Ramadan adalah limpahan berkah bagi umat manusia. Ramadan menjadi momentum rahmatan lil alamin paling nyata dengan vibes yang terasa berbeda. Ayat-ayat suci dilantunkan sedemikian sering dan terkoordinasi di belahan bumi mana pun saja, amalan wajib dan sunah dilaksanakan dengan gembira. Kalau pun pada hakikatnya tidak menyukai berlapar dahaga, ada dorongan untuk mengolah keinginan menjadi kerelaan. Sebab puasa hakikatnya adalah mengendalikan diri dari kerakusan terhadap apa pun yang dapat kita ambil untuk mengenyangkan atau pun menyenangkan nafsu. Sekaligus berlatih untuk ridha pada kehendak Allah, yang puncaknya melakukan ibadah atas nama cinta. Dan, alangkah tahu diri jika tak menghitung pahala atas sedikit amalan di dunia sebab Allah sudah pasti rahman sudah pasti rahim.

Betapa tak terkalkulasi keberkahan yang Allah beri kepada orang-orang beriman yang dikehendaki-Nya. Kita jadi ringan bersedekah, menunaikan zakat dan shalat sunah, dzikir panjang mengingat Allah sembari mengekang ribuan keinginan yang mungkin saja berlebihan. Betapa murah hatinya Allah, menganugerahkan karunia dalam hidup bahkan capaian secara spiritual di mana kesadaran atas kehidupan manusia tak akan kemana-mana selain kembali ke muara sang Pencipta. Bila kesadaran itu menyentuh dasar ruhani, efeknya membawa bergeseran perilaku menjadi lebih arif, lebih legawa dan bijaksana.

Sesudah menjalani ritus penyelamatan diri selama ramadan dari luar biasa ndableg-nya kita pada tapal-tapal batas dosa, atau sekurang-kurangnya rasa malu, kita akan ditinggalkan bulan penuh rahmat ini. Ramadan yang menjadi suaka bagi setiap ingsan dalam proses mencapai takwa akan segera berlalu. Suasananya terpatri dalam ingatan, serta harapan tahun berikutnya masih diperkenankan menikmati kehangatan ramadan. Lalu kita disibukkan uforia lebaran. Semangat menyambut hari kemenangan. Antusiasme luar biasa atas hadirnya hari pembebasan dari larangan makan minum di siang hari. Sebuah ritus pencapaian atau kemenangan atas latihan mengendalikan syahwat-syahwat duniawi. Sebuah momen manusia kembali kepada fitrahnya; sebagai manusia. Terlepas apakah puasanya diterima atau tidak, tulus atau palsu bahkan sia-sia.

Idul fitri; sebuah kesempatan kedua untuk saling menyadari kekeliruan diri, dengan kerendahan hati meminta maaf dan memaafkan. Sekaligus budaya memperbaiki hubungan antar sesama. Sungkem kepada orangtua, kepada guru-guru dan silaturahim siapa pun saja yang bersinggungan dengan hidup kita. Dengan harapan, kita memulai start yang baru, sebagai manusia dengan perilaku baru yang lebih baik dan benar, menjalani kehidupan sarat makna dan penuh hikmah.

Di akhir-akhir ramadan, amat terasa betapa rindunya kita pada Allah yang menghendaki keberadaan kita di alam fana ini. Ternyata segala gemerlap dunia tidaklah semegah kerinduan pada Dzat-Nya yang maha welas asih. Juga kerinduan pada Kanjeng Nabi Muhammad SAW, yang bila tanpa penciptaan Nur Muhammad, maka tak akan ada kehidupan manusia. Shalallahu ‘ala Muhammad. Seyogyanya kehadiran ramadan kita syukuri, kita nikmati, kita raih hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. Sebab ramadan adalah portal transformasi manusia untuk paham, setidaknya lebih dekat dengan firman-firman Allah yang terkandung dalam mushaf Al Qur’an, peduli kepada yang papa, dermawan kepada fuqara wal masakin, dan seterusnya. Karena setiap individu mengalami hikmah wal hidayah berbeda. Semoga, koneksi kita dengan Allah, dengan Rasulullah, dengan Al Qur’an dan ibadah-ibadah sunah tetap terjaga hingga akhir hayat. Aamiin.

Ramadan dan segala rahmatnya membebaskan manusia dari rasa keakuan sekaligus menyadari setiap kesalahan memiliki kesempatan untuk diperbaiki. Melepaskan dendam, kemarahan, kecewa, su’udzon, hasad, hasud, ghibah, wa namimah wal buhtan ‘ala lisan. Berganti dengan husnudzon, rela, memaafkan, lapang hati dan ikhlas. Pada momen idul fitri, segala perasaan yang mengganjal dilepaskan. Sehingga jalan ke depan terasa ringan, terasa lapang dan semoga dengan begitu berdatanganlah kebaikan melimpah-limpah. Meski hidup tak pernah mudah, setidaknya kita dilatih untuk mengendalikan apa yang mampu kita kendalikan, dimulai circle terdekat. Minal ‘aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Wong Tai Sin 23 April 2022

Saya lahir dan besar di Blitar, pertama kali menulis pada 2017 biasanya opini dan fiksi ilmiah, fantasy, flash fiction dan puisi.