Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak akan dapat terlepas dari suatu problem. Permasalahan yang kita hadapi pun bermacam-macam dan memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Sebuah pepatah mengatakan semakin tinggi pohon tumbuh, angin yang menerpa akan semakin kuat. Pepatah tersebut relevan dengan realitas yang kita alami. Pasalnya semakin tinggi kualitas diri kita semakin banyak dan sulit tantangan yang dihadapi. Seperti seorang siswa yang menghadapi ujian akhir semester akan menemui tingkat kesulitan yang berbeda untuk naik kelas yang lebih tinggi.

Dalam kehidupan kita juga tidak akan lepas dari persaingan. Persaingan ini tidak hanya dalam kompetisi untuk mendapat suatu piala atau penghargaan saja. Namun persaingan yang kita hadapi adalah dari rekan atau orang yang ada disekitar kita sendiri. Kita berkompetisi untuk memperebutkan eksistensi dan citra dari masyarakat. Misalnya kita seorang sarjana, maka kita harus membuktikan gelar kita tersebut dengan bertindak dan berucap sebagai orang yang berpendidikan. Kita tidak boleh terbawa arus realitas yang terjadi dalam masyarakat. Kita harus dapat melawan konsepsi umum yang kurang tepat dan membawa konsepsi yang lebih bermanfaat dan memiliki nilai keuntungan bersama. Hal tersebut senada dengan yang dikatakan oleh Emha Ainun Nadjib (Cak Nun atau Mbah Nun) bahwa hidup itu melawan arus, hanya sampah dan kotoran yang ikut arus.

Budaya tanding secara umum dapat diartikan sebagai kompetisi dalam kehidupan. Karena realitas yang terjadi memang mengharuskan kita berkompetisi, maka kita tidak dapat menghindari pertarungan dalam kehidupan. Pertarungan tidak sebatas dengan orang lain, namun pertarungan yang lebih berat adalah melawan diri kita sendiri. Pertarungan melawan diri sendiri lebih melelahkan karena musuh yang kita hadapi ini tidak tampak secara empiris, namun nyata adanya. Kita bertarung dengan pikiran dalam kepala kita, bertarung dengan keinginan kita, dan bertarung dengan hasrat atau hawa nafsu kita sendiri. Pertarungan semacam ini akan membuat kita lelah dan kadangkala terbawa arus nafsu kita. Maka dari itu kita harus mampu mengendalikan diri kita agar mampu menetralisir dan mengatur keinginan tersebut.

Pada dasarnya terdapat metode dalam mengontrol diri tersebut. Salah satunya adalah memahami posisi dan situasi kita dalam pertarungan tersebut. Kita memahami posisi kita sebagai seorang yang sedang diuji oleh berbagai macam keinginan tersebut, maka jika kita sadar dengan hal itu kita pasti mampu mengendalikan diri kita. Kita memahami situasi yang terjadi dalam diri kita dengan cara selalu melakukan evaluasi diri secara berkala. Kita akan mampu mengontrol diri salah satunya melalui dua hal tersebut. Selain itu, kita dapat menerapkan metode kendali diri melalui puasa. Puasa disini maksudnya adalah mengendalikan apa yang terjadi dalam diri kita, bukan puasa menahan lapar dan dahaga. Islam pun mengajarkan kita untuk puasa agar dapat mengendalikan diri.

Pertarungan dengan diri sendiri mungkin akan lebih bisa diminimalisir dengan metode yang kita terapkan di atas karena berkaitan dengan diri kita sendiri. Namun pertarungan dengan orang lain akan memunculkan variabel yang beraneka ragam. Kita tidak menerapkan pola yang linier yaitu antara diri kita dengan orang yang sedang bersaing dengan kita. Kita juga harus memperhatikan faktor lain yang berkaitan dengan lawan kita. Misalnya dalam menghadapi orang yang tidak suka dengan kita, kita jangan sampai menyerang secara frontal atau mengcounter orang tersebut secara terbuka. Kita sebaiknya memainkan cara cantik dalam menghadapi orang seperti itu. Kita dapat menerapkan metode self control dengan selalu menimbang dan mengatur strategi sehingga orang yang tidak suka dengan kita bukan menjadi benci namun akan berbalik menjadi teman kita, karena sejatinya orang yang membenci kita sebenarnya memantau apa yang kita lakukan seakan perhatian dengan apa yang kita kerjakan.

Maka dari itu self control atau pengendalian diri adalah salah satu jalan dalam menghadapi budaya tanding atau kompetisi hidup. Self control akan membantu kita memenangkan pertarungan dalam arti menerapkan strategi yang akurat dan tepat untuk menghadapi berbagai tantangan dan persoalan. Sejatinya setiap masalah yang kita hadapi sudah ada solusinya sebagaimana dalam surah al Insyirah ayat 6.

Mahasiswa UIN Walisogo Semarang semester empat, berasal dari Grobogan, sejak dari MA kelas tiga mengikuti maiyah sampai sekarang.