Mukadimah Gambang Syafaat 25 Juni 2022

“Iki deloen Bu, anak-anak njenengan rembugan.” Itu disampaikan oleh Mbah Nun di panggung Maiyahan. Waktu itu Mbah Nun menyuruh anak-anak naik ke atas panggung. Mereka berembuk menentukan nama kelompok, atau persoalan sederhana yang diajukan oleh Mbah Nun. Lalu Mbah Nun melanjutkan. “Urip iki kaya ngene iki Bapak-Ibu. Rembugan.”

Salah satu yang ditekankan dalam Maiyahan adalah rembugan atau diskusi untuk mendapatkan titik temu. Sampai ditemukanlah kebenaran kolektif kebenaran untuk bersama. Dalam hidup bersama, sesrawungan, bebrayan agung, rembugan ini tidak bisa dielakkan. Seorang pemimpin harus menyediakan ruang dialog dengan rakyatnya. Ia harus memiliki kebesaran hati mendengar suara dari bawah. Beda jika ia menjadi penguasa, ia menguasai, ia tidak perlu mendengar bahkan menutup telinga sendiri atau menutup mulut yang menyuarakan suara lain.

Keputusan untuk hidup bersama setelah mendengar arahan dari Allah adalah rembukan. Karena jika tidak rentan terjadi penindasan.

Sayang sekali kita tidak diajarkan untuk rembugan itu. Anak-anak kita justru diajari untuk debat maka ada lomba debat dan tidak ada lomba rembugan. Berdebat itu yang dicari adalah benarnya sendiri, paling besar adalah benarnya kelompoknya bukan kebenaran bersama.

Pemilu seharusnya dan sebenarnya adalah rembukan nasional untuk memilih pemimpin tetapi yang terjadi menjadi transaksi yang jual beli jabatan.

Pada suatu kesempatan Mbah Nun pernah menulis berjudul Tandhak (Gatra, 11 April 1998). Tandhak adalah penari. Ia menari sesuai irama yang diatur oleh pengendang. Jika pengendang menginginkan sang tandhak menari dan berperan sebagai cakil maka sayang tandhak akan juga bergerak sebagaimana cakil meskipun sebenarnya jiwanya lembut. Jika sang pengendang memukul gendangnya irama Arjuna maka sang tandhak juga akan menari lembut meski mungkin tidak sesuai karakter aslinya. Sang tandhak akan menari sesuai keinginan pengendang karena dia mengharapkan tepuk tangan. Lalu sang pengendang akan beralih ke penari yang lain sehingga sang tandhak bingung mau bergerak seperti apa.

Pengendang bisa berwujud apa saja. Bisa para pemilik media, bisa juga beralih rupa menjadi medsos. Untuk itu kita harus jeli apakah kita sedang digendong? Kita harus mandiri berdaulat. Budaya memperalat ini bukan budaya Maiyah. Budaya kita budaya rembukan agar terjadi harmoni. Kita semuanya subjek. Antara pengendang dan tandhak bergerak bersuara satu hati.

Forum Silaturahmi Masyarakat Maiyah Semarang.