

Kali ini Allah benar-benar menunjukkan pada semesta bahwa puasa, berbuka dan hari raya tak hanya berlangsung setahun sekali, melainkan setiap proses hari, jam, menit bahkan detik dalam hidup adalah tatanan puasa, berbuka dan berhari raya dari masing-masing isi sang semesta. Bukan hanya Manusia saja yang mendapat risalah untuk berpuasa, melainkan semua mahluk dan bahkan semesta serta galaksi pun mendapat risalah yang sama. Coba cermati saja, kehidupan seekor ulat, dia mahluk rakus yang sering merusak tanaman, memakan daun-daun dari tumbuhan. Dilain sisi ternyata dalam hidupnya ulat dia juga memiliki fase untuk berpuasa, untuk meningkatkan kualitas hidupnya dia rela berpuasa. Dia memilih untuk mengasingkan dirinya, tubuhnya dibungkus di dalam kepompong menahan hawa nafsunya untuk memakan dedaunan. Hingga kemudian sekitar 2 minggu dia akan mampu keluar dari tempat pengasingannya dan kemudian Allah merubahnya menjadi mahluk baru yang bertransformasi, memiliki bentuk yang lebih indah sebagai seekor kupu-kupu. Tabiat dan sifatnya pun ikut berubah, dia yang semula memakan dedaunan dengan sangat rakus sekarang menghisap madu dan membantu proses penyerbukan pada tanaman-tanaman yang berbunga. Inilah hari rayanya dari seekor ulat, Bahagia karena kualitas hidupnya yang telah berubah dan jauh lebih baik setelah metamorfosis yang didapatnya.

Selain itu bukan ulat saja yang berpuasa untuk meningkatkan kualitas dalam hidupnya. Ternyata, Pohon kedondong pun rela menggugurkan daunnya di musim kemarau, agar dia bisa memperbaiki kualitas hidupnya. Sehingga kemudian ke depannya dia bisa memperoleh dahan, ranting dan batang yang lebih kokoh. Dari sinilah makna sesungguhnya puasa, berbuka dan berhari raya kita bisa dapatkan. Bahwasanya makna puasa, berbuka dan berhari raya tak menjadi sesempit itu jika kita ingin memahaminya. Setiap manusia akan memiliki fase berpuasanya masing-masing. Hingga mereka berhak atas berbuka singkatnya kemudian puasa kembali lalu berbuka kembali hingga pada akhirnya mereka sadar bahwasanya setelah Hari raya yang didapatnya akan datang lagi puasa yang lain dalam hidupnya. Ini lah cara Tuhan mencintai kita. Sepanjang apapun puasa kita dalam hidup, akan semakin mencinta dan merindu kita pada sang maha pencipta seharusnya.

Sarjana Sastra, lahir dan tinggal di Pasuruan jawa Timur.